
Waktu menunjukkan pukul 17.00, Angeli baru sampai di vila Alexander (sekarang di sebut rumah aja, kan sudah dijadikan tempat tinggal tetap). Angeli merasa sangat senang karena dia melihat mobil Steven.
Tidak memikirkan rasa lelah, rasa pusing, dan kesalnya menunggu angkot yang begitu lama. Angeli langsung berlari menuju ke kamar Steven.
"Kakak." Sambil membuka pintu kamar Steven, "Kenapa tidak ada?" Angeli menuju kamar mandi Steven dan mengetuknya, masih tidak ada jawaban. Angeli pun membukanya, "Tidak ada juga!" Angeli pun langsung ke kamarnya sambil cemberut.
Angeli membuka pintu kamarnya dengan perasaan sedih, "Baru pulang?" terdengar suara Steven.
"Kakak." sambil berlari memeluk Steven.
"Aku kangen sama kakak." sambil menangis.
"Sudah jangan cengeng!" sambil mencubit hidungnya. "Kakak juga kangen sama kamu."
"Kak." sambil menatap Steven.
"Apa?" tanya Steven.
"Apa yang kakak inginkan dariku? tanya Angeli.
"Maksud kamu apa?" mengingat selama ini tidak pernah mengatakan hal seperti itu.
"Aku orang yang licik kan kak! Semua yang aku inginkan selalu kakak kabulkan, sementara aku tidak pernah memberikan apa yang kakak inginkan." Angeli menundukan kepalanya, mengingat Steven kehilangan keceriaannya sejak pindah kesini.
"Tanpa bicara pun kamu sudah tahu apa yang kakak inginkan, iya kan? Untuk apa kakak bicara lagi, kalau hasilnya kamu tetap tidak mengerti apa yang kakak inginkan." Steven mengelus rambut Angeli.
"Mulai dari sekarang aku akan mengabulkan keinginan kakak." sambil tersenyum.
__ADS_1
"Yakin?" tanya Steven sambil tersenyum.
"Ya, kalau aku bisa, kalau gak bisa ya enggak." sambil tersenyum.
"Oke." Steven duduk di sofa kamar Angeli.
Angeli duduk di tempat tidurnya, "Tadi Reiner mengatakan kalau kamu membawa pisau ke kampus!" Steven telihat khawatir.
"Udah biasa juga kan, kakak tidak usah khawatir!" Angeli terlihat kesal. Steven mendekati Angeli dan meraih kedua tangannya.
"Sayang. Kamu mau menuruti semua keinginan kakak kan?" tanya Steven sangat lembut.
Steven memang paling jago merayu Angeli, seumur hidupnya tidak pernah merayu perempuan lain.
"Mau kakak apa?" Angeli membentak, namun Steven tetap sabar.
Steven menghela nafas, "Dengarkan kakak, sambil membuka kacamata Angeli. "Anggap saja kelemahan kamu itu hanyalah setitik air di lautan!"
"Kamu istimewa, Tuhan menciptakan kamu istimewa! Tangan kamu, tangan ini mempunyai kelebihan."
Memang sejak Angeli tertimpa besi tenda yang terbakar saat ulang tahunnya yang ketujuh itu tangan Angeli bisa mengeluarkan panas apabila dia marah, apabila kemarahannya tidak dilampiaskan tubuhnya akan terasa seperti terbakar.
"Kakak minta sama kau, kamu berhenti membawa pisau, kakak takut pisau itu menghancurkan hidupmu bukan melindungimu."
"Bagaimana kalau sampai menghancurkan kehidupan orang lain?" Steven bingung harus merayu Angeli dengan cara apa.
Angeli melepaskan tangannya dari genggaman Steven, dia mengambil pisau yang tadi dipakai menggores mobilnya, setelah itu ia pergi membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah tas berisi pisau.
__ADS_1
Steven kaget melihat koleksi Angeli. Selama ini walaupun Steven sangat dekat dengan Angeli, tapi dia tidak tahu kalau Angeli mempunyai pisau sebanyak itu.
"Tinggal ini, tidak ada lagi." Ucap Angeli.
"Berapa jumlahnya?" tanya Steven.
"Tinggal 21! sisa dari yang kalian rampas selama ini!" jawab Angeli.
"Kamu punya semua ini dari mana?" Steven heran, karena selama ini dia tidak pernah membeli pisau.
"Dari Andani, waktu taruhan balap kuda, dia kalah, dia ngasih aku 40 sesuai permintaanku!" tegas Angeli.
Tanpa basa-basi lagi Steven langsung membawanya keluar dari kamar Angeli.
Malihat Steven keluar, Angeli mengikutinya.
"Steev. Kamu kenapa?" tanya Aaron yang baru pulang dari kantor. Steven hanya terdiam.
"Kak. Semua perjanjian batal!" ucap Angeli kepada Aaron.
Steven kaget mendengar perkataan Angeli.
"Kembalikan semua barang-barangku!" pinta Angeli.
Aaron berpikir kalau Steven yang sudah menyuruh Angeli berkata seperti itu, tanpa pikir panjang Aaron langsung memberikan barang-barang Angeli sambil mengatakan "Game Over!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1