
Angeli dan Awan naik angkot menuju ke kampus, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari Angeli. Awan pun tidak berani bertanya kepadanya sedikitpun.
Sesampainya di terminal Awan membayar ongkos dia dan Angeli, karena Angeli hanya membawa dua lembar uang seratus ribuan.
"Aku pusing. Aku mual. Rasanya aku mau muntah." ucap Angeli kepada Awan saat turun dari angkot.
"Hal yang wajar non, kan non Angeli tidak pernah naik angkot." Sahut Awan.
"Kepalaku rasanya terus berputar-putar!" sambung Angeli.
Awan bingung dia harus berbuat apa.
"Non, kita harus menyebrang, setelah itu berjalan sekitar sepuluh menit, baru sampai ke kampus!" Kata-kata Awan membuat Angeli semakin pusing.
Awan berjalan di depan Angeli, saat menyebrang Angeli tidak fokus karena kepalanya masih merasa pusing, tiba-tiba "Bruk." Angeli jatuh terserepet motor, Angeli yang masih pusing tidak berbuat apa-apa.
Awan langsung berbalik badan melihat Angeli, tetapi ia tidak bisa cepat tangkas menolong Angeli sebab ia cacat dan memakai tongkat.
Orang yang menyerepet Angeli langsung berhenti, melepaskan helmnya dan mendekati Angeli.
"Kamu tidak apa-apa?" sambil menatap Angeli. Jantungnya berdetak sangat kencang, dan semakin kencang. Begitu pun dengan Angeli, dia pun merasakan hal yang sama, bahkan rasa pusingnya seakan sudah hilang.
"Putri Alexa?" Mendengar kata-kata itu Angeli sangat kaget. Dia menatapnya "Cakep banget, senyumannya bagaikan sang surya" ucapnya dalam hati.
"Namaku Surya." sambil mengulurkan tangan dan membantu Angeli berdiri.
__ADS_1
"Kenapa kau mengenaliku?" tanya Angeli heran.
"Karena hatiku tidak pernah salah. Aku fans beratmu." jawab Surya sambil tersenyum bahagia.
"Awan, kamu duluan saja! Nanti aku menyusul. Tinggal lurus saja kan?" ucap Angeli kepada Awan.
"Baik non." Awan pun pergi meninggalkan Angeli dan Surya.
"Putri Alexa, apa aku boleh minta nomor HP? Apa aku boleh minta foto bareng?" tanya Surya.
"Tentu saja boleh. Tapi, apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Angeli.
"Tentu saja aku akan tanggung jawab soal tadi!" tegas Surya.
"Bukan itu, lagi pula aku tidak apa-apa." sambil tersenyum, "Aku cuma minta kamu rahasiakan identitas aku, panggil saja aku Angel." tegas Angeli.
"Nanti aku jelaskan! Ini sudah siang aku harus segera ke kampus." ucap Angeli.
"Kita kan satu kampus, kamu ikut aku ya." Ajak Surya.
"Satu kampus? Dari mana kamu tahu?" tanya Angeli.
"Dari almamatermu." tegas Surya.
"Kamu duluan saja!" perintah Angeli.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Surya.
"Ini sudah siang, nanti aku jelaskan!" sambil melangkah meninggalkan Surya.
"Angel." Surya meraih tangannya.
Perasaan Angeli semakin tak karuan, dia merasakan getaran yang tidak biasa di hatinya.
"Lepaskan tanganku! Kamu jangan kurang ajar!" sambil menarik tangannya.
"Maaf. Aku minta nomor HP kamu!" pinta Surya.
Tanpa pikir panjang Angeli memberikan kartu namanya kepada Surya dan berlalu pergi.
Surya kembali mengenakan helmnya dan menaiki motornya. Perlahan dia mendekati Angeli yang sedang berjalan.
"Yakin kamu tidak mau ikut?" Surya memastikan.
"Sekali tidak tetap tidak!" Angeli mengacuhkannya.
"Ya sudah, aku duluan. Semoga kita sekelas ya. Dah." sambil meninggalkan Angeli.
Sepanjang perjalanan dia membayangkan senyuman Surya sambil memegang dadanya yang masih berdebar-debar.
Tiba-tiba, " Tit.Tit." suara klakson mobil sangat keras. Angeli merasa kesal dia marah-marah sambil mengejar mobil itu, mobil itu pun melambatkan lajunya.
__ADS_1
Angeli mengetuk-ngetuk mobil itu sambil marah-marah, karena Angeli tidak dianggap dia pun menggoreskan pisau pada mobilnya. Angeli pun berhenti mengejar mobil itu karena merasa puas.
BERSAMBUNG...