
Sesampainya di lokasi kemping, Angeli langsung pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setelah itu Angeli mengganti pakaiannya dengan pakaian paskibra.
Steven membantu mengepang rambut Angeli sebelum dilipat agar terlihat rapi. Steven memang sering menata rambut Angeli saat Mama Kirana tidak ada, makanya dia sudah terbiasa.
Waktu menunjukkan pukul 06.45, seluruh mahasiswa sudah berbaris di lapangan, sementara para dosen dan tamu undangan berada di tempat khusus yang disediakan di sebelah selatan lapangan.
"Angel, kamu cantik." ucap Surya yang berada di sebelah kanan Angeli.
"Terima kasih." jawab Angeli.
"Berapa centimeter tinggi pantofel yang kamu gunakan?" tanya Surya lagi.
"Cuma sepuluh." jawab Angeli lagi.
Tapi tetap saja tidak bisa menyaingi tinggi kami." sahut Reiner yang berdiri di sebelah kiri Angeli.
"Mohon perhatian, upacara akan segera dimulai, diharapkan seluruh peserta upacara mengikuti upacara pembukaan ini dengan khidmat." peringatan dari panitia.
Upacara pun dimulai, sampai tiba saatnya pengibaran bendera merah putih berjalan dengan lancar. Setelah kembali ke tempat semula, "kenapa kepalaku sakit sekali" bisik hati Angeli, "Aku tidak boleh pingsan! seumur hidup, saat upacara aku tidak pernah pingsan."
Matahari terasa semakin panas. Arahnya berhadapan dengan Angeli, sehingga Angeli merasa tidak tahan. "Aku tidak boleh pingsan! Aku tidak boleh pingsan! Aku tidak boleh lemah!" kata-kata itu berkecamuk dalam hati Angeli, sampai akhirnya penglihatannya gelap.
Menyadari Angeli akan terjatuh, Reiner langsung menangkapnya. Dia langsung balik kanan dan membawa Angeli kepada Steven.
__ADS_1
Setelah mengantarkan Angeli kepada Steven, Reiner langsung kembali ke lapangan.
Steven membuka lipatan dan kepangan rambut Angeli.
"Angel, sayang kamu bangun. Lihat keindahan alam disini! Kamu tidak boleh menyia-nyiakannya!" Steven terus mengajak Angeli berkomunikasi sambil memegang tangannya.
Upacara telah selesai, semua peserta swaster mendirikan tenda, makan dan istirahat. Kegiatan akan dimulai pukul 10.00.
Perlahan Angeli membuka matanya, "Ternyata kamu bisa pingsan juga ya, dimana Angeli yang dulu kokoh berdiri tiada tertandingi?" ucap Reiner yang sudah mengenakan pakaian pramuka lengkap.
"Ngeledek." Angeli cemberut.
"Ayo bangkit! Kamu gak mau kan kalau kelompok kita kalah? Ya kalau kalah, kamu yang salah." Reiner menakuti Angeli.
"Ya kamu pergi aja sendiri! kan kamar mandi laki-laki dan perempuan beda!" bantah Reiner.
"Aku saja yang antar." sahut Andani yang kebetulan lewat di depan mereka.
Angeli pun pergi bersama Andani.
"Kak. Apa tidak bahaya kalau Angeli dibiarkan bersama Andani?" tanya Reiner kepada Steven.
"Kamu tenang saja." jawab Steven santai.
__ADS_1
Setelah Angeli mengganti baju, dia keluar dari kamar mandi. Andini hanya melihat Angeli dari kejauhan.
Perlahan Doni mendekati Angeli, "Hay cantik." ucap Doni membuat Angeli kaget.
"Kamu ngapain disini? ini kan tempat perempuan!" ucap Angeli.
"Galak banget sih. Aku kangen sama kamu tau." rayu Doni.
"Jangan dekati aku lagi!" Angeli kesal.
"Kalau aku tidak mendapatkanmu, jangan harap Surya juga bisa memilikimu!" ancam Doni sambil berlalu pergi bersama Rio, karena Rio sangat dekat dengan Doni.
Rio rela disuruh oleh Doni demi mendapatkan informasi tentang Doni. Bahkan ancaman tadi pun dia rekam untuk laporan kepada Aaron.
Angeli perlahan berjalan ke arah Andani, "Apa yang dilakukan Doni?" tanya Andani.
"Tidak apa-apa. Aku khawatir pada Surya." raut wajah Angeli terlihat cemas.
"Memangnya kenapa?" tanya Andani.
"Aku takut Doni melakukan hal yang buruk pada Surya" jawab Angeli.
"Tenang saja, aku ada dipihakmu, selama kamu ada dipihakku!" Andani tersenyum.
__ADS_1
BERSAMBUNG...