
Hari sudah malam Angeli belum pulang juga. Seumur hidup Angeli tidak pernah pulang malam sendirian. Ketika matahari terbenam dia sudah ada di rumah.
Kejadian ini benar-benar membuat orang-orang yang ada di dalam rumah merasa cemas.
Steven bergegas mengambil kunci mobil hendak mencari Angeli. Saat Steven menuruni tangga dia melihat Angeli yang berjalan sempoyongan. Tanpa pikir panjang Steven langsung membawanya ke ruang keluarga dan membaringkannya diatas sofa.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Mama Kirana kepada Angeli.
"Berantem lagi ya? Tumben kamu kalah?" tanya Aaron sinis.
"Aku dikeroyok." jawab Angeli kesakitan.
"Sudah aku bilang kamu itu harus berubah! Kamu itu perempuan!" bentak Aaron pada Angeli.
"Apa pedulimu? Mentang-mentang kamu kakak tertuaku kamu bisa memerintahku seenaknya? Mama dan Papa aja gak pernah ngatur-ngatur aku! aku dibiarkan aja seperti anak liar! Mungkin memang mama dan papa gak pernah sayang sama aku!" Angeli beranjak dari sofa lalu pergi ke kamarnya.
Mendengar perkataan Angeli Mama Kirana terisak menitiskan air mata, tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Sesekali ia menatap pintu kamar Angeli berharap Angeli datang menghampirinya. Tapi hasinya nihil, Angeli tak kunjung keluar dari kamarnya.
"Aaron." Mama Kirana membuka pembicaraan.
"Mama sudah tidak sanggup lagi, tolong kamu bicara pelan-pelan pada Angeli. Katakan alasan mama dan papa memperlakukan dia berbeda dengan kalian!" pinta Mama Kirana sambil mengusap air mata dan berlalu meninggalkannya.
Sementara itu Angeli di kamarnya menangis menyesali kata-kata yang ia keluarkan menyakiti hati Mamanya.
Aaron pun bergegas menuju kamar Angeli yang kebetulan tidak dikunci, dia pun perlahan membuka pintu kamar Angeli.
Betapa kagetnya Aaron saat hendak memasuki kamar Angeli, dia melihat Angeli memegang pisau.
Angeli yang melihat Aaron yang akan masuk kamarnya langsung mengamuk dan berteriak "keluar!" sambil melemparkan pisau yang dipegangnya, untung saja pisau itu tidak mengenai Aaron.
Situasi tidak terkendali, Angeli semakin menjadi-jadi semua barang-barang yang ada di kamarnya dilemparkan. Melihat situasi ini Steven langsung menghampiri Angeli sambil mameluknya.
"Angeli sayang, tak peduli seluruh dunia memusuhimu, aku akan selalu ada untukmu." kalimat yang terucap dari Steven langsung meluluhkan hati Angeli, Steven pun melepaskan pelukannya.
Melihat Steven menenangkan Angeli, Aaron langsung mengambil pisau yang dilemparkan Angeli tadi untuk diamankan. Aaron menutup pintu kamar Angeli dan membiarkan Steven menangani Angeli, karena dia yakin Steven bisa mengatasi semuanya.
__ADS_1
Steven memapah Angeli yang terkulai lemah ke atas tempat tidurnya dan menghapus air mata yang terus bercucuran dari mata Angeli.
"Kak, apa yang harus aku lakukan?" tanya Angeli penuh sesal.
"Angel, setiap orang melakukan sesuatu pasti ada alasannya meskipun alasan itu tidak diungkapkan." Aaron sambil menatap Angeli yang hanya diam tersipu.
"Angel, tugas kamu adalah mencari alasan kenapa mama dan papa memperlakukanmu dengan beda." Sambil mengelus kepala Angeli agar dia merasa nyaman.
"Caranya bagaimana kak?" Angeli kembali terisak, teringat lontaran kata-kata yang diucapkannya tadi pasti menyakiti hati Mama Kirana.
"Bicara baik-baik pada mama dan tanyakan semua alasan kenapa mama dan papa memperlakukanmu beda." jawab Steven santai.
"Aku malu kak." bantah Angeli.
"Bila perlu kakak akan menemanimu." sambil tersenyum menenangkan Angeli.
"Sekarang sudah malam, kamu tidur dulu!" sambil beranjak dari tempat tidur Angeli.
"Kak, temani aku!" Pinta Angeli.
Steven berajak pergi dari kamar Angeli, dan menyuruh salah satu ART untuk membereskan barang-barang yang berantakan di kamar Angeli, tanpa suara yang mengganggu Angeli.
****
Matahari mulai terbit, Steven mulai membuka matanya. Alangkah terkejutnya dia melihat Angeli berada di sampingnya.
"Angel, kamu tidur disini? tanya Steven kaget.
"Nggak. Aku cuma berbaring sejak tiga jam yang lalu, lagi pula jarak kita jauh kan?" jawab Angeli sambil memainkan hand phonenya.
"Tetap saja tidak boleh, kamu kan punya kamar sendiri!" Steven merasa kesal.
"Kak, semalam aku tejaga dari tidurku dan tidak bisa tidur kembali, sejak aku pulang semalam aku merasa ada...." tiba-tiba Steven memotong pembicaraan Angeli "Aku mandi dulu, setelah itu kita temui mama" sambil bergegas ke kamar mandi.
"Ya, gagal curat deh..." Gumam Angeli.
__ADS_1
Sekitar tiga puluh menit Angeli menunggu Steven, akhirnya Steven keluar juga dari kamar mandi.
"Ya ampun laki-laki, mandinya lama sekali, sambil melihat Steven yang langsung menyisir rambutnya di depan cermin. Sedangkan Steven tidak menghiraukan apa yang dikatakan Angeli.
"Ya, dicuekin" sambil beranjak dari tempat tidur Steven dan melangkah mendekatinya.
"Kakak kenapa ga pakai baju dulu?" tanya Angeli.
"Suka-suka kakaklah." jawab Steven santai.
Angeli terus menatap kakanya, sambil memikirkan hal-hal yang terjadi lima tahun belakangan ini. Sejak lima tahun lalau, Steven selalu memakai liontin itu.
Melihat Angeli yang hanya terdiam Steven menggodanya "Kenapa melihat aku seperti itu? Tubuh aku bagus kan?" sambil memperlihatkan otot tangannya.
"Aku tidak melihat tubuh kakak!" jawab Angeli dingin.
Steven memperhatikan tatapan Angeli, akhirnya dia menyadari kalau tatapan matanya tertuju pada liontin yang dipakainya.
"Kamu jangan coba-coba mencari informasi tentang liontin ini!" sambil menarik tangan Angeli keluar dari kamarnya.
"Tunggu aku diluar!" sambil menutup pintu kamarnya.
Angeli menyandarkan badannya di dekat pintu kamar Steven, sambil bertanya-tanya kenapa Steven memakai liontin perempuan.
Steven keluar dari kamarnya, tanpa basa-basi lagi mereka menuju kamar mamanya.
"Tok. tok. tok.", Steven mengetuk pintu kamar Mama Kirana.
"Masuk!" ucap Mama Kirana.
Tanpa pikir panjang Steven dan Angeli masuk ke dalam kamar, Steven mengisyaratkan agar Angeli tidak menampakkan dirinya di hadapan Mama Kirana.
BERSAMBUNG...
Rekomendasi :
__ADS_1