Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Apakah Aku Gila?


__ADS_3

Sore telah tiba, Aaron dan Angeli baru datang dari kantor, Angeli langsung menuju kamar Steven. Tanpa mengetuk pintu Angeli langsung memasuki kamar Steven.


"Kakak!" Teriak Angeli mengagetkan Steven.


"Angel. Kenapa kamu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" Steven kaget.


Melihat rambut Steven acak-acakan Angeli langsung mendekati Steven. "kakak kenapa? Stres ya?"


"Kakak tidak apa-apa" Steven terlihat menyembunyikan sesuatu.


"Kakak lihat mata aku! Apa yang kakak sembunyikan?" sambil memegang kepala Steven. Steven tidak mengatakan apa-apa, bahkan dia menutup kedua matanya.


"Kakak! Buka mata kakak!" Sambil mencekik Steven. Steven pun langsung membuka matanya.


Angeli menatap mata Steven, seketika itu juga dia tahu semua yang dikatakn Steven kepada Citra dan keluarga Pak Satya.


Angeli pun melepaskan tangannya dari leher Steven dan berlari menuju kamarnya. Angeli mengunci pintu kamarnya dan menangis.


Terdengar dari luar suara Steven memanggil-manggil namanya sambil mengetuk pintu, tapi Angeli tidak menghiraukannya.


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku diciptakan berbeda? Apa memang aku harus mengakui kalau aku ini sakit jiwa? Apa aku benar-benar sakit jiwa?" pertanyaan itu berkecamuk di dalam hatinya.


Angeli memejamkan mata, dia membayangkan kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya. "Kak Steven, Aku sayang kakak." Bisik hatinya.


Angeli pun kembali membuka matanya, mencuci wajahnya dan memandang bayangan wajahnya di dalam ceremin.

__ADS_1


"Mungkin sudah saatnya dunia tahu siapa Putri Alexa yang sebenarnya, aku akan membuktikan kepada dunia kalau aku kuat, aku harus bisa menerima kenyataan pahit ini." Angeli mencoba menegarkan diri.


"Angel, buka pintunya sayang!" Steven masih mengetuk pintu. Dengan berat hati Angeli membukakan pintu untuk Steven.


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Steven melihat mata Angeli yang merah dan sembab.


"Kepalaku terasa panas!" Keluh Angeli.


"Kak, kalau kakak mau pulang ke Jakarta kakak pulang saja, aku disini akan baik-baik saja, kan ada kak Aaron dan keluarga pak Satya." Perkataan Angeli membuat Steven kaget.


Seumur hidupnya baru kali ini dia mendengar Angeli memperbolehkan dia pergi, biasanya juga kalau dia akan pergi kemana saja Angeli suka mencegahnya.


"Angel, tatap mata kakak!" Angeli pun menatap Steven.


"Apa yang kamu katakan tidak sesuai isi hati kamu kan?" Steven heran.


Steven memeluk Angeli, "Sayang. Maafkan kakak ya, kakak harus pulang dulu. Besok ada hal penting di kampus, kakak akan meminta keringanan dari pihak kampus supaya kakak bisa tinggal disini." Steven menenangkan Angeli.


Steven dan Reiner pun pulang ke Jakarta, setelah mobilnya berlalu pergi. Angeli langsung menuju halaman belakang dan menaiki ayunan sambil menangis.


Aaron merasa gelisah melihat kelakuan Angeli, dia pun langsung mendekati Angeli.


"Angel. Sayang. Kita masuk yu, sudah malam!" ajak Aaron.


Angeli langsung menuruti perintah Aaron tanpa berkata-kata.

__ADS_1


"Aku mau tidur di kamar kak Steven." ucap Angeli.


"Kamu makan dulu ya!" pinta Aaron.


"Aku tidak mau makan!" sambil masuk kamar Steven.


Aaron merasa cemas, dia langsung menghubungi om Boyke. Seketika itu juga Angeli keluar dari kamar dan merebut hand phone kakaknya.


"Jangan hubungi Om Boyke, kalau kakak mau menghubungi Om Boyke besok saja!" Angeli mengembalikan hand phone Aaron dan kembali ke kamar Steven.


Angeli membaca sebuah tulisan yang ditempel di cermin Steven.


"Ingat ya kita tidak pernah lepas dari tiga golongan manusia : ada yang menyukai kita, ada yang membenci kita dan ada yang biasa-biasa saja terhadap kita."


Setelah membaca tulisan itu Angeli memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dia melihat Aaron berbaring di sofa ruang keluarga tapi Angeli tidak mempedulikannya.


Di kamar dia membuka tirai bagian depan, menatap lurus ke arah gereja. " Tuhan. Aku sudah durhaka. Selama ini aku sudah jauh dari-Mu" bisik hatinya, Angeli pun kembali menutup tirainya.


Jam sudah menunjukkan pukul 23.45, tapi dia tidak merasa ngantuk, tiba-tiba dia mendengar suara ayunan yang dimainkan.


Angeli membuka tirainya sedikit, dia melihat sosok gadis cantik sedang bermain diayunannya, "mungkin itu putri Bu Anti." pikirnya dalam hati. "Tapi, kapan dia datang ya? akh sudahlah aku mau tidur."


Angeli pun berbaring di atas ranjangnya, saat ia hendak terlelap tiba-tiba dia merasakan ada seseorang yang memegang kakinya.


Seketika itu ia kembali terbangun dan langsung keluar membawa selimut, Angeli pun tidur di sofa yang bersebrangan dengan sofa yang ditiduri Aaron.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2