Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Sayang, Kamu tidak Gila!


__ADS_3

Aaron tersenyum melihat kelakuan Angeli dan Reiner, dia berharap Reiner dapat membuat Angeli selalu bahagia dan semangat.


Perlahan Aaron mendekati mereka, "Angel. Kakak mau berangkat ke Jakarta, kamu jaga diri baik-baik ya!" perkataan Aaron membuat Angeli takut.


"Kak?" Angeli merunduk bingung harus mengatakan apa, di dalam hatinya ia berharap Aaron tidak pergi kemana-mana.


"Angel, disini kan ada Reiner, ada keluarga Pak Satya, kamu jangan khawatir ya. Nanti juga Om Boyke akan menemani kalian!" Aaron mencoba menenangkan hati Angeli.


"Tenang saja kakakmu ini akan menemanimu setiap saat." ucap Reiner sambil merangkul Angeli.


"Besok sore kakak akan kembali, lusa kan kamu mulai swaster." tegas Aaron.


"Iya kak." Angeli mengangguk.


"Rei. Jaga Angeli dengan baik ya!" Perintah Aaron.


"Siap bos!" sahut Reiner.


Aaron pun pergi ke Jakarta.


"Kak Rei." ucap Angeli.


"Panggil aku Rei saja, aku tidak mau kamu panggil kakak! Serasa udah tua tahu!" bantah Reiner.


"Kamu mau kuliah dimana?" tanya Angeli.


"Gak tahu. Liat aja nanti!" sambil menuju ke dalam.


"Rei, ingat pesan papa dan mama, kita harus bicara bahasa Indonesia yang baik dan benar!" perintah Angeli.

__ADS_1


"Sudahlah jangan terlalu formal, serasa udah tua, lagi pula mama dan papa kan gak ada!" bantah Reiner sambil masuk kamar.


Tidak lama kemudian Om Boyke datang, "Angel, bagaimana kondisi kamu sekarang?" sambil menghampiri Angeli.


"Om apa aku gila? please, jawab Om! Jangan ada yang disembunyikan.' Angeli memohon.


"Sayang. Kamu tidak gila! Kamu hanya mengalami gangguan syaraf otak yang membuat emosi kamu jadi tidak stabil."Om Boyke menenangkan Angeli.


"Kamu jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja! kamu harus selalu berfikir positif dan selalu berdo'a untuk kesembuhanmu!"


Angeli terdiam mendengar perkataan Om Boyke. Tidak sepatah pun keluar dari mulutnya. Melihat Angeli yang hanya terdiam Om Boyke menyuruh Angeli pergi tidur.


Angeli masuk ke dalam kamarnya, dia merasa kesepian dan gelisah tak menentu. Satu-satunya hal yang diinginkan olehnya adalah 'Steven selalu ada disisinya, menemaninya'.


Angeli berbaring di atas tempat tidurnya dan mengambil hand phonenya. Dia kaget melihat ratusan panggilan tak terjawab dari Steven.


Selain panggilan tak terjawab dia mendapatkan satu pesan WhatsApp dari Steven.


Steven :


Angeli :


"Maaf telat balesnya baru buka HP, Aku sayang kakak. Aku rindu kakak. Dunia ini terasa gelap tanpa kehadiran kakak di sampingku. Cepat temui bidadarimu ini ya."


Steven :


"Sejak kapan kamu mau dipanggil bidadari?"


Angeli :

__ADS_1


"Sejak kamu mengatakan aku gila!"


Steven :


"Maaf."


Angeli :


"Aku tidak bisa hidup tanpamu."


Steven :


"Aku akan segera menemuimu, kalau urusanku sudah beres."


Angeli :


"Sejak kapan 'Aku-Kamu?' ketularan Reiner ya?"


Steven :


"..."


Percakapan pun berakhir karena Angeli ketiduran, Steven yang tak kunjung mendapatkan balasan merasa gelisah.


Steven kembali mengirim pesan.


Steven :


"Angel. Sayang. Bidadariku, ingat aku yang selalu menyayangimu. Kau adalah 'Cahaya Hidupku' kau adalah 'Cahaya Harapanku'. Bersinarlah selalu, walaupun dunia begitu gelap di matamu buktikanlah kalau kau mampu menyinarinya! I love U.

__ADS_1


Jangan lupa berdo'a, jangan lupa makan dan jangan lupa cuci muka setelah tidur siang."


BERSAMBUNG...


__ADS_2