Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Mengukir Cinta di Atas Dusta bag. 3


__ADS_3

Hari ini materi sampai jam 14.00, dari jam 14.00 s/d 15.00 mahasiswa yang mempunyai jadwal petugas upacara wajib latihan. Sementara yang lain boleh pulang.


Semua petugas sudah berkumpul di lapangan, perlahan Rio mendekati Angeli, "Maaf Non, apa boleh saya minta tolong?" tanya Rio.


"Panggil aku Angel! Kamu mau minta tolong apa?"


"Saya ada tugas dari pak Aaron, jadi saya mau titip Awan pulang bersama Angel." ucap Rio.


"Oke. O ya kamu kan seharusnya tidak menjadi pemimpin upacara, kamu kan bukan mahasiswa asli." Angeli penasaran.


"Saya mahasiswa asli." sambil tersenyum.


"Maksudnya?" Angeli bertanya lagi.


"Saya masuk S1 lagi, jadi setelah lulus nanti Pak Aaron akan memberi saya pilihan, tetap menjadi polisi atau mengejar cita-cita saya." tegas Rio sambil tersenyum.


"Ngobrol terus! Mau latihan gak?" tanya Reiner.


"Ntar aja!" jawab Angeli.


"Angel, coba deh kamu hibur Surya!" perintah Reiner.


"Malu." bentak Angeli.


"Ngapain juga malu? Kamu kan udah gak punya malu di depan Surya." Reiner meledek.


"Oke." jawab Angeli kesal.


Perlahan Angeli mendekati Surya, "Kamu marah sama aku?" tanya Angeli sambil duduk di dekat Surya.


"Kapan kamu akan putus dengan Doni?" tanya Surya kesal.


"Baru juga jadian. Hhh!" Angeli memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Doni itu pacar Friska, berarti posisi kamu itu selingkuhan." Surya merasa sangat kesal.


"Aku tidak mencintai Doni! Bodohnya aku. Aku menciptakan sejarah menyebalkan dalam hidupku, Doni berhasil menduduki posisi pacar pertama aku. Sebel! Aku mau jadi pacar dia karena dipaksa!" jelas Angeli pada Surya.


"Dipaksa apa?" tanya Surya semakin kesal.


"Katanya kalau aku gak mau jadi pacarnya dia akan berbuat kurang ajar padaku dan bakal nyakitin kamu." jelas Angeli.


"Kalian jangan ngobrol terus!" perintah Andani.


"Maaf kak." sahut Surya dan Angeli sambil berlalu pergi ke tempat latihan.


Setelah selesai latihan semua mahasiswa pulang. Sebelum pulang Surya tidak menyapa Angeli, ia langsung pulang begitu saja. Rio langsung mengikuti Surya sesuai perintah Aaron.


Di perjalanan Surya membawa sepeda motornya dengan kecepatan di atas normal. Surya menyusul mobil Doni dan menghentikannya.


"Doni! Keluar sekarang juga!" teriak Surya.


Doni keluar dari mobilnya, Surya langsung menghajarnya. Rio yang melihat kejadian itu langsung merekamnya.


"Karena Angeli adalah orang yang sangat dicintai kamu." jawab Doni santai.


"Kurang ajar!" sambil memukul lagi.


"Aku muak sama kamu! dari dulu, aku selalu berada diposisi di bawah kamu! Sekarang aku mau kamu lihat bagaimana aku menghancurkan hidup orang yang kamu cintai!" sambil menghajar Surya.


"Kalau kamu benci sama aku, jangan bawa-bawa Angeli!" kekesalan Surya semakin menjadi-jadi.


"Siapapun yang kamu cintai, akan aku hancurkan! Aku tidak mau melihatmu bahagia! Lihat saja nanti bagaimana aku akan menghancurkan harga diri Angeli dalam genggamanku!" sambil mendorong Surya dan berlalu pergi.


"Angel, bagaimana aku harus meyakinkanmu kalau Doni bukan orang yang baik?" gumam Surya dalam hati sambil berlalu meninggalkan tempat itu.


Sesampainya di rumah Surya memberi pesan pada Angeli.

__ADS_1


Surya :


"Angel, aku mohon sama kamu, kamu harus berhati-hati. Doni itu jahat! aku tidak mau sedikit pun kamu terluka dalam gengamannya."


Angeli :


" Gak usah lebay deh!"


Surya :


"Angel, aku serius!"


Angeli :


"Tenang saja tidak akan terjadi apa-apa!"


"Oh ya Sur, kamu mau ngerjain tugas bareng sama Reiner gak? kalau mau dateng aja ke rumah ya."


Surya :


"Oke."


Angeli :


"Nyebelin juga ya, saat swaster ada tugas segala."


Surya :


"Aku kesana sekarang."


Pecakapan via WhatsApp pun berakhir.


Surya langsung bergegas pergi menuju rumah Angeli, dengan harapan dia juga bisa membicarakan langsung kelakuan Doni selama ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2