Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Ikuti Aturanku


__ADS_3

Tepat pukul 05.00 Angeli terbangun dan langsung keluar dari kamar untuk melihat mobilnya.


"Surya? Kamu menginap disini?" tanya Angeli yang tersipu malu karena belum cuci muka.


"Iya. Sampai jumpa cahayaku. Terima kasih kamu sudah memberikan kebahagiaan untukku, dah." sambil berlalu pergi meninggalkan Angeli.


Steven mendekati Angeli yang sedang senyu-senyum sendiri.


"Pagi-pagi sudah melamun!" Steven mengagetkan Angeli.


"Apaan sih kakak?" sambil cemberut manja.


"Kak. Pinjem tangan kakak" sambil menarik tangan kanan Steven.


"Kenapa kamu gemeteran kayak gini?" Steven heran.


"Pegang dada aku deh kak!" tangan Steven hendak diletakan di dada Angeli.


"Ogah! Takut kesetanan!" sambil menarik tangannya. "Memangnya ada apa didada kamu?" tanya Steven.


"Kakak. Aku merasa ada sesuatu yang menusuk hatiku." sambil berputar-putar bahagia.


"Aku tuh gak tau kenapa kak, saat pertama kali melihat Surya aku merasa gejolak jiwaku ini terguncang, aku sulit mengendalikannya."


"Apa aku mencintainya?" tanya Angeli kepada Steven sambil memeluknya. Seumur hidup baru pertama kali Angeli mengatakan hal seperti itu.


"Ehm, keliatannya ada yang baru ketemu sama first love nya nih?" Steven tersenyum.


"Selamat pagi Non." kata pak Satya.


"Non rajin sekali, pagi buta begini sudah bangun." Pak Satya tersenyum.

__ADS_1


"Bapa bisa saja, kan sudah biasa aku bangun pagi." Angeli tersenyum.


"Non Angel, tuan muda Steven, perkenalan ini Cahya keponakan saya, dia siap menjadi supir Non Angel." jelas pak Satya.


"Terima kasih pak, apa mobilnya sudah datang?" tanya Angeli.


"Sudah non, ini kuncinya, saya permisi dulu non." sambil pergi meninggalkan mereka.


"Cahya. Kita duduk dulu saja, ayo!" ajak Steven. Angeli dan Cahya pun mengikuti Steven.


"Cahya. kamu cakep banget ya. Tapi kenapa kamu mau jadi supir?" tanya Angeli.


"Ehm." Steven berdeham mendengar perkataan Angeli. "Sejak kapan kamu genit kaya gini?" tanya Steven.


Angeli hanya tersenyum merasa malu.


"Cahya kenapa kamu diam?" tanya Angeli.


"Bantu paman kerja apa?" tanya Angeli.


"Jualan tahu bulat non." sambil merunduk.


Angeli terdiam sejenak, dia melihat Steven hanya diam saja tidak berkomentar apa-apa.


"Kamu tidak kuliah?" Angeli kembali bertanya.


"Boro-boro non. Kondisi ekonomi kami tidak memungkinkan untuk kuliah, untuk sehari-hari saja sulit. Sekolah juga mengandalkan beasiswa." tegas Cahya.


"Kamu mau kuliah?" tanya Angeli.


"Mau non." sambil menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Kamu akan saya biayai kuliah, asalkan kuliah di tempat saya, mengambil jurusan yang sama dengan saya, satu kelas dengan saya, dan ikuti semua aturan saya! Bagaimana?" tegas Angeli.


"Saya bersedia non" Cahya terlihat senang.


"Angel. Kamu serius?" tanya Steven yang terlihat ragu.


"Aku serius." Angeli menatap Steven.


Aaron, Reiner dan Rio mendekati mereka dan berkenalan dengan Cahya.


"Rio. Kamu menginap disini juga?" tanya Angeli pada Rio.


"Iya non, saya akan tinggal disini" sambil tersenyum.


"Tinggal disini?" Angeli merasa heran.


"Dia anak asuh aku." jelas Aaron.


"Oh, pantesan." Angeli mengangguk-angguk.


Steven yang dari tadi diam angkat bicara, "Angeli juga sekarang sudah punya anak asuh!"


"Maksud?" tanya Aaron.


"Dia barusan ngangkat Cahya jadi anak asuhnya! Dia bilang mau biayai kuliah Cahya." jelas Steven.


"Eh. Angel! yang namanya ngangkat anak asuh ya dari kecil, bukan orang yang sudah dewasa!" sahut Reiner.


"Akh sudahlah aku tidak mau membahas ini lagi! aku mau mandi dulu!"


"Cahya ini kunci mobilnya, mobil yang warna merah!" Sambil berlalu meninggalkan mereka. Mereka pun melakukan kegiatan masing-masing.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2