Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Mengukir Cinta di Atas Dusta bag. 2


__ADS_3

Di dalam kelas masih terdengar suara keributan, semua menatap sinis pada Angeli.


Angeli yang tidak tahu apa-apa hanya diam saja, dalam hatinya berkata "Oh, gini ya rasanya dibuly tanpa memberontak." Angeli hanya membiarkannya saja.


Angeli pun membuka pesan WhatsApp, betapa kagetnya Angeli saat membaca semua pesan yang ada.


Dia marah, kesal, tapi semua ia pendam dalam hatinya. "Liat aja Don! Aku kerjain kamu biar tau rasa!" Angeli tersenyum sendiri sambil melihat kearah Doni.


"Angel. Kamu tidak apa-apa?" tanya Rayna.


"Tidak." sambil menundukan kepalanya.


"Kurang ajar kamu Doni, udah bikin aku malu. Sukses ya kamu kerjain aku kayak gini! Liat aja aku akan balas semua perbuatanmu!"


"Aku gak akan mengampunimu kalau sedikit saja kamu berbuat macem-macem sama Surya! Kamu gak tau aku yang sebenarnya, aku akan membuat kamu menyesal!" gumam Angeli dalam hati.


Angeli kembali membuka hand phonenya, ia melihat ada pesan dari Reiner.


Reiner :


"Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! Jahat! "


Angeli :


"Eh, situ ngapain? Ngajak perang?"


Reiner :


"Kasian tu Surya. Cahayanya redup gitu. wkwkwk...!"


Angeli :


"Situ nyebelin!"


Reiner :

__ADS_1


"Situ ngeselin!"


Angeli :


"Eh situ setan ya? ganggu orang lagi belajar!"


Reiner :


"Gak usah terlalu serius lah! Santuy aja! Hahaha!"


Angeli :


"BTW, aku belum sempet nanya kenapa kamu mau kuliah disini?"


Reiner :


"Hahaha. Serumah tapi tak tahu, dasar adik durhaka!"


Angeli :


"Jawab aja kakak teraniaya!"


Reiner :


(Percakapan WhatsApp pun berakhir)


"Apa?" teriak Angeli, mengagetkan semua mahasiswa yang ada di kelas.


Wajah Angeli memerah karena malu, "Sumpah, seumur hidup baru kali ini aku main HP saat belajar." Angeli menatap ketua panitia yang sedang memberikan materi swaster.


"Andani. sebagai keamanan tolong kamu urus dia!" perintah ketua panitia.


"Baik kak." Andani mendekati Angeli. Angeli merasa ketakutan, bukan takut dihukum, tapi dia takut oleh Andani.


Perlahan Andani mendekati Angeli, "mana HP kamu?" Andani mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


Tanpa basa-basi Angeli langsung memberikan hand phonenya.


Andani membuka isi pesan WhatsApp Angeli.


"Maaf kak Boni. Setelah saya membaca isi WhatsApp Angeli, Angeli hanya menjadi korban pembullyan mahasiswa baru yang so keren di kelas ini!" jelas Andani kepada Boni (ketua panitia).


"Siapa?" tanya Boni.


"Doni." tegas Andani, sambil mengembalikan hand phone Angeli.


"Mana yang namanya Doni?" tanya Boni.


Doni mengacungkan tangannya.


"Apa alasan kamu membully Angeli?" tanya Boni.


Doni hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Boni.


"So keren tapi bisu ya?" sambil menatap Doni dengan tatapan sinis.


Semua yang ada di kelas terdiam.


"Dengar teman-teman semua! Kita sebagai manusia diciptakan sama! Dihadapan Tuhan tidak ada yang berbeda! Kita semua harus saling menghormati sesama kita! Kita harus tebar kasih sayang dimuka bumi ini!"


"Setuju?" perkataan Boni penuh semangat.


"Setujuuuuu" seru seluruh mahasiswa.


"Pastikan di kampus kita, tidak ada yang namanya pembulian! Pastikan di kampus kita tidak ada permusuhan! Pastikan di kampus kita selalu menjaga perdamaian!" tambahnya lagi.


"Setujuuuuuu." teriak semua mahasiswa.


"Mau kaya! mau miskin! kita harus saling menghormati! kita harus saling menyayangi! Jangan mentang-mentang di kelas ini kamu kaya terus menindas yang miskin, menghina penampilan yang kumuh, padahal kamu belum tentu semulia mereka! Betul?" Boni seakan-akan memojokan Doni.


"Betul."

__ADS_1


Angeli measa sangat senang karena semua yang dikatakan Boni sungguh bijak. "Kak Boni memang sangat pantas menjadi ketua BEM" bisik Angeli dalam hati.


BERSAMBUNG...


__ADS_2