
Randy.
Tiba di cafe bahkan sejak keluar dari halaman rumah Hana, kepalaku terasa nyut nyutan dan dada terasa sesak. Serasa ada beban yang mengganjal dan ingin segera aku tumpahkan.
Aku urung masuk ke ruanganku saat kulihat dua orang pelayan sedang bermain hape, padahal teman teman yang lain sibuk beraktivitas sesuai pekerjaan masing masing.
"Kalian berdua! Ikut ke ruangan saya!" perintahku membuat keduanya terlihat takut sekaligus kaget. Mereka saling bersitatap sebelum mengikuti aku yang kurasakan sendiri tak ramah pagi itu.
"Duduk kalian!" perintahku saat keduanya sudah ada dihadapan. Keduanya pun langsung duduk dan menunduk.
"Kalian tahu kenapa saya panggil kemari?" keduanya mendongak sebentar, menggeleng lalu menunduk lagi.
"Apa pekerjaan pagi ini? Kalian bukan orang baru kerja, kan?"
"Apa perlu diberitahu berulang tiap pagi apa kerjaan kalian atau kalian sudah tak ingin bekerja lagi? Kalian lihat teman kalian semua pada bekerja tadi, kenapa kalian cuma main hape, sudah bosan kerja disini apa? Bilang sama saya kalau kalian udah bosan. Biar saya buka lowongan kerja buat orang lain yang lebih membutuhkan. Walaupun ini kafe kecil, tapi masih banyak orang lain yang mau kerja disini dengan baik, bukan cuma main hape aja!" ucapku nyerocos meluapkan emosi sembari menggebrak meja, wanita dan pria muda itu sedikit terjangkau dan makin menunduk. Mungkin mereka baru kali ini dimarahi atasan.
"Maaf, mas! Kami masih ingin kerja. Saya akan kerja dengan sungguh sungguh, jangan pecat saya dan adik saya!"
"Oh, jadi kalian kakak beradik. Pantas saja, kalian sama. Sama sama gak menghargai profesi." aku mengejek dengan muka tak bersahabat. Bukan aku banget sebenarnya, maafkan aku yang menjadikan kalian pelampiasan.
"Maaf, mas!" mereka menunduk dengan gelisah karena kalimat tajamku, semua anak buahku memanggilku mas, aku rasa biar kami bisa lebih akrab.
" Kenapa Panji merekrut kalian jadi karyawan. Sama sekali gak berkompeten." aku bergumam lagi dengan sinis.
"Kenapa Ran? Siapa yang gak berkompeten?" tiba tiba Panji masuk dari pintu yang tak tertutup itu. Suaraku pasti terdengar jelas dari luar. Jika bersama anak buah, aku dan Panji ber- aku, kamu. Tapi kalau sedang berdua, kami ber-elo gue.
"Apa dasarnya kamu mengatakan kalau mereka gak berkompeten. Mereka pelayan yang rajin teladan dan disiplin. Salahnya dimana?" Panji berdiri dibelakang kedua orang yang barusan kumarahi seakan membela keduanya sembari menatapku tajam. Benar benar anak buah kurang ajar dia itu.
Atau mungkin dia tersinggung aku mengatakan dia merekrut orang tak berkompeten.
"Aku lihat sendiri mereka bermain hape saat semuanya tengah sibuk bekerja. Apa aku salah menegur mereka?" jawabku tak kalah sengit.
__ADS_1
"Aku yakin mereka punya alasan." Panji beralih menatap kedua orang yang duduk membelakanginya.
"Apa alasan kalian, coba jelaskan kenapa kalian bermain hape saat teman teman bekerja, jelaskan pada kami biar kami mengerti, Sita, Arlan?"
"Maaf, mas Panji!" aku dan Panji menyimak apa yang akan dikatakan pria yang bernama Arlan itu. Hhh, Ia pasti mencari alasan biar selamat dari kemarahan. Salahnya si Panji yang membela mereka.
"Ibu...ibu kami masuk rumahsakit, mas! Katanya ibu tiba tiba jatuh waktu sedang menyapu. Tadi pagi beliau memang mengeluh kepalanya pusing, kami sudah menyuruhnya istirahat saat kami mau berangkat kerja, tapi rupanya ibu meneruskan kerjaannya setelah kami pergi. Itu sebabnya ibu terjatuh. Barusan Paklik kami yang mengatakannya, dan kami tadi berdiskusi, siapa yang akan izin kerja hari ini dan menunggui ibu di rumahsakit." aku bungkam seketika. Kesadaranku pulih dan jadi teringat pada Yuri yang juga masih di rumah sakit.
"Jadi, ibu kalian di rumahsakit? Kalau begitu, kalian pulanglah. Tengok beliau, semoga saja ibumu tak apa apa. Dan kalau memungkinkan, salah satu dari kalian kembali lagi kesini jika kondisi ibu kalian baik. Kasihan nanti yang lain pasti keteteran pekerjaannya." ucap Panji sudah seperti bos mereka saja, mengabaikan aku. Arlan terlihat mendongak, lalu menatapku yang sedang menatap tajam Panji.
"Sudah, pekerjaan kalian akan dihandle yang lain dulu, gak usah kuatir, pergilah! Aku yang bertanggungjawab atas kerjaan kalian!" keduanya lalu berdiri, membungkuk padaku lalu melangkah keluar ruanganku. Panji mengikuti mereka, ia menoleh padaku sebelum menutup pintu, dan aku masih bergeming ditempatku duduk.
Setelah pintu tertutup aku berdiri dan menuju jendela, merasa menyesal dengan apa yang aku lakukan pada kedua karyawanku tanpa tahu sebab musababnya.
"Ahhhh!" aku memukul mukul tembok ruangan dengan kepalan tanganku. Meluapkan segala kegundahan yang ada. Sudah aku abaikan rasa nyeri dari tangan, masih lebih nyeri rasa hatiku, saat buku buku jari yang tadinya memutih kini merah. Luka tak bersayat, sakit tak berdarah, namun melebihi sakitnya tanganku ini.
Aku juga membenturkan kepalaku cukup keras pada tembok. Inginku menangis, aku berada di titik paling rapuh saat ini. Rasanya aku kehilangan pegangan. Dunia menjadi hampa.
"Iya, gue emang frustasi." Panji tak menjawab, seakan menantiku meneruskan ucapan.
"Gue...gue sepertinya bakalan batal nikah, Nji!"
"Apa? Gimana bisa?!"
"Ini semua karena Yuri"
"Kenapa lagi coba sama cewek itu?"
Aku lalu menceritakan pada Panji, tentang diagnosa dokter, juga permintaan bunda Hilma, dan Yuri.
"Gimana gue gak frustasi coba!" ucapku mengakhiri cerita. Dia terlihat shock.
__ADS_1
"Gak nyangka gue. Ini namanya memaksakan kehendak. Eh, salah ding. Lo nya gak kepaksa, mau mau aja."
"Sialan Lo!" Aku marah, Panji menuduhku suka hati melakukan semua ini.
"Sabar, men! Sabar. Orang sabar disayang Tuhan!" hiburnya yang terdengar klise di telinga. Kata sabar, memang mudah diucapkan. Aku sekali lagi ingin meninju tembok, tapi tangan Panji, berhasil menangkisnya.
"Awww!" aku mengaduh kesakitan, kulihat ada darah dari buku jari tengahku, dan sekarang baru terasa sakitnya.
"Lo boleh frustasi, tapi jangan menyakiti diri sendiri. Gue sebagai temen Lo, gak suka. Apalagi Tuhan kita. Dia, kasih Lo cobaan seperti ini, karena yakin Lo bakalan sanggup ngatasinnya. Percaya gue, Lo bisa curhat ke gue! Tentang problem Lo." ucapan Panji membuatku menjatuhkan tangan. Urung melayangkan tinju, padahal tadi rasanya aku ingin sekali meninju dirinya, melampiaskan rasa yang masih ada.
"Gue pengen makan orang, tau nggak?" aku menggeram, kupelototi Panji yang berdiri dihadapanku. Aku tak merasa aneh, dia bukannya takut, malah menipiskan bibir menahan senyum, atau bahkan tawa. Benar benar teman luknut bukan?
"Lo ngejek gue? " kembali Panji pada mode serius, Ia lalu menggiring bahuku untuk duduk di sofa, aku menurut saja seperti kerbau di cucuk hidungnya dengan langkah gontai.
Aku mengacak rambutku, aku mengacak rambutku, merasa tak pernah sekacau ini. Panji menatap atasan sekaligus sahabatnya itu dengan raut iba, tak lagi meledek.
"Ini karena gue yang terlalu lemah, gue terlalu merasa berhutang budi hingga gak bisa menolak permintaan Bunda Hilma, tapi akhirnya gue stres sendiri, Nji." mereka duduk di sofa.
"Gile, Lo Bro. Jadi Lo bakalan nikah sama adik angkat Lo yang penyakitan dan udah mau mati itu? Terus Lo ngorbanin rencana nikahan Lo sama cewek yang Lo cinta? bener bener ya Lo." komentar Panji setelah mendengar cerita Randy.
"Kalau gue jadi elu, gue gak akan mau, mau dia mati sekalipun. Enak aja, nikah tuh sekali seumur hidup. Gak mau gue ngorbanin masa depan gue."
"Lagian juga, itu permintaan aneh, disaat Lo udah mau kawin. Kenapa gak dari dulu dulu, Lo kan sama dia udah deket dari kecil. Memang niat kayaknya mereka mau misahin Lo sama Hana." Panji berusaha memprovokasiku.
"Gue gak habis pikir sama cara berpikir kalian. Lo, Yuri, sama Bunda Hilma. Mau maunya aja, elu."
"Lu gak pernah ngerasain di posisi gue, Nji!" ku bentak Panji dengan mata memerah dan memukul bahunya, lalu kuusap wajah dengan kasar. Panji terlihateringis menahan sakit.
"Serah deh, lu. Gue juga gak bakalan turut campur urusan elu, kalau akhirnya gue sakit gegara lo pukul begini!" pasrah Panji.
Dalam hati aku mengakui, aku terlalu lemah dalam hal ini, tak bisa menolak permintaan mereka sedari dulu. Tapi aku juga gak mau kehilangan Hana. Gimana dong....
__ADS_1