HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 56


__ADS_3

Hana mondar mandir di depan ruang ICU. Sesekali ia menggigit bibir dan memukul pelan keningnya. Hatinya resah dan gelisah tak karuan. Rasa traumanya terkalahkan oleh kekhawatiran akan keadaan Randy.


"Nduk, tenang Nduk. Insya Allah Nak Randy gak kenapa kenapa. Dia dipantau terus sama dokter dan perawat. Duduklah disini! " Pak Hadi menenangkan anaknya dengan menyuruhnya duduk. Menepuk tempat duduk di sampingnya.


Randy kehilangan banyak darah karena terdapat luka tusuk di perut sebelah kiri, dan sedikit merobek lambungnya. Hingga ia harus mendapatkan penanganan khusus dan di operasi. Operasi berjalan dengan lancar namun ia belum sadarkan diri.


"Tapi, Yah! Kalau sampai kak Randy kenapa kenapa gimana? Dia... dia tadi keluar darahnya banyak sekali, aku takut. Aku takut, Yah. Hikks... " Hana menangis tertahan dibahu Ayahnya.


"Sudahlah. Berdoa untuk yang terbaik untuk nak Randy. Ayah yakin dia, selamat."


"Iya, Han. Optimis saja kita. Serahkan dan percayakan masalah ini pada ahlinya. Dokter sedang melakukan operasi, do'akan saja operasinya lancar. Aku juga yakin othornya baik kok, Randy gak dikasih golongan darah yang langka seperti kebanyakan novel novel lain." sahut Panji yang sedari tadi menyimak pembicaraan Ayah dan Anak itu.


Author.: 🙄😊


"Nduk, apa gak sebaiknya kamu pulang, Ayah antar pulang ya? Biar Ayah saja yang nungguin disini. Bagaimana nanti kalau nak Salman tahu, apa dia nggak keberatan? " Hana yang sedari awal belum pulang sama sekali langsung menggeleng. Ia belum bisa bernapas dengan lega jika Randy belum siuman. Bagaimanapun juga Randy terluka karena dirinya.


"Saya akan pulang, kalau sudah jelas keadaan kak Randy dipastikan baik baik saja. Saya yang bertanggung jawab atas semua ini. Harusnya tadi Kak Randy gak usah turun tangan nolongin aku, hikkss! Dia terluka gara gara aku." Air mata Hana luruh lagi.


###


Hari merangkak mulai malam. Dua pemuda mabuk yang salah satunya menusuk perut Randy telah kabur bersama suara knalpot motornya yang nyaring. Sedang bantuan belum juga datang.


"Pan ji ma na, Han? A pa di a be lum da tang?" suara Randy terbata bata sambil meringis menahan sakit. Ia masih sadar dan menekan bagian luka yang terus mengeluarkan darah.


"Belum kak. Kak Randy jangan banyak bicara. Simpan tenagamu, kamu harus kuat Kak! " tangan Hana gemetar, kepala Randy yang ada dalam pangkuannya terkulai tiada daya.


"Kak, kakak jangan pingsan ya, apalagi mati. Aku akan ngerasa bersalah kak. Tolong bertahanlah! Bantuan pasti datang!" terlihat Randy tersenyum dalam kesakitannya mendengar repetan Hana, gadis itu mengkhawatirkannya.


"Walau-pun aku ha-rus ma-ti, aku re-la Han. Aku rela, de-mi ka-mu. Aku cin-ta ka-mu. Walau-pun aku sa-dar, kamu akan nikah, gak akan bisa milikin kamu. Aku akan lega kalau kamu baik baik sa ja! Ah..ssssh."


"Jangan begitu, kak Randy gak akan mati sekarang. Ayo bangun, bangun!" Hana menggoyang kepala itu, berusaha membangkitkan kesadaran Randy yang terus melemah. Matanya terlihat semakin meredup.


"A-ku baha-gia, se-tidak-nya ka-mu gak ben-ci sa- ma aku. Itu su-dah cu-kup."


"Apaan sih Kak, siapa juga yang benci kamu. Aku hanya kecewa."


"Panji mana sih, Ayah juga kenapa lama sekali! " gerutu Hana dalam ketakutannya, ia menengok ke kiri dan kekanan. Lalu mengusap tengkuk. Merinding, tempat itu sepi sekali. Penerangan hanya lampu mobil milik Randy.


"Kak Randy tolong bangunlah, aku takut, aku takut di tempat seperti ini, ...aku juga takut darah... Aku takut Kakak mati." Hana terus saja terisak, hingga sebuah sepeda motor datang dan berhenti tepat didekat mereka. Mata Hana silau tak bisa melihat dengan jelas siapa pengendara motor, dan ia berharap itu Panji yang akan memberikan bantuan.


"Hana, Randy kenapa?" Suara Panji panik. Ia langsung melompat turun dari sepeda motor.


"Pan ji. To long." Randy langsung tak sadarkan diri.


"Kak Randy.....! " Hana menjerit ketakutan.


"Randy...Randy...Bangun, Randy! " Panji menepuk nepuk pipi Randy yang matanya telah tertutup.


"Dia terluka Mas Panji, darahnya banyak keluar. " Panji membelalakkan matanya, dalam keremangan petang, dan lampu mobil, ia masih bisa melihat dengan jelas warna merah darah itu.


"Arlan, ayo kita bawa Bang Randy ke rumah sakit! " lelaki yang tadi dibonceng Panji mengangguk. Berdua mengangkat tubuh Randy.


Peristiwa sore tadi masih terngiang jelas di ingatan Hana. Panji yang panik menggotong tubuh Randy bersama Arlan. Disaat itu Pak Hadi datang bersama dua orang pemuda tetangganya. Lalu Panji mengemudikan mobil menuju rumah sakit terdekat. Di ikuti Pak Hadi yang menaiki sepeda Hana, dan Arlan yang menaiki sepeda Panji. Dan dua orang yang bersama Pak Hadi tadi. Disepanjang jalan, yang Hana lakukan hanya menangis, sembari berdoa dal hati, dan tak berhenti menyuruh Randy untuk bangun.


Tiba di rumah sakit Randy langsung mendapat penanganan, karena mengalami luka dan darah yang masih mengalir, Randy membutuhkan tranfusi darah dan kebetulan stok di Bank Darah sedang kosong.

__ADS_1


"Dok, ambil darah saya saja! "


Dokter melakukan pemeriksaan darah, Semula Hana bermaksud ingin menyumbangkan darahnya, tapi dia sedang haid dan sedang deras, tekanan darahnya juga terbilang rendah. Hingga ia tak bisa mendonorkan darah. Panji dan Arlan azin pergi membuat laporan kepada polisi. Aksi seperti ini sungguh meresahkan, berbekal informasi dari Hana, mereka menuju ke kantor polisi.


Semula Hana teringat orang Panti, ingat mereka belum ada yang memberitahu bunda Hilma atau Yuri.


"Istrinya pasti cemas, apa kamu punya nomer yang bisa dihubungi, Nduk?" pak Hadi menatsp anaknya yang teuhat cemas, Hana menggeleng.


"Saya gak punya nomernya, tapi kalau nomer Bu Hilma saya punya! " sahut Hana yang lalu membuka ponsel mencari nomer kontak Bu Hilma.


"Tapi kalau bisa jangan beritahu istrinya, kasih tahu saja Bu Hilma, biar dia yang memutuskan ngasih tahu Yuri atau tidak. Bagaimanapun juga kesehatan Yuri perlu juga diperhatikan, jangan sampai dia terkejut dan kambuh! " Hana mengangguk, panggilan terhubung.


Hana menceritakan secara garis besar apa yang terjadi pada Randy, dan meminta jika ada anak atau orang panti yang golongan darahnya sama dengan Randy untuk segera ke Rumahsakit melakukan donor darah, karena ini urgent.


Mereka menanti dengan harap harap cemas, karena Randy membutuhkan transfusi secepatnya. Sedang orang panti belum juga datang. Namun sebuah keanehan terjadi. Seorang wanita yang tidak mereka kenal bersedia menyumbang darah secara sukarela. Wanita yang sedari tadi duduk diam di tempat itu. Wanita itu mengatakan ia menunggui suaminya yang sakit dan dirawat di rumah sakit itu juga. Dengan alasan kemanusiaan, ia, mendonorkan darahnya.


"Siapa nama Ibu kalau boleh tahu? Dan dimana tempat tinggalnya?" tanya Hana hati hati setelah wanita itu keluar dari ruangan tempat dilakukannya pengambilan darah. Nampak wanita itu agak lemah.


"Siapa tahu juga Kak Randy yang ibu tolong menanyakannya. Dan suatu saat dia mencari ibu! " tanya Hana mengorek keterangan.


"Nama saya, Rani. Panggil saja Bu Rani. Saya hanya tergugah naluri keibuan saya, hingga saya menawarkan diri jadi pendonor. Seandainya saja anak sulung saya masih hidup, harusnya dia sudah seusia pemuda itu." ibu itu bercerita dengan wajah sendu.


"Oh, maaf! " Bu Rani menoleh.


"Tak masalah, Nak. Saya punya dua orang anak, yang sulung laki laki. Saya terpaksa berpisah dengan anak sulung saya karena suatu sebab dulu. Dan sekarang, Ibu tak tahu kemana anak itu. Apakah hidup atau mati. Kalau hidup dimana tempat tinggalnya, sama siapa? Dan kalau sudah mati dimana pusara-nya. Ibu hanya berharap, Ibu bisa bertemu dengannya suatu saat nanti."


"Oh, waktu itu, anak ibu usia berapa? Dan kira kira sudah berapa lama Ibu terpisah dengan anak Ibu?"


"Sudah sangat lama, Nak. 28 tahun yang lalu, waktu itu anak saya masih bayi. Saya terpaksa meninggalkannya di teras rumah orang. Lalu saya pergi jauh, meninggalkan negeri ini. Dan saat saya kembali beberapa waktu yang lalu, saya sudah tak menemukannya lagi rumah itu beserta penghuninya." Ibu itu menyeka air matanya.


Hana mengelus pundak, betapa miris nasib ibu itu, terpisah dengan anaknya selama bertahun-tahun. Dan ingin bertemu kembali namun belum kesampaian. Bagaimana tidak, mereka berpisah saat anaknya masih bayi dan hingga sekarang sudah 28 tahun lalu. Tentunya anak itu sudah dewasa, bahkan mungkin sudah menikah dan punya anak. Andai sudah punya anak, itu artinya Ibu itu sudah mempunyai cucu.


Hana memandang intens wanita paruh baya itu, seperti wajah itu tak asing baginya.


Kak Randy.... ah, mengapa aku berhalusinasi bahwa wanita asing ini mirip kak Randy. Ada apa denganku? Kak Randy menguasai seluruh pikiranku saat ini. Hana menggeleng menghalau kehaluannya.


"Oiya, siapa Namamu Cah Manis?" Bu Rani mengalihkan topik, kesedihan masih tergurat jelas di wajahnya.


"Ahh, iya lupa. Maaf! " Hanna gelagapan, karena baru saja melamun.


"Kenalkan Bu, nama saya Hana!"


"Hana, nama yang cantik sesuai dengan orangnya. Lalu, laki laki yang terluka itu, siapanya kamu?"


"Dia teman. Dan dia terluka seperti itu karena menolong saya, yang diganggu orang jahat. Saya jadi merasa bersalah." ucap Hana bercerita.


"Semoga dia lekas sembuh. Oiya, aku sudah terlalu lama meninggalkan suamiku. Ibu pergi dulu ya, takutnya dia nyariin." setelah berpamitan dan berjalan beberapa meter, Hana baru teringat belum berterimakasih dan belum tahu dimana tempat suami wanita itu dirawat.


"Bu, tunggu....! " tapi wanita itu tak mendengar karena langkahnya terburu buru. Hana bermaksud mengejarnya, tapi suara dari belakang yang memanggilnya membuatnya urung mengejar wanita itu.


"Hana! " ia menolehkan kepala Bunda Hilma datang bersama adiknya Herman.


"Apa yang terjadi sama Randy, gimana dia bisa bersama kamu? Dan gimana keadaannya sekarang, Han?" Bu Hilma memberondong Hana dengan pertanyaan yang bercokol di kepalanya.


Pak Herman mengelus pundak adiknya untuk menenangkan.

__ADS_1


"Maaf, tadi ada drama ban kempes, dan gak ada bengkel buka, jadi aku terpaksa bongkar ban sendiri, makanya lama." tanpa ditanya pak Herman menjelaskan, Hana mengangguk mengerti apa sebab mereka tak kunjung tiba di rumah sakit.


"Kak Randy baru saja selesai operasi, tinggal menunggu dia siuman. Tadi ada orang yang saya gak kenal tiba tiba menawarkan diri jadi pendonor untuk kak Randy. Namanya Bu Rani. Tapi saya lupa nanya alamatnya." Pak Herman dan bu Hilma saling pandang.


"Alhamdulillah, ternyata masih ada orang baik didunia ini. Randy anak yang baik, secara Allah ngirimin dia orang yang baik pula untuk menolong nyawanya. " Hana terdiam dan menunduk, membenarkan ucapan pak Herman dalam hati.


Randy.


Obat untuk penyakit Yuri yang termasuk golongan obat mahal membuat tak semua apotik menyediakannya. Hanya terdapat di apotik yang besar, hingga ia pergi membeli obat itu dari apotik yang lumayan jauh. Disaat pulang dari apotik, ia melihat Hana menaiki sepeda sendirian. Sama seperti dirinya, berhenti dikala lampu lalu lintas sedang merah.


Dari mana dia? Waktu itu aku ketemu dia sama cowok di apotik, apa dia habis ketemuan sama cowok itu lagi?


Kata hati Randy menuntunnya untuk mengikuti perjalanan Hana diam diam. Jarak yang ditempuh memang tak begitu jauh, namun melewati perkebunan yang sepi. Dan ia tahu Hana adalah seorang penakut.


Sebelum melewati perkebunan, ponselnya bergetar tanda panggilan masuk.


"****... siapa sih ganggu sore sore gini?" iapun menepi, temannya yang diluar kota menelpon. Hampir 15 menit temannya menelpon, mengabarkan ia berhasil memenangkan lelang tanah kosong yang lokasinya strategis untuk membuat cafe cabang di kota itu.


Randy mengucap syukur, ditengah kemelut kehidupannya, usahanya makin sukses dan sedang merintis cabang di dua kota. Ia tersenyum sebelum kembali melajukan mobilnya.


Ia dibuat terkejut, belum lama melaju, ia mendapati sepeda motor yang ia kenali milik Hana berhenti di pinggir jalan, namun si empunya motor tak terlihat, entah kemana. .


"Hana! " lewat sorot lampu mobilnya ia mencari sosok Hana.


Apa motornya mogok? Kayaknya gak mungkin kalau motor baru Hana mogok. Tapi kalau memang mogok karena kehabisan bahan bakar, ceroboh sekali dia.


Radius beberapa meter didepannya, ia melihat beberapa orang, dan menajamkan penglihatannya.


"Ya Allah, Hana! " tanpa pikir panjang ia mendekat ke lokasi, seorang perempuan yang ia yakini Hana dibekap oleh seorang laku laki, dan satunya lagi...


Terbersit spontanitas ia menghubungi seseorang lewat ponsel. Dua kali nada dering panggilan terhubung.


"Iya, Bos."


"Gue shareloc. Lo cepat kesini bawa temen. Gue butuh bantuan! " tanpa menunggu jawaban dengan panggilan masih terhubung ia meletakkan ponsel di jok mobil, lalu keluar dengan cepat. .


"Hei, jangan lakukan itu?" hardiknya.


"Lepaskan gadis itu, aku akan bayar berapapun kalian mau! Tapi lepaskan dia! " teriaknya lagi. Rahangnya mengeras, marah wanita yang dicintainya disakiti. Ingatannya melayang pada beberapa bulan silam, dimana Hana juga hampir dilecehkan dua preman.


###


Pagi pagi sekali dengan langkah tergesa Salman menyusuri koridor rumah sakit. Dan menemukan Hana bersama beberapa orang menunggu di depan ruangan.


"Hana! "


Semua orang menoleh pada Salman, begitu juga Hana.


"M mas Salman! " ia merasa seperti maling yang ketangkap basah. Salman juga tak memerdulikan orang orang disekitar Hana. Bahkan juga calon Ayah mertuanya, pak Hadi yang ikut menginap di rumah sakit. Dimatanya hanya ada Hana.


"Kenapa ada kejadian kayak gini kamu sama sekali gak coba ngehubungin aku, calon suamimu! " laki laki itu langsung merepet, tatapannya tajam, seolah ingin mengoyak jantung siapa saja yang ditatap nya.


"Maaf, saya gak kepikiran! " jawab Hana merasa bersalah. Dan memang benar ia sama sekali tak ingat dengan sang calon suami. Dalam pikirannya sejak kejadian kemarin hanya Randy, Randy, dan nasib Randy.


"Ayo sini ikut aku! "

__ADS_1


__ADS_2