HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 43


__ADS_3

Hana.


Tok tok tok...


"Assalamu'alaikum, Hana!"


"Hana!" suara dua orang gadis yang sangat aku kenal, segera ku berlari menuju pintu depan.


"Kalian, waalaikum salam. Darimana? Gak kerja?"


"Kita sengaja bolos demi lo. Solidaritas gue sama Citra sebagai sohib lo." Aku menatap bergantian kedua temanku.


"Lo berdua, tahu dari mana?" tanyaku menyelidik, aku berpikir bagaimana kejadian semalam sudah bikin mereka tahu. Padahal tadi malam tak ada sesiapapun, hanya Ayah dan Ibu, serta bunda Hilma dan pak Herman.


"Pokoknya tahu lah!" Citra.


"Lo gak nyuruh kita masuk? Pegel nih kaki, ditoko banyakan berdiri, disini gak dikasih duduk juga! Tega lo ya sama kita bedua!" Putri.


" Bengkak nih betis gue lama lama kebanyakan berdiri kayak kaki gajah." Citra. Tanpa dipersilakan mereka ngeloyor menuju sofa, dan duduk disana dengan enjoy, meregangkan tangan dan memutar pinggang. Begitulah selalu kedua sahabat aku. Tingkah mereka sudah seperti di rumah sendiri, tapi aku suka. Membuat bibirku sedikit tersungging.


"Duuh, tuh mata sampe bengkak gitu, lo pasti sehari semalam nangis maraton ya? Kasihannya temen gue!" kutepis tangan Citra yang lebih dekat denganku, tapi ia malah memelukku.


Si Putri tak mau kalah, ia bergeser ke samping kiriku dan ikut memeluk.


"Berpelukan...!"


" Tinky Winky...!"


" Lala...!"


" Poooh!" kami berpelukan erat selama beberapa saat. Aku melepaskan diri setelah engap dihimpit mereka berdua. Aku butuh oksigen.


"Gerah, ah."


"Hehehe.. " Citra dan Putri cengengesan.


"Eh, lo gimana ceritanya? Ikut gemes deh gue sama si Randy. Lagaknya aja alim, kirain sejodoh, sejalan dan sepenanggungan sama ustadzah kita ini, nyatanya...awwwh." ku melihat Putri mencubit pundak Citra agar dirinya diam.


"Apa sih!"


"Apapun yang terjadi sama elo, kita tetap di belakang elo, mendukung elo. Percaya sama kita," aku merasa terharu, akan kesetiakawanan Citra dan Putri, walau terkadang mereka juga sering bikin aku sebal.


"Makasih, ya. Gue beruntung punya teman kalian. Ada disaat gue butuh."


"Itu gunanya sahabat, Han!" Putri.

__ADS_1


"Iya, gue tahu. Mungkin dia memang bukan jodoh gue, gue gak mau ada diantara mereka berdua, yang akan menanggung sakit tentu saja gue, juga gadis itu."


####


"Terimakasih, Hana. Udah mau memenuhi undangan kami."


Kini, Hana duduk berhadapan dengan Bunda Hilma dan juga Randy yang sedari tadi berwajah sendu, tak ada senyum menggoda dari bibirnya. Seakan menanggung beban seberat gunung.


Hana menerima pesan dan telpon dari Hilma untuk mengajaknya bertemu. 3 hari kemudian, setelah nomer Randy diblokir oleh Hana, hingga ia sudah tak bisa menghubunginya lagi. Dan saat ini, tanpa sepengetahuan Ayah maupun Ibunya, ia menemui mereka di sebuah kafe.


"Maaf, Bunda terpaksa melakukan semua ini. Bunda hanya ingin kalian bicara berdua, dari hati ke hati, tanpa campur tangan orang lain. Pikirkan dengan kepala dingin."


"Oiya, satu lagi. Jangan salahkan Randy dalam hal ini, semua Bunda yang salah, Hana. Bunda memang egois, tapi Bunda tak tahu lagi harus berbuat apa. Bunda pergi dulu." wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu tersenyum, dan mengelus pundak Hana, sebelum melangkah pergi.


Setelah kepergian Hilma, yang tercipta adalah keheningan. Menit demi menit berlalu, tapi tak satupun dari keduanya yang mulai bicara.


"Kak Randy kenapa mendadak gagu. Bukannya tadi, Kakak mau ngomong?" ucap Hana sarkas.


"Ngomong saja, saya akan dengarkan. Saya memang bukan orang penting atau pekerja kantoran, tapi saya juga punya banyak kegiatan. Saya gak punya waktu banyak." melirik penunjuk waktu yang menempel di dinding.


"Aku... pesankan minum dulu, ya. Biar enak bicaranya..." Hana langsung menggeleng.


"Sudah kubilang, kak. Saya gak punya banyak waktu. Bicaralah to the point." sahut Hana tanpa ada senyum terukir. Bahkan membuang arah pandang. Hatinya telah tersulut rasa kecewa mendalam.


"Seperti yang dijelaskan tempo hari, alasan Bunda menginginkan aku menikahi Yuri. Itu permintaan yang berat, Han. Tapi, Bunda dan juga aku, tak tega untuk menolaknya." ucap Randy lirih, dan menunduk.


Tenggorokan Hana terasa tercekat. Buliran bening terkumpul disudut mata, siap untuk turun. Namun Hana sekuat tenaga untuk mencegahnya.


"Ohiya? Yaudah, keputusan udah diambil, kan? Saya rasa gak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kalian akan menikah. Selamat deh, Semoga setelah ia menikah dengan Kakak, sakitnya berangsur sembuh. Siapa tahu, itu adalah obat yang mujarab, hingga tak perlu lagi berobat ke dokter. Dan kalian bisa menjalani rumah tangga sebagaimana mestinya." Ucap Hana lancar setelah berhasil menguasai diri.


"Itu semua gak mungkin, Han. Dia udah gak mungkin sembuh..."


"Itu kata Dokter kan? Dokter juga manusia, bukan Tuhan. Ia bisa saja salah membaca hasil diagnosa." sambar Hana cepat.


"Kamu, adalah obatnya. Terus apalagi yang perlu dibicarakan? Toh, kakak tetep akan nikah dengannya, kan?"


"Maaf! "


"Saya kecewa sama Kakak, sebagai calon pasangan, hal sebesar ini tidak dibicarakan dulu sama saya. Lebih memilih memendam sendiri, Kakak anggap saya apa?"


"Maaf! Tapi, aku sudah ngasih clue, waktu kita dari panti ke kafe. Aku tanya pendapat kamu tentang poligami."


"Siapa tahu ada solusi setelah kita bicara baik baik, tapi nyatanya Kakak abai pada saya dan lebih memilih mengambil keputusan sendiri. Saya benar benar kecewa, bagaimana nanti ke depannya?"


"Saya gak mau lebih kecewa lagi. Jadi, keputusan yang saya ambil sudah bulat. Tak ada pernikahan diantara kita." Randy terdiam, menyimak semua perkataan Hana yang terdengar emosi.

__ADS_1


"Tapi, ini gak adil. Please Han, pikirkan lagi. Aku juga gak mungkin menjalani pernikahan yang normal dengannya." meraih tangan Hana dan ingin menggenggamnya.


" Memang gak adil, memang kak Randy merasa telah berbuat adil sama saya!" Randy menghempaskan punggung ke sandaran kursi. Semua berbalik pada dirinya.


"Ya, aku tahu. Dan maaf! Aku... cuma cinta kamu. Dan bolehkah aku egois meminta, pernikahan kita tetap dilanjutkan? Terus terang, walau aku melakukan akad dengan Yuri, tapi aku merasa ia tetap adikku." Hana menepis tangan Randy.


"Gak bisa begitu. Bagaimana mungkin Kakak dengan entengnya bilang begitu. Kalau kakak menikahi dia, berarti fix, pernikahan diantara kita hanya ada dalam angan yang takkan pernah terwujud. Maaf, waktu saya habis. Saya harus pergi." Hana berdiri, merapikan tas selempangnya.


"Tunggu! " Randy mencekal tangan Hana.


"Lepasin, Kak. Biar saya pergi, dan gak akan muncul lagi di hadapan kak Randy." walaupun Hana sekuat tenaga menahan airmata, akhirnya luruh juga. Randy mencelos menyaksikamnya. Andai boleh, ia pasti menarik gadis itu kedalam pelukannya.


"Kumohon, banyak yang ingin aku bicarakan denganmu. Duduklah lagi, please!"


"Lepas, Kak!"


"Aku gak akan lepaskan, aku masih ingin bicara denganmu." Hana menengok ke sekeliling ruangan, ada beberapa yang melirik kearahnya dan juga Randy. Tak mau jadi pusat perhatian, ia pun duduk dan Randy melepas cekalannya.


"Makasih."


"Sekarang katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kita tetap sama sama. Aku akan turuti."


"Terlambat, kakak sudah mengambil keputusan tanpa sepengetahuan saya. Tak perlu repot repot untuk melakukan sesuatu agar tetap sama sama. Maaf, saya harus pergi sekarang."


"Assalamu'alaikum." tanpa bisa mencegah Randy menatap punggung gadis yang dicintainya sekaligus menjadi mantan calon istri mulai detik ini dengan tatapan nanar. Ia menyesali kebodohannya. Dalam hati ia membenarkan perkataan Hana, harusnya ia berdiskusi dengan calon istrinya, harusnya ia mengatakan sejak awal, harusnya ia menolak permintaan Bunda Hilma, harusnya Yuri tak hadir disaat ia hampir menikahi Gadis pujaan hati, harusnya...harusnya...


"Ahh." Tak kan ada habisnya kata harusnya... untuk mewakili penyesalannya. Sampai ia tak sadar berteriak. Setelah tersadar, ia tahu banyak orang yang menatap kearahnya, bahkan ada yang berbisik bisik. Kacau... kacau ...Tapi ia tak perduli dengan sekitarnya, beranjak pergi setelah membayar bill minumannya dan Bunda Hilma.


Berakhir sudah, bagaikan di dalam mimpi.


Kini duka nestapa...


kini duka nestapa...


Yang datang menyiksa hati...


Kembali kau padaku....


Kembali kau padaku....


Apa aku terlalu serakah jika aku juga menginginkan kamu tetap jadi istri aku, Hana.


Sesampai rumah, Hana langsung menuju kamarnya. Tengkurap diatas ranjangnya tanpa melepas sepatu. Sekuat apapun ia menahan, akhirnya mendung pun berubah menjadi turun hujan yang lebat karena awan tak mampu menampung uap air.


Semua telah berakhir, benar benar berakhir

__ADS_1


__ADS_2