
Steven langsung membuka pintu kamar Angeli dengan kunci cadangan.
Betapa kagetnya, saat ia melihat gulungan kertas berserakan di kamar Angeli. "Kamu kenapa Gel?" sambil menghampiri Angeli yang sedang mengacak-acak rambutnya.
"Aku pusing Kak, udah dua hari aku coba gambar. Tapi tetap saja hasilnya kacau." Angeli menampakkan wajah prustasinya.
Steven merasa heran melihat Angeli yang tidak menampakkan kerinduannya kepada Surya.
"Biasanya kan gambar kamu bagus? Kamu mau buat baju baru?" tanya Steven heran.
"Bukan Kak. Aku coba gambar wajah orang. Kakak tahu sendiri kan, kalau aku paling payah dalam menggambar wajah." perkataan Angeli membuat Steven semakin heran.
Steven sengaja tidak mengingatkan Angeli kepada Surya. Dia hanya terdiam.
"Kak Steven? Aku kangen kakak." sambil memeluk Steven. Angeli baru sadar kalau Steven ada di sana.
"Kakak juga kangen. Kamu baik-baik saja kan?"
"Selama jantung ini masih berdetak, berarti aku baik-baik saja."
"Dasar adik aneh!"
"Tidak usah disebutkan lagi, aku memang aneh khan?" sambil mengambil kertas baru untuk menggambar.
"Memangnya wajah siapa yang kamu gambar?"
"Aku juga tidak tahu, yang aku tahu dia arwah gentayangan yang gak tahu arah tujuan."
"Tumben kamu tidak takut?"
__ADS_1
"Sudahlah, jangan dibahas lagi." Angeli kembali menggambar.
"Bagaimana kalau kamu meminta bantuan Rio?"
"Ide bagus."
Angeli pun langsung meminta bantuan Rio. Dia menyebutkan ciri-ciri perempuan yang ingin disebut Ayang itu.
Rio menggambar dengan sempurna, wajah yang dia gambar sama persis seperti aslinya.
Walaupun Rio berhasil menggambarnya, Angeli tetap merasa bingung karena tidak tahu identitasnya. Dia hanya menatap gambar itu.
"Kenapa masih kelihatan bingung?" tanya Steven.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa? Walaupun Rio berhasil menggambar wajahnya, aku tetap sulit untuk membantunya. Dia tidak ingat identitasnya."
Angeli mengulurkan kertas itu kepada Steven.
Steven kaget melihat gambar itu, "Ini kan Maylea?" Seketika wajah Steven terlihat sedih.
"Kakak kenal?"
Steven tidak mampu mengucapkan apa-apa.
"Kak?"
"Dimana dia? Kamu bisa melihatnya kan?"
"Dia ada di kamar ini, tapi dia sepertinya tidak ingat pada kakak. Sepertinya dia menginginkan sesuatu kak."
__ADS_1
Steven melepaskan kalung yang dia pakai. "Lima tahun yang lalu, disaat hari natal, kakak ingin sekali memberikan liontin ini. Dia sangat menginginkannya. Tapi sayangnya, kakak terlambat."
"Maylea dibawa ke Singapur." Steven menghela nafas, "Kakak mendengar kalau Maylea sudah meninggal."
"Tolong kamu berikan liontin ini padanya. Katakan kalau kakak sangat mencintainya." Steven memberikan liontin itu pada Angeli.
Angeli berjalan menghampiri Maylea dan memberikan liontin itu, tapi sayangnya Maylea langsung menghilang. Angeli hanya mendengar, "Steven, aku menunggumu."
Tidak hanya Angeli, ternyata Steven juga mendengarnya.
Angeli langsung mengembalikan liontin Steven.
"Kak, cari Maylea!" perintah Angeli.
"Tapi, acara tunangan kamu?"
"Pergilah Kak, kejar cinta kakak! Aku akan baik-baik saja." Angeli meyakinkan.
Steven langsung meminta izin untuk pergi ke Singapur untuk mencari Maylea.
****
Sesampainya di bandara Singapur, Steven bertemu dengan orang tua Maylea yang hendak pergi ke Indonesia untuk mencari Steven.
Orang tua Maylea menceritakan bahwa sudah lima tahun Maylea koma akibat kecelakaan. Tapi kemarin dia sadar dan menyebut-nyebut nama Steven Alexander. Orang tuanya sadar kalau Steven adalah temannya waktu SMA.
Betapa bahagianya Steven, saat melihat Maylea. Dia pun memberikan liontin yang selama lima tahun ini dia pakai.
BERSAMBUNG...
__ADS_1