
Surya memegang tangan kanan Angeli, "Angel. Saat aku bertemu denganmu, entah kenapa aku ingin memilikimu, bahkan aku merasa kau sudah jadi miliku."
"Kamu memang cantik mempesona, tapi saat aku melihat tatapan matamu, aku merasa kau menyembunyikan sesuatu."
"Aku merasa tatapan matamu penuh kesedihan, apa penyakit ini yang kamu sembunyikan?"
"Angel, apapun yang terjadi aku akan selalu menyayangimu, bangunlan sayang."
Tiba-tiba Steven datang menghampiri Surya, "Ehm, udah berani sayang-sayangan, belum izin juga!"
"Maaf kak." Surya merasa malu, "Kak apa Angeli akan baik-baik saja?" tanya Surya penuh harap.
"Dia akan baik-baik saja kalau dia masih semangat untuk hidup" Steven menghela nafas.
"Sejak dulu. Kalau Angeli pingsan seperti ini, dia harus terus diajak komunikasi sampai sadar. Aku yang selalu melakukannya."
"Saat aku coba tanya, dia selalu menjawab 'aku pergi entah kemana, tiba-tiba tempat itu gelap dan menakutkan, aku berjalan dikegelapan itu mengikuti suara yang memanggilku akhirnya aku bisa pulang, kalau tidak ada suara yang memanggilku mungkin aku tidak bisa pulang'."
"Saat dia pingsan dia suka memanggil nama siapa saja yang dia ingat, saat dia memanggil nama itu, sontak dia harus langsung merespon. Bahayanya kalau dia berhenti memanggil nama, itu yang membuat dia sulit sadar, bahkan sampai berhari-hari pun pernah."
"Aku memanggilmu kesini karena aku takut dia memanggil-manggil namamu, makanya kamu harus berada di sampingnya. Baru kali ini dia mencintai seorang laki-laki." Jelas Steven.
"Doni! Aku ingin membunuhmu!" terdengar suara Angeli mengigau, nafasnya pun tidak teratur.
Steven langsung berbisik pada Angeli, "Sayang, kamu tidak boleh dendam! Masih banyak orang yang menyayangimu! Sadarlah sayang."
"Kak Steven. Kakak dimana?" Angeli kembali mengigau.
"Kakak ada disini, disampingmu." dengan nada penuh harap dia cepat sadar.
Steven terus mengajak Angeli berkomunikasi, namun hasilnya buruk, sekitar satu jam Angeli tidak merespon apa-apa.
__ADS_1
Om Boyke kembali memeriksa Angeli, "Kondisi Angeli sangat buruk, kalau dia tidak sadar besok, dia akan semakin parah. Terus ajak komunikasi, kalau kalian cape suruh siapa saja giliran mengajak dia berkomunikasi!" perintah Om Boyke.
"Baik om" jawab Steven.
"Aku coba lagi ya." pinta Surya.
"Oke, aku ambil makanan dulu. O ya Sur, kalau kamu mengajak dia berkomunikasi terus menanyakan nama langsung saja sebutkan nama, takutnya dia akan kehilangan ingatannya tentang obrolan itu." Jelas Steven pun sambil berlalu pergi bersama Om Boyke meninggalkan Angeli dan Surya.
"Angel. Aku akan menyinari hatimu, aku akan menuntunmu pulang. Kamu jangan lama-lama disana, fpkirkan orang-orang yang menyayangimu!"
"Pikirkan orang-orang yang selalu berjuang untukmu! Pikirkan aku yang selalu menunggumu, yang selalu mencintaimu, dan selalu ingin memilikimu. Bangunlah Angel!" harap Surya.
"Setidaknya. Berilah aku kesempatan untuk menemanimu disisa hidupmu." Surya mencium punggung tangan kanan Angeli.
"Jangan kurang ajar!" suara Angeli lirih, ia mencoba menrik tangannya tapi tubuhnya terlalu lemas.
"Surya. Lepas!" pinta Angeli sambil mengeluarkan air mata.
"Terima kasih sudah menemaniku." ucap Angeli sambil memalingkan wajahnya dan kembali memejamkan mata.
Steven memasuki kamar Angeli, membawa makanan dan minuman.
"Surya. Kamu melamun...?" tanya Steven mengagetkan Surya.
"Kak Steven, Angel sudah sadar." Surya tersenyum, tapi dihatinya terbersit kesedihan mengingat Angeli yang sengaja memalingkan wajahnya.
"Angel, kamu makan dulu ya!" pinta Steven. Angeli pun membuka matanya dan melepaskan masker oksigennya.
"Aku belum mau makan." jawab Angeli.
Steven terus membujuk Angeli, pada akhirnya Angeli pun mau makan. Setelah makan Angeli langsung tidur.
__ADS_1
Di tengah malam Angeli terjaga dari tidurnya, dia melihat Surya duduk menemaninya.
"Anak ini, kenapa tidur disini?" ucap Angeli dalam hati.
"Surya, bangun!" ucap Angeli.
"Apa sayang?" dengan nada lesu.
"Sayang! Sayang! Kamu pergi ke kamar Reiner! tidur disana!" perintah Angeli.
"Galak banget sih." Surya tidak mau pergi.
"Surya. Ayo dong." Angeli mengusirnya.
"Badan kamu masih lemes ya?" Surya tersenyum.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Angeli.
"Aku kerjain kamu, biar aku tetap disini." ucap Surya dalam hati.
"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri gitu?" Angeli heran.
"Kalau kamu ngusir aku lagi dari sini, aku akan..." Surya melirik Angeli dan mendekatinya.
"Jangan kurang ajar! kamu tidur aja di sofa, kalau mau di kamar ini!" perintah Angeli.
"Tapi di sofa ada Kak Steven" Surya membantah.
"Itu kan masih luas!" Angeli cemberut.
"Iya, iya. Aku tidur disana!" Surya pun pergi menuju sofa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...