Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Permainan Dimulai bag. 2


__ADS_3

Suasana menjadi hening tidak ada yang berani mengatakan apapun, Angeli menyandarkan kepalanya di bahu Steven.


Setelah merasa tenang Angeli membuka pembicaraan, "Kak, Aku sayang kalian. Aku tahu maksud kalian baik, aku tidak mau kalian berantem gara-gara aku!"


"Biarkan aku yang menentukan semuanya! Aku akan mengambil jalan tengah! Kalau kalian tidak setuju aku akan ikut Kak Ray saja" Tegas Angeli.


"Baik. Apa mau kamu?" tanya Aaron.


"Aku akan kuliah jurusan seni, aku akan ikut ekskul pecinta alam, kuliah dengan dandanan sederhana dan setiap hari naik angkot. Tapi aku tidak akan mewarnai rambut aku, biarkan saja semua alami, dan aku juga tidak mau mengganti nama panggilan aku" Tegas Angeli.


"Aku tidak akan menceritakan identitasku pada siapapun, biarkan saja semua teman-temanku nanti tahu sendiri siapa aku sebenarnya. Dan aku akan mengatakan tantangan dibatalkan kapanpun aku mau disaat aku menyerah!" tegas Angeli lagi.


"Aku setuju." sahut Aaron.


Steven masih saja terdiam, tidak memberi tanggapan apa pun.


"Kak, kenapa kakak diam saja?" tanya Angeli.


"Aku setuju-setuju saja kalau itu keputusanmu." Jawab Steven keberatan.

__ADS_1


"Angel, setiap hari kamu harus memakai kacamata supaya kamu bisa merasakan kehidupan yang normal. Kamu juga tidak boleh memakai kacamata hitam di malam hari." Pinta Aaron.


"Tapi kak, kalau aku tidak memakai kacamata hitam di malam hari aku takut. Aku selalu melihat makhluk halus, aku selalu ketakutan mereka menyeramkan." tegas Angeli.


"Banyak orang yang bisa melihat makhluk halus, tapi mereka baik-baik saja, sikapnya biasa-biasa saja. Selama kita tidak mengganggu mereka, mereka tidak akan mengganggu kita." Aaron kembali menegaskan.


"Baiklah aku setuju." Angeli agak keberatan.


"Steev. Kamu setuju?" tanya Aaron yang melihatnya dari tadi terdiam.


"Kalau itu sudah menjadi keputusan Angeli aku setuju-setuju saja." Steven yang sebenarnya keberatan karena terlalu mengkhawatirkan Angeli.


"Steev. Maafkan kakak ya, kakak terlalu egois. Kakak memang payah, tidak tahu kondisi adik perempuan satu-satunya." Sambil mengulurkan tangan.


"Satu hal lagi Angel, kamu tidak boleh membuat ulah dan berantem di kampus! Kalau itu terjadi, semua menjadi tanggung jawabmu! Termasuk urusan biayanya!" tegas Aaron.


"Baiklah." sahut Angeli.


"Kalian harus ingat pesan mama papa kita, kita harus selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar saat berbicara." Aaron mengingatkan.

__ADS_1


"Baik." jawab adik-adiknya.


"Ya sudah, kalau urusannya sudah beres ayo kita main Eli!" canda Reiner sambil berlari.


"Aku tidak mau dipanggil Eliiii." Angeli marah sambil mengejar Reiner.


Melihat kelakuan adik-adiknya Aaron dan Steven hanya tersenyum.


"Steev. Sekali lagi maafkan aku ya." Aaron mencairkan suasana yang masih terasa dingin.


"Sudahlah kak. Kita kan sudah mendapatkan solusinya." Steven tersenyum.


"Besok ada kenalan kakak dari kampus, kakak akan menitipkan Angeli padanya. Kamu temani kakak menjelaskan kondisi Angeli padanya, karena kamu lebih tahu soal Angeli! Sekarang kamu lakukan kegiatan apa saja yang kamu mau! Aku mau istirahat dulu!" tegas Aaron sambil berlalu meninggalkan Steven.


"Iya kak." jawab Steven.


Steven beranjak dari tempat duduknya menuju keluar, dia masih melihat Angeli dan Reiner masih kejar-kejaran.


"Kakak." Angeli mendekati Steven. "Main ayunan yu!" ajak Angeli sambil menarik tangan Steven.

__ADS_1


Steven tidak bisa menolak keinginan Angeli, dia pun mengaynkan ayunan yang diduduki Angeli, mereka bermain sampai larut malam.


BERSAMBUNG...


__ADS_2