
"Gimana Han?" hati Randy sudah kebat kebit. Beberapa menit yang lalu, ia masih merasa high self confidence, pede kelas dewa. Sadar Randy menanti jawaban darinya segera, Hana lalu berkata," Kak, maaf aku tak bisa memutuskannya sendiri. Aku...masih tanggung jawab Ayah dan ibuku. Jadi, aku mau bicara dulu dengan mereka."
" Maaf kalau aku tak bisa menjawab saat ini!" Hana menunduk merasa bersalah, padahal tentu saja itu bukan salahnya. Secercah harapan terbit dibibir Randy yang tersenyum tipis mendengar jawaban Hana.
"Jadi, itu yang jadi kendalamu. Apakah restu dari Ayah dan ibumu memengaruhi jawabanmu, Han?" Hana masih menatap cincin cantik yang diletakkan Randy diatas meja.
"Kemungkinannya seperti itu, kak! Restu Ayah dan ibu akan menjadi acuan untuk aku membina rumah tangga."
"Memang betul aku tak mau pacaran walaupun teman teman aku melakukan itu. Bukannya sok suci atau gimana aku cuma menghindari aja perbuatan yang menjurus pada zina."
"Ya, aku juga sedikit tahu bahwa zina bukan hanya sebatas melakukan hubungan badan antara laki-laki dan perempuan, tapi juga perbuatan-perbuatan yang membangkitkan syahwat lawan jenis yang bukan mahram juga termasuk zina." Randy meneruskan ucapan Hana.
"Baiklah kalau begitu, biar kamu yakin aku mengajak beberapa orang malam ini." Randy menoleh, dan mengangguk pada seseorang yang berdiri agak jauh dari mereka. Beberapa menit kemudian, Hana dikejutkan oleh kedatangan tiga orang yang mendekat kearah mereka.
"Ayah, ibu! Juga, bunda Hilma? Kok bisa mereka disini!" raut tak percaya bercampur heran di wajah Hana terlihat jelas. Ia langsung berdiri dengan mulut sedikit menganga. Tak menyangka rupanya Randy telah mempersiapkan segalanya dengan matang.
"Kita punya pikiran yang sama. Mereka adalah orang orang penting dalam hidup kita! Kamu tentu tahu kenapa aku membawa bunda Hilma, bukan yang lain." sahut Randy menanggapi keterkejutan Hana. Randy juga berdiri menyambut kehadiran mereka
"Mereka bertiga yang lebih dulu tahu sebelum aku merencanakan semua ini. Dan mereka akan menyaksikan momen yang bagi aku sangat penting ini."
"Oiya....!" gumam Hana masih takjub dengan ketiga orang yang berdiri dihadapannya. Tadi saat ia berangkat ayahnya masih mengenakan sarung dan baju Koko. Begitu juga ibunya, mengenakan pakaian santai rumahan. Bagaimana bisa mereka secepat ini datang?
"Iya, Hana. Ayah sama ibu memberi restu seratus persen pada kalian. Di mata Ayah dan Ibu, nak Randy sudah seperti anak sendiri. Dia sudah meminta izin sama Ayah kemarin malam, waktu kamu nginep dirumah Putri." Ayah mewakili ibu menjelaskan. Sang ibu mengangguk tanda menyetujui.
"Bunda juga sama. Randy beberapa hari lalu mengatakannya sama Bunda. Dan Bundapun setuju, karena bunda menyukai Hana sejak pertama kali Randy membawanya ke panti dan memperkenalkan pada anak anak panti yang lain."
Hana juga sering pergi ke panti dengan membagikan kue buatannya, bercanda dan bermain bersama anak anak panti. Sebagai anak tunggal, ia begitu senang mendapat teman teman baru. Randy lalu menoleh pada Hana yang berdiri berseberang meja dengannya.
"Bagaimana Hana? kamu dengar sendiri kan, gimana tanggapan mereka. Sekarang gimana dengan kamu, apa kamu akan menjawabnya sekarang?" tanya Randy lagi, ia meraih cincin diatas meja.
"Biar aku ulang ya?"
"Bismillah. Hana, aku mencintaimu. Aku berharap engkau menjadi pendampingku, menjadi ibu anak anakku, melewati kehidupan bersama saat suka maupun duka. Aku berjanji akan berusaha membuatmu bahagia."
" Bersediakah kamu menjadi istriku, Hana? Kamu tak perlu menjawab dengan kata kata. Jika kamu menerima lamaranku, ambillah cincin ini." ucap Randy masih berharap dengan menyodorkan kotak cincinnya.
Hana menatap lekat Randy beberapa detik, ada binar dan harapan di mata itu. Lalu pandangannya beralih pada ketiga orang yang berdiri tak jauh dari mereka. Menatap satu persatu ketiga orang itu, raut wajah mereka pun terlihat berharap seakan meminta ia menerima lamaran Randy.
Dan baiklah, dengan menarik nafas dalam, memantapkan hati, Hana akan membuat keputusan besar dalam hidupnya. Jalan yang akan menjadi haluan masa depan bersama seorang pria yang telah melamarnya, yang nantinya jika telah diresmikan akan bergelar suami.
Perlahan tangannya terulur, menyentuhkan jarinya pada cincin emas putih mata satu yang terlihat elegan. Beberapa detik jarinya terdiam diatas cincin, membuat Randy diterjang gundah gulana dan hati berdebar. Ia menoleh pada ketiga orang yang penting dalam hidupnya dan Hana, mereka pun sama terlihat tegang menatap kedua muda mudi itu.
Randy menoleh saat tangannya yang memegang cincin merasai gerakan kecil yang ternyata Hana mencabut cincin dari tempatnya bersarang. Membuat senyumnya mengembang. Hilang sudah rasa gundah gulana beberapa detik lalu. Berganti euforia, rasa bahagia yang tiada terkira.
"Iya, saya terima." ucap Hana pendek, pun tersenyum manis penuh arti.
Yesss!
Tanpa sadar Randy mengepalkan tangan ke udara sebagai tanda rasa bahagia yang membuncah.
__ADS_1
"Randy...!" tegur bunda Hilma yang telah mendekat kearah mereka.
"Ehehe, maaf Bun! Randy terlalu bahagia." beralih menatap Hana yang tersenyum malu malu.
"Makasih ya Hana, aku janji aku akan berusaha menjadi suami dan imam yang baik untukmu dan.... anak anak kita kelak. In shaa Alloh."
Bunda Hilma menyematkan cincin tanda ikatan di jari manis Hana.
"Cantik! Secantik yang memakainya. Sangat cocok."
Akhirnya rasa bahagia itu dilanjutkan dengan makan bersama, Randy dan Hana makan malam berdua. Sedang ketiga orang tua, makan bersama tak jauh dari mereka berdua, Hana dan Randy.
****
Beberapa hari kemudian di laksanakanlah acara lamaran secara resmi. Dari keluarga pihak laki laki adalah keluarga panti yang telah menganggap Randy seperti anak sendiri. Bunda Hilma datang bersama adik lelakinya yang menjadi juru bicara keluarga Randy.
Terdapat pula Panji teman setianya. Dan beberapa teman seperjuangan Randy yang berasal dari Panti, ada beberapa gadis anak asuhan bunda Hilma juga yang telah menikah dan mempunyai usaha yang cukup berhasil. Sama halnya seperti Randy, sebagai rasa terima kasih berkat asuhan bunda Hilma dari mereka kecil hingga dewasa dan menikah, mereka turut berkontribusi menjadi donatur dan bahu membahu membantu bunda Hilma agar adik adik asuh mereka mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak.
Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh rasa kekeluargaan. Dan terjadilah kesepakatan diantara kedua belah pihak keluarga, pernikahan akan berlangsung dua bulan lagi.
Setelah acara tukar cincin, mereka berfoto foto ria dengan sepasang calon pengantin.
"Kak Randy, cincinnya cantik banget!" bisik Hana pada Randy yang duduk bersebelahan dengannya ditempat yang disulap menjadi semacam kuade.
"Apa gak berlebihan, kak! Yang kemarin aja masih beberapa hari dipake!" Randy mendengar dengan mencondongkan kepala agar lebih dekat dengan kepala Hana. Hingga ucapannya bisa terdengar olehnya.
"Yang ini, ada inisial nama kita. Kalau yang kemarin cuman asal beli."
"Cincin ini cantik kalau yang pake itu kamu, kalau yang makai orang lain, aku rasa gak bakalan secantik ini! Yakin deh..." Randy mulai menggombal hingga Hana menegakkan kepalanya kembali, membuang pandangan karena malu. Dan tatapan mata tepat bersirobok dengan Citra bersama Putri yang senyum senyum gaje.
"Han!" Hana yang sedang bicara menggunakan isyarat mata dengan Citra lalu menoleh mendengar panggilan Randy.
"Iya, Kak!"
"Mau request, nih!"
"Apa?"
"Kalau nanti kita udah married, ganti ya nama panggilannya. Jangan Kakak. Ih, kayak punya istri adik sendiri aja!" Hana terkikik dengan menutup mulutnya.
"Emang mau dipanggilnya gimana, Kak?"
"Terserah kamu. Kita kan orang Jawa, boleh panggil mas, atau Bang. Aa juga boleh."
Hana sudah akan membuka mulut, namun tak jadi karena mendengar celutukan dari Paman Herman, adiknya bunda Hilma. Karena mereka berdua sudah tak memerhatikan perbincangan para orang tua.
"Tuh, calon ngantennya udah ngerasa dunia milik berdua. Kita disini semua udah gak kelihatan. Udah dianggap benda mati kayaknya!" paman Herman tersenyum, bermaksud bercanda dengan Randy dan Hana. Yang lain pun ikut tertawa.
"Ih, mas! Kayak gak pernah muda aja mas ini! Ya, orang yang lagi jatuh cinta itu kan rasanya dunia milik berdua, kita kita ini cuman ngontrak. Iya kan, Ran?" sembur istri paman Herman namun malah membuat tambah kencang tawa para hadirin. Randy dan Hana jadi pusat perhatian semua orang di ruangan itu, yang membuat Hana tambah bersemu mukanya. Ia menunduk sembari tersenyum.
__ADS_1
Setelah menikmati hidangan yang tersaji tak lama kemudian pihak keluarga Randy pamit memohon diri.
" Kami pamit, pak Hadi, mau pulang ke rumah kita masing masing." pamit pak Herman.
"Waah, saya kira mau nginep disini, Pak Herman. Boleh banget calon besan, dengan senang hati kalau mau nginep disini!" ucap pak Hadi basa-basi.
"Ya udah, kalau memang mau pulang ke rumah masing masing. Asal jangan keliru pulang ke rumah tetangga ya, Pak." mereka tertawa tawa mendengar Pak Hadi dan Pak Herman saling melempar candaan sebelum berpisah.
"Hati hati dijalan, semuanya!" sebelum melangkah pergi, Randy memandang Hana dan seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun tangannya langsung ditangkap dan setengah diseret oleh paman Herman.
"Eeeh, belum sah. Gak usah minta cium tangan, apalagi cium pipi sama cium yang lain. Ayo pulang!" Randy tertawa sambil menggaruk kepalanya merasa seperti orang klejingan.
"Siapa juga yang mau cium, Paman! Cuman mau ngobrol sebentar. Ada ada saja paman ini!" Randy menyanggah candaan sang Paman.
"Hallah, dari tadi juga udah banyak ngobrol. Gaya pacaran bocah masa kini, belum juga nikah manggilnya mama papa, Daddy Mami dan sejenisnya. Udah di sosor sosor aja kayak bebek." terdengar oleh Hana paman Herman mengomeli Randy, Pak Hadi dan Bu Mira yang juga mendengarnya mengulum senyum.
"Aku gak kayak gitu, Paman!" sanggah Randy.
Keluarga Randy telah undur diri dari beberapa menit yang lalu. Hana duduk bersama Citra dan Putri yang menemaninya duduk di ruang tamu yang baru saja menjadi saksi acara lamaran. Hiasan di dinding berupa paper flower terpasang cukup sedap dipandang mata kreasi dari Citra dibantu Putri yang hobi membuat hiasan dinding.
Dibawah paper flower juga bertuliskan Happy Engagement, Hana & Randy.
"Alhamdulillah, acaranya lancar!" seru Hana yang duduk berseberangan dari kedua sahabatnya.
"Hmm, gue yang bertunangan lebih dulu, elo yang nikahnya bakalan lebih cepat!" gerutu Putri yang pada dasarnya tertuju pada dirinya sendiri.
Bima belum siap menikah secepat ini, dengan alasan ia harus siap secara finansial. Budget untuk pernikahan cukup menguras isi kantongnya yang seorang anak yatim. Ibunya yang seorang janda hanya mampu memberikan pesta pernikahan yang sederhana. Sedang dirinya ingin pesta yang meriah sebab acara resepsi pernikahan adalah acara yang digelar sekali seumur hidup, jadi harus ada kesan yang bisa dikenang seumur hidup.
"Ya setiap orang punya pandangan yang berbeda menyikapi tentang pesta pernikahan, Put. Kalau gue sama kak Randy sih, punya visi yang sama. Yaitu yang paling penting dan berkesan itu pernikahannya yang sah. Soal pesta, kita gak mau terbebani. Sesuai budget aja. Gak perlu harus dipandang wah oleh orang lain." ucap Hana menohok dan mencubit hati Putri.
"Ya, gue sih maunya gitu. Pengen cepet halal aja, itu kan kemauan Bima, bukan kemauan gue, Han!" sanggah Putri cemberut.
"Padahal biasanya yang gak sabaran itu pihak laki, ini mah kebalikannya. Anti mainstream dia."
"Iya, gue tahu. Gue kan cuman nyampein versinya gue. Kalau konsep pernikahan Lo kan ya terserah Lo sama Bima kan? Gak ada hubungannya sama gue, apalagi Citra!"
"Ih, kok gue!" Citra yang terdiam dari tadi mengangkat muka.
Dua mobil beriringan memasuki halaman Panti. Randy singgah lebih dulu ke panti dan berbincang beberapa saat dengan paman Herman dan Bunda Hilma. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat ia pamit mau pulang.
"Kenapa gak nginep sini aja, Ran? Besok pagi pagi pulangnya." tawar bunda Hilma penuh harap.
"Ada sesuatu yang mau aku kerjain, Bun! Besok bisa bisa lupa aku! Maaf ya, Bun!" tolak Randy sopan sembari mengecup punggung tangan bunda Hilma sebelum pergi. Hal yang biasa ia lakukan dulu saat tinggal di panti dan sampai sekarang tak berubah. Bunda Hilma melambaikan tangan pada Randy yang telah melajukan mobilnya.
Di saat mobil Randy hilang dalam pandangan, Sari, gadis yang bunda Hilma perintahkan untuk menemani Yuri selama acara lamaran tadi tergopoh datang menghampiri bunda Hilma.
"Ada apa, Sari?"
"Yuri, Bunda! Dia menangis sedari tadi, dan belum mau makan malam." lapor Sari dengan raut dan nada sedih. Bunda Hilma terkejut mendengar laporan itu dan gegas menuju kamar Yuri. Anak anak yang lain sepertinya sudah tidur di kamar masing masing.
__ADS_1