
Sebelum berangkat kuliah Angeli melihat diary dari Aaron, Angeli merasa sedih melihat diary itu.
Perlahan ia membukanya, rasa sakit menusuk hatinya. Ia tidak mau menulis di diary, "Demi mama dan papa aku akan menulis disini" gumamnya dalam hati.
Dengan berat hati, Angeli menulis di diary.
Dear Diary, I Hate Diary!
Kamu tau gak apa alasannya?
Bagiku. Diary adalah sebuah buku penghantar kematian.
Tahu gak alasannya apa?
Aku tidak suka. Dulu, sekarang, dan selamanya. Ingin rasanya aku membakarmu!
Tapi. Dengan terpaksa aku akan menuliskan semua yang ingin kutulis disini.
Agar kelak, saat aku mati. Aku bisa dikenang!
(membuka lembaran baru)
Dear Diary, I Hate Diary!
Kamu tau gak apa alasannya?
Bagiku. Diary adalah sebuah buku penghantar kematian.
Tahu gak alasannya apa?
Aku tidak suka. Dulu, sekarang, dan selamanya. Ingin rasanya aku membakarmu!
Pelajaran hidup 1
Senin kemarin saat aku pertama kali naik angkot rasanya pusing, mual, sumpek, rasanya tersiksa banget deh!
Tapi aku menemukan sesuatu hal yang baru, aku bisa belajar "SABAR."
Di perjalanan saat berangkat aku melihat dua siswi SMA menaiki angkot.
Sebut saja si A, dandanannya sederhana. Tapi si B dandanannya cukup glamor, menurut aku gak pantes deh anak SMA dandanannya kayak gitu.
__ADS_1
Aku menyimak obrolan mereka saat melewati panti jompo.
A: "Udah lama aku gak nengok nenek di panti jompo."
B: " What? Nenekmu di panti jompo? aku sih ogah kalau nenekku disuruh tinggal di panti jompo. Amit-amit deh!"
Mereka pun terdiam.
Pelajaran yang dapat aku ambil:
"Sifat seseorang tidak terletak pada penampilannya!"
(membuka lembaran baru)
Dear Diary, I Hate Diary!
Kamu tau gak apa alasannya?
Bagiku. Diary adalah sebuah buku penghantar kematian.
Tahu gak alasannya apa?
Aku tidak suka. Dulu, sekarang, dan selamanya. Ingin rasanya aku membakarmu!
Ketika pulang kuliah, aku merasakan bagaimana tersiksanya menunggu penumpang, disini aku belajar "SABAR".
Aku banyak menyimak obrolan para penumpang yang bekerja sebagai pedagang keliling walaupun penghasilannya sedikit tapi mereka menikmatinya.
Pada intinya pelajaran yang dapat aku ambil adalah " SYUKUR".
"Tok. tok. tok." terdengar suara pintu kamar Angeli.
"Siapa?" tanya Angeli sambil menutup diarynya.
"Reiner." terdengar suara dari balik pintu.
"Tumben ketuk pintu? Masuk!" ucap Angeli.
"Pinjem mobil dong. Mobilku masih di Jakarta!" Sambil membuka pintu.
"Pakai aja yang biru!" sambil mengenakan tas.
__ADS_1
"Itu kurang keren. Yang hitam aja ya." rayu Reiner.
"Mau aku pakai!" sambil keluar kamar.
"Kan kamu ada si merah kesayanganmu!" sahut Reiner.
"Goresan kemarin belum aku cat! Kalau mau ambil yang biru, kalau gak mau gak usah!" sambil menuruni tangga menuju ruang makan.
"Ya udah." Reiner membawa kunci mobil.
"Bu Anti. Mana bekal aku?" tanya Angeli.
Bu Anti pun memberikan bekalnya. Tanpa basa-basi Angeli meninggalkan ruang makan.
"Angel, kamu tidak sarapan dulu?" tanya Aaron.
"Males!" sambil pergi meninggalkan Aaron.
Di luar Angeli melihat Steven sedang membaca koran, "Kak aku berangkat dulu!" sambil mencium pipi Steven.
"Kenapa dandanan kamu masih saperti kemarin?" tanya Steven.
"Aku gak mau bahas akh. Dah." Angeli langsung pergi meninggalkan Steven, ia masuk ke dalam mobil dan berangkat.
Di dalam mobil Angeli hanya diam menatap keluar, "Maaf non, non ada masalah? tadi saya lihat non sangat bahagia. Tapi sekarang..." perkataan Cahya terpotong.
"Diam! Bukan urusanmu!" bentak Angeli, Cahya terdiam dengan perasaan heran.
"Antar aku sampai terminal. Setelah itu kamu pulang bawa barang-barang kamu dan berkas-berkas untuk kuliah! Bereskan urusanmu dengan pamanmu dan minta izin pada keluargamu!" Perintah Angeli.
"Maaf, aku lupa usiamu lebih tua dari aku, seharusnya aku tidak berbuat seperti itu" Angeli merendah.
"Tidak apa-apa non. Apa boleh saya meminta sesuatu?" tanya Cahya.
"Apa?" Angeli bingung.
"Saya mau memutar musik sepanjang perjalanan setiap hari." ucap Cahya.
"Oke. Tapi kalau aku menyuruh menghentikan musik, kamu harus berhenti!" tegas Angeli.
"Baik non." Cahya pun memutar lagu-lagu kesukaannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...