HANA LOVE STORY

HANA LOVE STORY
Bab 44


__ADS_3

Saya adalah Hana Pertiwi, anak tunggal Pak Hadi dan Bu Mira. Saya gadis tangguh, yang takkan terbang karena dipuji, dan takkan tumbang walau tersakiti.


Selain itu, saya adalah gadis sederhana, bersahaja, dan biasa saja. Mungkin, memang tak ada yang istimewa. Hanya lesung pipi yang kata orang menambah manis jika aku tersenyum atau tertawa.


****


"Aduduh, kesian ya Hana, gak jadi nikah sama si Kakak Gantengnya itu. Yang sabar ya, Hana. Dari awal saya gak begitu yakin kamu berjodoh dengan dia. Ibu doakan moga jodohnya kamu lagi otw, dan lebih baik lagi dari yang itu. Ya, yang imbanglah gitu, hehehe...!" sindiran setengah ejekan dilontarkan bu Daniel, pagi itu ia jadi santapan gibah para ibu yang belanja di tukang sayur, yang digawangi oleh bu Daniel. Ternyata kegagalan pernikahannya sudah terendus oleh tetangganya itu.


"Iya, coba dulu kalau mau sama anak aku. Tapi sayang, sekarang anak aku udah laku, hihihi! " ibu satunya menimpali sambil menutup mulut.


"Ih, tapi malah beruntung loh anaknya, menantunya mbak Sri cantik, baik lagi. Anaknya juga punya pekerjaan mapan. Terjamin deh masa depan." sahut bu Daniel lagi.


"Denger denger, kalian gak jadi nikah karena Bang Randy mu itu punya WIL ya, Han? Alias wanita idaman lain? Ya ampunn!"


"Jangan jangan, dia gak jadi nikahin kamu karena pacarnya hamil, terus harus tanggung jawab? Duh, jadi gak kebayang deh. "


"Ck ck ck, kasihan sekali." bu Daniel menggelengksn kepala, sambil berdecak. ibu disampingnya yang sedang memilih kangkung tersenyum sinis.


"Maaf, Bu. Bukannya saya gak sopan sama orang tua, tapi apa yang Bu Daniel tuduhkan itu seratus persen salah. Tapi saya gak akan beberkan, biarlah jadi rahasia kami apa penyebab saya gak jadi nikah. Saya gak wajib mengatakannya pada bu Daniel." ucap Hana menahan kesal.


Entah ada masalah apa bu Daniel dengan keluarga Hana, yang jelas wanita yang sebaya dengan ibunya itu sering kali membuat berita yang dibesar besarkan, tentang dirinya dan keluarganya. Tetangga yang lainpun tak luput dari kejulid-an bu Daniel, jika bu Daniel tidak menyukai atau condong padanya. Padahal, ia dan kedua orang tuanya tak pernah membuat masalah secara sengaja.


Ibu Mira dan Hana hanya bisa menahan sabar akan kelakuan salah satu tetangganya ini.


Hana menarik napas, berusaha menyabarkan diri, jangan sampai ia terkena emosi mendapat sindiran itu, dan segera berinteraksi dengan tukang sayur. Pura pura tak dengar saja kalau mereka masih menggunjingnya.


"Pesanan saya ada kan, Cak Fikri? Dua kilo wortel." tanya Hana pada tukang sayur, setelah tersenyum dan mengucap terimakasih. Entah untuk apa, padahal jelas jelas bu Daniel mengejeknya.


"Ada Neng, don't worry. Cak Fikri mah, kalau si Eneng pesen sesuatu, pasti saya catat dalam hati. Jadi mustahil lupa, terngiang ngiang di kepala." Hana tersenyum geli, mendengar candaan Cak Fikri. Ia tahu Cak Fikri memang senang bergurau.


"Ini satu kilo buat Eneng 15 ribu aja. Murah meriah. Ini dua kilo, jadi 30 ribu." seru Cak Fikri sembari menyerahkan 2 kilo wortel pada Hana.


"Kirain kalau beli dua kilo dapat potongan harga jadi 25 ribu, Cak! Ini kan mahal, kemarin cuman 12 ribu!" Hana menyerahkan selembar uang berwarna biru.


"Apa sih sekarang yang gak mahal, Neng! Apa apa naik, sampe bingung saya. Gara gara harga minyak naik, harga yang lainnya ikutan naik. Orang pasar pada ngeluh semua, pasarnya jadi sepi. Jadinya omzet turun drastis. Udah mau lebaran lagi, anak saya sudah kekeuh minta dibeliin baju juga. Kalau Eneng aku kasih harga segitu, anak sama istri saya mau makan apa nanti." keluh Cak Fikri dengan mulut manyun.


" Ya makan nasi lah, Cak. Jangan sampai makan ati. Iya, kalau ati ayam, ati kambing, ati sapi dibikin sambel goreng atau dimasak semur enak." Hana membuang pandangan. Bu Daniel saat mengatakannya.


"Tapi, kalau makan ati karena dijulid-in, sakitnya tuh disini, Cak!"


"Oiya, ya. Bener si Enengnya."


" Ngomongin sambel goreng ati sama semur, bikin laper. Jadi ngiler pengen sambel goreng ati ampela, Neng. Hehehe." celetuk Cak Fikri bergurau lagi.


"Cak Fikri lapar?"


"Cuman becanda, Neng. Jangan dianggap serius." Hana tersenyum, becanda dengan Cak Fikri meredam telinganya dari ocehan bu Daniel. Dan tentunya ada manfaat dan faedahnya.


"Palingan di rumah juga nanti disuguhin sayur asem sama tempe goreng. Apalagi kalau pulang gak bawa untung, dagangan masih banyak, muka dia lebih kecut ketimbang sayur asemnya."


"Hahaha, Cak Fikri bisa aja. Mangkanya kerja itu yang sungguh sungguh, Cak."


"Iya, ini sudah sungguh sungguh, Neng. Tega amat, bilang saya gak serius. Seribu rius malah."


"-Iya, iya, saya percaya kalau Cak Fikri serius."


"Di syukurin aja Cak, walaupun nanti disuguhi sayur asem. Bilangin sama mbaknya, walaupun sayurnya asem tapi mukanya jangan, hehehe."


Keduanya tertawa tawa. Lain halnya bu Daniel yang bermuka masam.


"Sedikit atau banyak rezeki yang kita dapat, kita harus pandai bersyukur. Percaya atau enggak, kalau kita bersyukur, Allah memberi nikmat yang berlipat lipat. Dan sebaik-baik rezeki adalah yang mengandung nilai keberkahan. Jadi Cak Fikri, jangan hanya mengejar banyaknya rezeki, banyaknya uang, tetapi kejar berkahnya rezeki yang kita dapat."


" Ketika rezeki berkah, walau sedikit hati menjadi lapang. Pun sebaliknya, ketika berkah hilang, walau uang atau rezeki banyak, hidup terasa sempit, semua terasa kurang. Begitu lah kira kira, Cak."


"Waah, Alhamdulillah. Pagi pagi udah dapat kultum dari Eneng Ustadzah. Makasih ya, Neng. Benar kata Neng Hana, berapapun rezeki kita harus disyukuri. Kalau rezekinya sedikit, makan nasi sama ikan asin aja udah cukup nikmat. Kalau pengen makan sate, makan steak, nunggu pas dapat rezeki banyak, gitu ya Neng ya, hehehe!" Hana menggelengkan kepala.


"Rezeki bukan hanya berupa uang dan urusan perut terisi makanan enak, Cak. Kita diberi kesehatan, masih diberi napas gratis olah Alloh, itu juga rezeki. Anak yang baik dan saleh, juga rezeki. Bayangkan kalau kita sakit, dan harus masuk rumah sakit. Atau kita sesak napas dan harus bernapas menggunakan alat bantu, biapa biaya yang harus kita keluarkan. Ratusan ribu, jutaan, puluhan juta, ratusan juta bahkan lebih, agar kita sehat. Padahal Allah memberi kita napas ini gratis. Kita hanya tinggal menjaga dan mensyukuri atas apa yang telah Allah beri dengan sebaik baiknya dengan beribadah pada Nya."


"Di dalam kitab Nya juga tertulis ayat bahwa, Tuhan menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah pada Nya.

__ADS_1


"Aduh, kok saya jadi banyak omong sama Cak Fikri. Maaf ya, bukan bermaksud menggurui, saya memang begini kalau lagi kesel. Banyak omong, kadang sebaliknya, diem seribu bahasa. Kalau ini tadi memang pengen ngeluarin uneg uneg. Sekali lagi maaf, ya, Cak."


"Gak apa Neng. Saya malah terimakasih sekali udah diingatkan. Ngobrol sama Neng Hana banyak manfaatnya, daripada gibahin orang, jelek jelekin orang lain."Cak Fikri berkata sembari melirikkan mata, menunjuk pada seseorang.


"Iya, Cak. Ingatlah, jika jika menutupi aib sesama, maka Allah juga menutup aibnya, pun sebaliknya Cak. Bahkan hal itu ada dalam hadits loh!" Hana sengaja lebih mengeraskan suaranya, karena bu Daniel sengaja berbisik bisik dengan seorang ibu disampingnya.


"Yaudah, mana kembaliannya, Cak? Saya buru-buru nih!" pinta Hana gerah, ingin segera pergi dari situ.


"Oiya, Cak. Anaknya Cak Fikri umur berapa? Pengen tahu aja, boleh 'kan?"


"Iya, boleh. Anak saya umur 9 tahun, Neng! "


"Cewek apa cowok?"


"Cewek, Neng. "


"Tingginya, kira kira seberapa? Kurus apa gemuk?"


"Mmm...kalau tingginya sih segini saya, Neng. Anaknya kurus kayak saya." jawab Cal Fikri lugas menunjuk bahunya saat ditanya tinggi badan sang anak.


"Oh, yaudah. Saya permisi kalau gitu. Cuman nanya doang, Cak."


"Bu Daniel, bu Sri, saya duluan ya! Ada pesanan kue, gak banyak cuman 100 box. Ibu juga, pesanan nasi kotaknya 100 box. Jadi kita sibuk, gak sempet dan gak mau kalo hidup dihabiskan cuma buat gibahin orang. Kita gak cuman ngatung sama suami, punya kerjaan sendiri, punya cuan sendiri. Dah ya Bu, Assalamu'alaikum. "


"Waalaikum salam. Waah, sukses ya, Hana. Kue buatanmu laris manis, emang semua enak kok, kue dari tempat kamu aku udah ngicipin semuanya. Nanti kalau aku menang arisan atau kelompokan Yasinan, aku pesen aja sama kamu, Han. "


"Makasih bu Sri. Saya masih perlu banyak belajar. Maklumlah, bukan patissier profesional, masih amatiran. Tapi Alhamdulillah banyak yang suka kue buatanku. Yaudah, saya masuk dulu."


Hana sudah masuk ke pekarangan rumahnya. Tapi ia masih bisa mendengar gumaman bu Daniel.


" Huh, jadi tukang kue aja bangga. Sombong lagi, sok alim juga." gumam bu Daniel dengan mulut melengkung ke bawah saat Hana berbalik.


Astaghfirullahalazim, Ya Allah, sabarkan hatiku dari pedasnya mulut orang orang yang tak bertanggungjawab.


Baru saja Hana hendak melangkah lagi, sebuah mobil berhenti didepan pagar rumahnya, ia pun menoleh. Dan hafal betul siapa pemiliknya.


Ngapain kak Randy kemari, belum jelas apa yang kemarin. Huh, mana bu Daniel masih disitu lagi. Pasti dia bakal jadi biang gosip lagi.


"Hana, tunggu!" serunya, Hana yang sudah mencapai teras berhenti. Jika tak ingat ada bu Daniel dan kawan kawannya, ia ta akan pedulikan seruan itu dan memilih langsung masuk ke rumah.


"Aku ingin bicara sebentar saja, Han. Please!!" pria itu memelas, wajahnya sendu tak ada senyum menghiasi bibirnya. Seperti ada beban menumpuk di wajah itu.


"Suruh masuk, Nduk, Randynya. Gak enak diliat tetangga." pak Hadi muncul dari dalam rumah, masih mengenakan setelan koko warna krem dan sarungnya. Tak lupa peci putih bertengger di kepala menandakan sang Ayah baru saja melakukan shalat dhuha. Lalu mempersilakan Randy masuk.


"Terima kasih, pak!"


Baru saja Randy mendudukkan tubuhnya ke sofa, bu Mira muncul dari dalam dengan sebilah pisau di tangannya. Ia menatap tajam pada Randy seakan kucing yang memergoki tikus berkeliaran di depannya.


"Ckk, masih berani datang kemari rupanya. Ngapain kamu? " ucap ketus bu Mira melihat Randy tak suka.


"Assalamu'alaikum, Bu Mira." Randy tak melupakan adab bertamu, mengucap salam sembari berdiri lalu membungkukkan badan tanda hormat. Walau sambutannya sudah ia duga sebelumnya.


Ia ingin menyalami wanita yang ia anggap ibunya itu, lalu mencium punggung tangannya seperti biasa, tapi ia tak berani melakukannya sekarang.


"Waalaikum salam, kenapa kemari lagi? Masih mau ngerayu anak saya lagi buat mau dimadu? Jangan harap, ya! Saya yang telah mengandung dan melahirkannya ini gak akan merestui. Masih banyak pemuda lain yang single, yang mau menjadi suami Hana." bu Mira nyerocos bak petasan meluapkan amarah. Setelah kejadian waktu itu, baru kali ini ia bertemu dengan Randy.


"Buuu! Jangan suudzon" pak Hadi meraih bahu sang istri. Sedang Hana diam saja, menunduk. Kresek berisi wortel ia letakkan diatas meja ruang tamu.


"Mereka sudah dewasa, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita jangan terlalu turut campur. Ayo, aku bantuin masak didapur!!"


"Tapi, Yah! Dia harusnya dikasih pelajaran, biar gak seenaknya memperlakukan anak kita."


"Sudah, percaya sama Ayah. Anak kita baik baik saja." menarik tangan sang istri ke dapur. Terlihat Bu Mira tak rela meninggalkan Hana yang berdua saja di ruang tamu.


"Beli wortel banyak amat, Han? Mau dibiikin apa?" ucapan basabasi setelah beberapa jenak terdiam. Tak tahu harus mulai dari mana.


"Saya mau coba bikin carrot cake. Tentu saja buat dijual." jawab Hana sama seperti ibunya. ketus.


"Oh!"

__ADS_1


"Oiya, kue yang mau dibawa ke kafe, apa sudah siap. Biar aku bawa sekalian! Aku sengaja mampir, tujuan aku ya itu. 'kan bawa mobil." tujuan kemari ke rumah itu adalah mengambil kue.


"Maaf!" potong Hana.


"Mulai hari ini, saya tak akan mengirim kue ke kafe. Sekali lagi maaf, kemarin saya ingin bahas itu tapi kelupaan. Kak Randy cari tukang kue lainnya saja ya."


"Apa? Memangnya kenapa? " Randy menegakkan tubuhnya karena terkejut.


"Ta- tapi, Han!"


"Saya sudah putuskan. Sudah saya pikirkan masak masak. Saya berhenti men..."


"Han, please. Kita harus profesional. Jangan mencampuradukkan masalah pribadi kita. Kamu memutuskan kita tak jadi menikah, oke. Aku terima, aku akui aku memang salah."


"Aku juga tahu, usahamu sedang sangat dalam keadaan baik. Tapi, jangan berhenti ngirim kue ke tempatku ya."


"Masih banyak tukang kue lainnya, Kak!"


"Tapi buatanmu lebih cocok dilidah mereka, Han! "


"Dan saya juga tak ingin berhubungan denganmu lagi. Dalam hal apapun!" ucap Hana lemah dan menunduk. Tadi dia begitu berapi api dalam berbicara, namun saat teringat gunjingan dari tetangganya, ia seperti hilang kekuatan.


" Baiklah, aku tahu kamu begitu kecewa padaku. Bukan hanya kamu, akupun dalam dilema. Aku juga kecewa pada diriku sendiri. Aku sadar aku tak akan bisa mendapat kalian dua duanya, harus memilih dan kulepas salah satu."


"Aku ikhlas melepasmu, tapi yakinlah cintaku padamu takkan luntur. Walaupun aku bersama dia. Di dunia ini, apa yang kita dapatkan terkadang bertolak belakang dan berbanding terbalik dari apa yang kita inginkan. Walaupun berat, tapi itulah ujian hidup. Tapi aku berharap dalam doa, suatu hari nanti kita kan dipertemukan lagi dalam keadaan yang berbeda, yang lebih baik lagi, dan tak ada penghalang."


"Aku janji gak akan mengganggumu. Tapi kumohon, jangan dibatalkan kerjasama saling menguntungkan ini. Kafeku makin banyak pengunjung, kue buatanmu juga makin terkenal, kan? Ini Saling menguntungkan. Kamu bahkan bisa mengembangkan usaha kamu, aku bisa bantu semampuku kalau boleh. Butuh dana, atau tempat, aku bisa usahakan. Katakan, jangan sungkan."


Setelah perdebatan yang alot, akhirnya Hana mau memikirkan kembali keputusannya berhenti memasok kue.


"Harusnya tadi Kak Randy cukup kirim pesan aja, gak susah kemari hanya untuk


" Kamu lupa ya, nomer aku kamu blokir." jawab Randy sembari mengenakan sepatunya di teras.


"Maaf, saya hanya gak ingin...!"


" Iya, aku ngerti, kok!"


" Biar waktu yang akan membuktikannya."


"Membuktikan apa!"


"Sudahlah, gak usah dibahas, liat aja nanti."


"Salam sama ayah dan Ibu. Aku pergi dulu. Assalmualaikum."


Hana menatap punggung yang menjauh itu, hingga saat di gerbang, bersamaan sebuah sepeda motor yang masuk.


"Waalaikum salam. " jawabnya lirih.


Kedua penumpang sepeda motor tersenyum penuh selidik, saat Randy melakukan mobilnya. Mereka sempat berbasa-basi saat berpapasan tadi.


"Ngapain dia kesini, pengen kubejek muka sok gantengnya itu." Putri yang pertama kali bersuara sampai diteras.


"Ngawur, bukannya sok ganteng. Emang dia ganteng. Kalau gak, mana sohib kita iki kesemsem sama dia." bela Citra. Hana cuma memutar bola matanya.


Note:


Hai hai Hai, masih pada stay gak sih ini. Maafkan aku yang lazy up. Hehehe. Othor lain crazy up aku mah lazy up. Karena.... dunia nyata alias ®📧🅰🕒 life begitu melelahkan. (Alesan dan malesan nih othor.)


Emang iya, hehehe.


Selamat menunaikan ibadah puasa ya. Semoga puasa kira dilancarkan sampai hari kemenangan nanti.


Wihh, telat thor, ini udah hampir pertengahan bukan puasa.


"Ya gak papa lah, daripada enggak sama sekali.


Bisa aja kau thor.... 🙄

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏


__ADS_2