
Hana memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir kafe de'Amor. Berdiam diri sejenak, ragu untuk meneruskan niatnya. Ia berniat untuk mengganti uang belanjaan yang kemarin yang kemarin dibawakan Randy, meski ia tak menyangka.
"Bismillah. Semoga urusan cepat kelar, dan aku segera pergi dari sini." gumamnya pelan. Jujur, ia enggan menginjakkan kaki lagi kesini.
"Hei, Hana. Gak salah lihatkah aku?" baru saja melangkah, seseorang menegur Hana.
"Mas Panji, ih. Kayak liat apa aja. dari mana, mas?"
"Aku liat kamu kayak liat bidadari turun dari surga. Ah, kapan ya aku punya bidadari yang bisa kupeluk!" Panji malah ngelantur gak karuan. "Ah ya, aku belum jawab pertanyaanmu, Bidadari. Aku barusan dari surga, nyari nyari bidadari disana gak ketemu, aku pikir pada ngeluyur kemana ya, para Bidadari itu. Eh, tak taunya salah satu ada didepanku sekarang, tak tahu lainnya pada kemana."
"Mereka pada lagi bobo cantik, mas. Ya ampun, ngegombal mulu dari tadi, ih. Bidadarinya Mas Panji pasti klepek klepek deh kalau digombalin kayak gini. " Panji tertawa tanpa suara, Hana pun tertular ikut tertawa.
"Sayangnya, belum nemu bidadari yang cocok dihati, Neng Hana. Cariin dong, duplikatnya Neng Hana, yang cantik and solehah macam Neng Hana! " curhat Panji yang dibumbui canda.
"Sayangnya aku gak punya duplikat, mas Panji. Emang kunci, ada duplikatnya? Kalau nyari yang solehah, aku saranin deh mas Panji datang ke pondok pesantren, temuin Ustadz atau Kyai-nya, bilangin nyari istri saleha. Auto dicariin gadis salehah. Tapi dengan syarat mas Panji harus jadi saleh dulu, suruh mondok dulu mungkin, ditimbang kadar kesalehannya mas Panji, lalu dicarikannya yang paling cocok dan imbang sama mas Panji."
"Oh, gitu ya. Mmm, kayaknya boleh dicoba nih, saran kamu." ucap Panji setelah sekian detik berpikir. Muka Panji terlihat serius.
"Canda mas Panji, yaelah. Serius amat. "
Keduanya tertawa lagi.
"Tumben nih, ada perlu dimari, mau ada perlu sama Randy? Mau dipanggil kan Randy?" cerocos Panji akhirnya menawarkan bantuan.
"Iya. Aku memang ada perlu sebentar sama dia, Mas. Tolong ya, panggilkan! Aku tunggu disini, ya."
"Yaelah, gak disini juga kali, Han. Ayo kesana, biasa tempat kamu mangkal kalau datang." setengah memaksa Panji mengajak masuk Hana.
" Tapi gak perlu lah aku kesana, disini aja ya, mas. Please, aku cuman perlu beberapa menit saja, janji gak sampai sepuluh menitan. Cepat panggilkan sekarang gih!"
"No, aku gak mau kalau kamu gak masuk dulu! Kayak tukang seles nagih kredit panci aja, cuman duduk diteras. Lagian si Randy pasti marah, kalau gak suruh lo masuk." protesnya sembari bersedekap tak bergeming dari tempatnya berdiri walau Hana mendorong tubuhnya.
"Iih, maksaan amat sih, kalian tuh sebelas duabelas deh. Mangkanya cocok jadi asistennya. Ya udah, cepat pergi panggil sana" Hana mengalah.
"Nah, gitu dong!"
Hana tak merespon dan mengikuti Panji ke tempat biasa ia duduk dulu. Di sebuah ruangan yang lebih privasi, karena ada dinding sebagai sekat dari pengunjung lain.
"Bro!"
" Hmm! " Randy sedang makan siang sembari melihat hapenya saat Panji masuk.
Brakk...
"Njing Lo, bisa keselek gue!." Panji malah tertawa tawa senang melihat Randy mendelik kesal sembari minum air putih.
"Coba tebak, siapa yang datang?"
Randy berpaling, menatap lagi sekian detik Panji yang nyengir.
"Siapa?"
"Gue suruh Lo nebak, gak paham apa?"
"Shittt! Gak usah teka teki Lo, Main tebak tebakan pula. Siapa emangnya! " Panji berkelit saat Randy ancang ancang mengangkat ke udara sendok di tangannya. Hampir melempar tapi urung. Kedua orang itu memang bagai anjing dan kucing. Panji masih cengar cengir belum mau memberitahu Randy.
Randy menusuk dengan garpu seiris omelet, lalu mendekatkan ke mulut Panji. Namun saat Panji mangap, Randy menaikkan garpu dan menyentuhkan omelet ke hidung Panji.
"Sia_laaan, Lo emang ngeselin, sumpah. kalau bukan Bos, gue pecat Lo! " umpat Panji, meraih tisu dan membersihkan hidung.
"Emang ada, asisten mecat Bos?" Randy terbahak.
"Gue kan, bilang kalau bukan Bos." melempar tisu bekas ke tempat sampah.
"Hana nyariin Lo tuh didepan. Gih buruan samperin!"
Randy terbatuk batuk, kaget dengan apa yang Panji beritahukan.
"Lo gak usah canda deh, gak lucu tahu! "
"Eee, ini dikasih tahu malah minta tempe. Yaudah gue suruh dia balik aja deh." Melihat Randy terbengong, Panji berdiri mau berbalik. Sudah berjalan tiga langkah menuju pintu.
"Tunggu, Lo betulan? Hana... ada didepan? "
"Lah, lo pikir?"
"Bilang dong dari tadi, ah! "
Panji menepuk jidatnya.
"Ampun dah punya temen. Untung Bos."
Randy langsung meneguk habis airnya dengan cepat. Lalu setengah berlari melesat dari ruangannya. Semangat 45. Dengan sengaja saat melewati Panji ia menabrak bahu cowok itu. Berhenti, lalu berbalik.
"Muuuaacch!" Randy kiss bye ditujukan pada Panji yang langsung begidik.
"Hiii, jijay, sia_lan."
"Inget istri dirumah, woy! "
"Dasar Gila!"
"Sinting!"
"Bucin akut!"
"Parah." Panji terus saja mengumpat. Yang diumpat sudah menghilang dibalik pintu.
Hhh, ada ada aja kelakuan orang yang lagi kasmaran. Sayangnya, cintanya belum kelar.
"Han! " Sapa Randy membuat Hana langsung mendongak dan berdiri.
"Assalamu'alaikum, Kak! "
__ADS_1
"Waalaikum salam! Maaf, lama nunggunya?" Randy mengambil duduk di hadapan Hana, terhalang meja. Lalu menatap gadis itu penuh kerinduan.
Ah, andai waktu bisa berputar kembali, aku ingin mengubah pilihan, dan artinya saat ini aku dan Hana sudah menikah dan hidup bahagia.
"Belum lama juga, kok."
"Maafkan sikapku kemarin ya, aku lepas kontrol. Aku..."
"Sama sama, Kak. Aku juga minta maaf, aku juga sama, terlalu emosi kemarin. " Hana memotong penjelasan Randy.
"Mmm, langsung aja, aku kesini mau mau ngembaliin uang Kak Randy yang kemarin buat bayarin belanjain aku. Makasih udah ditalangin dan diantar sampai rumah. Walaupun, harusnya itu tidak perlu." Hana merogoh tas, lalu mengeluarkan dompet dan menarik beberapa lembar uang berwarna merah. Semua tak luput dari pengamatan Randy.
"Ini, lima ratus ribu, buat mengganti uang kak Randy kemarin. Cukup gak, Kak?" Hana menyorongkam uang itu diatas meja tepat dihadapan Randy. Tapi Randy menggeser uang itu di hadapan Hana kembali.
"Itu gak perlu, Han. Aku ikhlas ngasih ke kamu."
"Terimalah, Kak. Jangan buat aku merasa berhutang budi." Menggeser uang lagi dihadapan Randy.
" Tapi, aku beneran ikhlas, Han. Jangan merasa terbebani oleh budi." menggeser uang ke hadapan Hana lagi.
"Tapi aku tak mau memerimanya."
"Ini tak seberapa, jika dihitung dengan materi, aku tahu sakit hatimu tak bisa ditukar dengan apapun."
" Perlu Kak Randy tahu, rasa sakit itu tak bisa dibayar dengan materi."
"Aku tahu kak Randy kaya, bisa memiliki apapun barang yang Kakak inginkan."
" Tapi kenyataannya aku tak bisa milikin kamu. Padahal aku sangat ingin melakukannya."
"Jangan ngaco deh, Kak. Aku bukan barang. Yang bisa dibeli dengan uang lalu dibawa pulang. Udah, aku gak mau bahas itu lagi, lebih baik tutup lembaran lama. Sekarang buka lembaran baru hidup kita masing masing. Terimalah uangnya, atau aku akan marah selamanya." ancam Hana agar Randy mau menerima uang itu. Randy menghela napas, memandang uang dihadapannya dengan tatapan nanar.
"Kalau begitu, urusan kita sudah selesai. Sekali lagi terimakasih dan maaf. Saya mau pulang sekarang. Saya banyak pekerjaan hari ini yang harus saya selesaikan." Hana berdiri, Randy ikutan berdiri.
"Tunggu Han. Sekali lagi aku juga minta maaf."
"Aku udah lama memaafkan Kak Randy jauh sebelum hari ini. Aku anggap kita memang tak berjodoh." ludah yang Hana telan terasa pahit, hatinya nyeri dan terasa sakit saat mengatakannya.
"Kalau begitu, bisakah hubungan kita bisa normal seperti dulu lagi? Kita bisa berteman lagi?" tanya Randy penuh harap, namun langsung hilang asa itu tatkala melihat Hana menggeleng mantap.
"Maaf, sepertinya tak mungkin, Kak. Bukannya saya tak mau berteman. Tapi, ibarat kaca yang udah retak, takkan bisa utuh seperti semula."
"Dan lagi tak patut laki laki dan perempuan berteman, apalagi kita pernah ada rasa, sangat dekat, dan hampir.... ah sudahlah. Saya mau pulang. Assalamu'alaikum. "
Angan dan asa yang sudah sempat melambung tinggi, kini terjungkal dan terjatuh diatas karang yang terjal.
Akhirnya Randy membiarkan Hana pulang, melihat punggung gadis itu yang mengayun langkah menjauh.
"Waalaikum salam."
"Woi, Bro!" Randy mendengus saat seseorang menarik pundaknya dan berseru. Bermenit telah lalu, Hana sudah meninggalkan kafe, tapi Randy masih bengong ditempatnya berdiri.
"Udah, dianya dah ngilang. Lo ngeliatin apa?" Randy berlalu begitu saja dengan wajahnya ditekuk, tanpa menjawab pertanyaan Panji dengan raut antara sedih dan kecewa.
"Yaelah, dasar bucin akut. Mengsedih, untung gue waras, ternyata cinta bikin gila. Kasian juga sih sebenernya. Tau ah, pusing gue."
"Bro, ini uangnya gue taruh dimeja!" ucapnya pelan, menindih uang dengan gelas yang ada diatas meja, lalu berlalu dari ruangan itu.
"Nji! " saat sampai didepan pintu terdengar Randy memanggilnya.
"Ya, ada apa Bro! " ia mendekat kembali.
"Uang itu, belikan aja jajanan atau apa kek, terus bagikan sama seluruh karyawan sini." Panji mengangguk, ia tak berani mencandai Randy disaat seperti ini. Wajahnya terlihat menyedihkan.
"Ya, baiklah. Istirahat aja, Bro. Gue tahu Lo pasti kuat." menepuk bahu Randy sebelum berlalu.
###
Hari hari terus terlewati, setelah kejadian dijembatan. Salman intens menemui Hana dirumah, atau mengajak makan malam diluar. Untuk makan malam, dengan halus Hana selalu menolak. Hingga Salman mengalah, dan mereka makan malam dirumah. Hubungan Salman dan Hana sebenarnya biasa saja. Hanya saja ia getol mendekati ibunya Hana. Dan gayung bersambut. Bu Mira terpikat dengan sifat dan sikap sopan Salman.
"Ibu yakin Salman suka sama kamu, Nduk! "
"Bu! "
"Sudahlah, kamu harus berusaha membuka hati, Salman anak yang baik. Tresno jalaran soko kulino, Nduk. Semakin lama kalian sering bersama, rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya." Bujuk sang ibu begitu mantap. Mereka duduk berdampingan dengan tangan bu Mira di paha Hana. Hana lalu merebah dipangkuan ibunya, mendongak, menatap wajah sang ibu yang terlihat keriput disana sini.
"Atau, shalat istikharah dulu, Nduk! " sahut sang Ayah yang asyik dengan laptopnya. Hana menoleh pada lelaki yang paling ia cinta dimuka bumi ini, ternyata sang Ayah juga menguping pembicaraan.
"Duh, ibu sama Ayah ini yakin banget sih. Aku loh sama Mas Salman cuma temenan, Yah, Bu. Biasa aja deh, Hana belum mau deket sama cowok lagi. Masih ingin fokus mengembangkan usaha Hana."
"Oiya, Yah, Bu. Hana punya rencana! " Hana bangkit dari rebahan, kini sang ibu mengelus rambut anak semata wayangnya itu.
"Hana mau izin. Halaman sama samping rumah 'kan masih cukup luas tuh, gimana kalau Hana bangun semacam toko disitu, Biar gak ganggu dapur ibu." Pak Hadi dan Bu Mira saling pandang.
"Yakin kamu, Nduk? Apa modal kamu udah ada? Ayah akan bantu, tapi mungkin gak seberapa.
" Insya Alloh. Hana sudah kalkulasikan semuanya. Sudah memperkirakan berapa kisaran biayanya, mulai dari pekerja, sampai material yang dibutuhkan. Kalau tak ada yang kelewatan, Insya Allah cukup, Yah, Bu! "
"Subhanallah, anak Ayah mandiri banget. Maafkan Ayah sama Ibu, ya! Punya anak satu aja, Ayah gak bisa ngasih materi lebih. Malah anak Ayah ini harus banting tulang dan mandiri. Harusnya, Ayah dan Ibu sedikit memanjakanmu." Pak Hadi mendekat, mereka duduk disofa bertiga, dengan Hana ditengah. Pak Hadi ikut merangkul Hana. Ikut merasa bangga dengan capaian anaknya. Sekaligus sedih, sebagai Ayah, ia merasa belum bisa berikan hal yang terbaik buat anak dan istrinya.
"Gak apa apa, Yah. Hana bangga kok jadi anak kalian. Secara materi kita memang kurang beruntung. Tapi, kasih sayang yang Kalian berikan sangat melimpah untukku. Hana bahagia menjadi anak Ayah dan Ibu. " suasana haru menyelimuti hati ketiga orang yang sedang bersantai petang itu. Bumi yang sedang diguyur hujan cukup deras membuat makin syahdu. Walau dalam percintaan Hana kurang beruntung, namun tak membuat hatinya sedih berlarut larut. Dukungan dari Ayah dan Ibunya adalah salah satu penyebabnya.
"Tapi, Nduk, Ayah punya saran, andai kamu merealisasikan keinginanmu itu habis menikah gimana?"
"Ya Ampun, calon aja belum ada. Gimana mau nikah duluan. Mengada ngada Ayah ini. " Hana tertawa kecil, menertawakan saran sang Ayah.
" Lah tadi itu, bukannya kalian membahas Salman?"
"Ayah setuju juga, kalau anak kita sama Salman?" Bu Mira angkat bicara.
"Tergantung, Bu! "
"Tergantung gimana?"
__ADS_1
"Ya tergantung gimana Hana. Anak kita yang bakal menjalani, biarkan dia memilih pasangan. Asal masih satu lajur jalan dan keyakinannya sama kita, Ayah setuju saja siapapun dia yang anak kita pilih! " Hana merasa geli mendengar percakapan kedua orang disisi kanan dan kirinya itu.
"Heh, kok malah ketawa?" atensi keduanya tertuju pada Hana.
"Kalian tuh lucu, Yah, Bu. Orang yang kita bicarain itu belum tentu suka sama Hana, kalian sudah memperdebatkan nya."
"Itu sih karena kamu gak peka aja!Jangan ngetawain kita yang udah makan asam garam kehidupan ini. Ibu tahu yang tulus dan enggak, ibu tahu yang baik sama yang enggak baik. Ibu tuh...."
"Udah, stop debatnya. Tuh denger ada adzan maghrib 'kan? Mumpung lagi hujan, Ayah ada alasan gak ke mushala. Lagi pengen shalat dirumah. Kita jamaah bertiga, Yuk! " ajak sang Ayah melerai yang berdebat. Anak dan istrinya itu kompak mengangguk.
"Ayo! "
"Ayo! "
"Sayang Ayah! "Hana mengecup pipi pak Hadi yang langsung sumringah wajahnya.
" Ibu enggak, nih?"
Cup!
"Sayang Ibu juga! " lalu Hana melangkah lebih dulu untuk wudhu, sebelum menunaikan kewajibannya.
###
Malam telah larut dan menunjukkan pukul 11 malam. Sisa sisa air hujan meninggalkan genangan air, tanaman yang basah dan udara yang cukup dingin.
Randy duduk di kursi balkon kamarnya, meninggalkan Yuri yang tengah terlelap. Menatap sang rembulan yang timbul tenggelam karena tertutup awan.
Undangan pernikahan.
Ya, ia sedang menatap undangan pernikahannya dengan Hana sembari bertopang dagu, Undangan yang belum dan gak akan jadi disebar. Terdapat foto prewed antara dirinya dan Hana. Duduk di bandulan atau ayunan dengan mengenakan baju serba putih yang melambangkan kesucian dan kebersihan cinta. Hana menggenggam buket bunga mawar merah. Keduanya tersenyum bahagia dengan senyum lebar tanpa beban.
Kamu sedang apa Hana, apa kau bisa tidur lelap? Pintu hatimu benar benar tertutup untukku. Kamu membenciku? Ada sorot penuh luka yang terpancar dari tatapanmu, aku bisa apa, Han.
"Sssssh, sakit!" Yuri terbangun karena merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit dan ngilu. Tubuhnya terasa lelah meski ia beristirahat sepanjang waktu.
Hikks, apa waktuku sudah tak banyak lagi, aku menyerah Ya Allah. Aku pasrah, daripada merasakan sakit seperti ini. Seluruh tubuhku sakit semua. Sakit, batinku juga hikks...
Yuri melihat memar di lengan kirinya, seperti itulah tiba tiba bagian tubuhnya terdapat lebam seperti habis kena smackdown. Badannya juga sering menggigil walau ia berselimut dengan selimut nan tebal. Perlahan ia duduk, karena tak menemukan Randy disampingnya. Dari tempat duduknya ia bisa melihat Randy mematung diluar, membelakanginya,
Kenapa sekarang aku menyesal memaksakan kehendakku pada Bang Randy, padahal aku tahu cintanya hanya untuk Hana. Aku berharap bisa sembuh dengan dia disampingku dan supportnya, tapi kenyataannya malah aku melihat dia sakit.
Bang Randy, kamu sakit. Maafkan aku.
Dinginnya angin malam ini..
Menyapa tubuhku..
Namun tidak dapat dinginkan panas nya..
hatiku ini..
Terasa terhempasnya Kelakian ku ini..
Dengan sikapmu..
Apakah karna aku..
insan kekurangan..
Mudahnya kau mainkan..
Oh mungkin kah diri ini..
Dapat merubah buih..
Yang memutih..
Menjadi permadani..
Seperti pinta..
yang kau ucap..
Dalam janji cinta..
Juga mushtahil bagiku..
Menggapai bintang di langit..
Siapalah diriku..
Hanya insan biasa..
Semua itu ..
Sungguh aku ..
Tiada mampu..
Salah aku juga..
karna jatuh cinta..
Insan seperti dirimu seanggun bidadari..
Seharusnya aku..
Cerminkan diriku..
Sebelum tirai hati..
Aku buka..
__ADS_1
Untuk mencintaimu..
"Bang Randy! " surat undangan berjenis kertas art paper itupun terjatuh di kaki Randy yang terkejut mendapat panggilan.