
Waktu menunjukkan pukul 18.30, seluruh mahasiswa berkumpul di aula.
Aula itu berada di sebelah barat lapangan, di lantai dua aula merupakan tempat menginap untuk panitia dan pengurus.
Perkemahan berada di sebelah selatan lapangan, tempatnya tiga meter lebih tinggi dari lapangan, sementara kamar mandi terletak di sebelah utara.
Jalan raya di sebelah timur lapangan, dan berdekatan dengan pemukiman warga.
Di belakang aula ada gunung yang tidak begitu tinggi, sehingga sering digunakan untuk belajar mendaki, bahkan anak SD saja sering mendaki gunung ini, ketinggian gunung itu sekitar 1.800 m.
Waktu menunjukkan pukul 20.00, seluruh mahasiswa menuju tenda masing-masing.
Saat naik ke lokasi perkemahan Kayla terpeleset karena jalannya cukup licin dan gelap, sontak membuat teman sekelompoknya kaget.
Surya yang kebetulan didekat Kayla langsung menarik tangan Kayla agar tidak jatuh.
"Awas hati-hati!" ucap Surya.
"Terima kasih sudah menolongku." ucap Kayla langsung akan memeluk Surya.
Andani langsung menghadangnya, "Eh, jadi perempuan jangan agresif gitu dong! Kasihan tuh pacarnya kebakaran!" sambil melirik Angeli.
"Maaf. Aku tidak tahu kalau Surya pacar putri Alexa." ucap Kayla.
"Udahlah, gak usah lebay juga." ucap Angeli.
"Kamu cemburu ya sayang?" Surya mendekati Angeli dan merangkulnya.
"Apaan sih?" sambil mendorong Surya.
"Jangan kurang ajar!" Angeli mundur.
Tiba-tiba, "Aaaaaa!" Angeli berteriak.
"Kamu kenapa?" Steven yang berjalan paling belakang langsung menghampiri Angeli.
__ADS_1
"Kakiku. Kakiku sakit. Ada sesuatu yang menusuk kakiku." ucap Angeli menahan rasa sakit.
Steven langsung menggendong Angeli menuju posko P3K. Semua mengikuti Steven.
"Kalian mau kemana? Langsung ke tenda! Angeli sudah ditangani." perintah Andani.
"Cepat. Aku mau kelompok ini menjadi kelompok terbaik!"
Semua langsung mengikuti perintah Andani dan berlatih untuk pentas esok hari.
Steven pun sampai di posko P3K, dia membuka sepatu Angeli. Ternyata Angeli terkena tusukan ranting keras dan tajam.
"Untung saja pakai hak tinggi, kalau tidak bisa-bisa tembus sampai punggung kaki." ucap Steven sambil mencabut ranting itu.
Angeli hanya diam menahan rasa sakit. "Bagaimana keadaannya?" tanya bu Citra menghampiri.
"Kakinya terkena ranting, mungkin sekitar satu centimeter." sambil memperlihatkan rantingnya.
Steven mengobati luka Angeli dan membalutnya dengan perban. "Ibu, saya titip Angeli dulu, saya mau mengambil sepatu Angeli karena sepatu ini bolong dan penuh darah." ucap Steven kepada bu Citra.
Steven pun pergi meninggalkan Angeli dan bu Citra.
Sesampainya di tenda, "Bukannya persiapkan untuk besok! malah main catur!" melihat Reiner dan Surya sedang main catur.
"Bagaimana kondisi Angel?" Surya khawatir.
"Tenang saja, dia gak bakalan mati!" jawab Reiner santai.
Sementara Steven menukar sepatu Angeli tidak menghiraukan mereka.
"Kak." ucap Surya.
"Tenang saja, paling dia akan berjalan agak pincang!" jawab Steven langsung pergi meninggalkan mereka.
Surya beranjak hendak pergi menyusul Steven, namun dia dihadang oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Santai dong." ucap Reiner "Tenang aja, percaya pada kak Steven, bagi Angeli dia itu lebih dari seorang dokter, bahkan mungkin lebih dari segalanya." Surya pun mengikuti perkataan Reiner.
Steven memakaikan sepatu pada Angeli, "Coba berjalan." perintah Steven.
Angeli berdiri dan mencoba melangkahkan kakinya.
"Aaaaa. Masih sakit." Angeli kembali duduk.
"Kalau kamu sulit berjalan, nanti kakak akan minta tongkat pada panitia." ucap Steven.
"Tidak mau." bantah Angeli.
"Ya sudah, kamu istirahat bersama ibu ya." ucap bu Citra.
Angeli mengangguk, Steven pun mengantarkan Angeli.
Waktu berlalu begitu cepat, Angeli tidak bisa memejamkan mata, sementara ia melihat ibu Cinta sudah terlelap.
Perlahan Angeli beranjak dari tempat tidur dan mencoba belajar berjalan.
"Pokoknya aku harus berjalan normal!" gumam Angeli.
Perlahan Angeli berjalan mendekati kaca, dia melihat sosok perempuan berbaring diatas hamparan rumput diujung berdirinya deretan tenda perkemahan.
"Kenapa dia berbaring disitu? Siapa dia? Apa dia pingsan?" bisik hati Angeli, "Rasanya aku pernah melihat dia." Angeli melihat sekeliling sudah sepi.
Dia melihat ke arah jam tangannya yang selalu menempel di tangan kanannya. Waktu menunjukkan pukul 23.45.
"Apa dia hantu?" bisik hati Angeli.
"Akh, Aku tidak peduli siapa dia!"
Angeli membuka pintu secara perlahan agar tiada ada yang terganggu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1