Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Camping bag. 5


__ADS_3

"Saat aku sadar aku melihat seorang laki-laki, aku bertanya padanya, siapa kamu? dia menjawab 'Steven' sambil menatap mataku, saat itu juga Steven mempunyai kemampuan membaca pikiranku lewat tatapan mata, makanya aku tidak bisa menyembunyikan segalanya dari Steven." jelas Angeli.


"Tunggu. Siapa Steven itu? Apa aku mengenalnya?" tanya Ayang.


"Steven itu kakak kesayangan aku, aku tidak tahu dia kenal kamu atau tidak." ucap Angeli.


"Lanjutkan ceritanya!" pinta Ayang.


"Sejak itu aku bisa tahu isi hati seseorang dengan melakukan kontak mata dengan siapapun yang aku tatap." jelas Angeli.


"Saat itu aku tidak mengenal siapa pun, bahkan Steven yang mengenalkanku pada mama dan papa, aku sangat menyayangi kak Steven diatas segalanya." Angeli terdiam dan menghela nafas.


"Sebenarnya kita mau kemana? Jalanannya susah begini? Nanjak lagi!" ucap Angeli.


"Memangnya kamu tidak sadar kalau kita sedang mendaki gunung?" ucap Ayang.


"Ngapain?" tanya Angeli kaget.


"Di puncak gunung ada mahluk menyeramkan! Kamu mau belajar jadi pemberani kan?" tegas Ayang.


Angeli terdiam kebingungan, langkahnya terhenti "Ya sudahlah, udah terlanjur basah, ya tenggelam aja!" ucap Angeli pasrah.


"Jadi, maksud kamu, aku harus tatap mata kamu untuk mencari identitas aku?" Ayang berbalik badan, memegang wajah Angeli dan menatap matanya.


Setelah beberapa waktu, Angeli hanya terdiam dan perlahan meneteskan air mata, "Ada apa Angeli?" tanya Ayang penuh harap.

__ADS_1


"Aku tidak dapat melihat apa-apa, mungkin karena kamu kehilangan ingatan, makanya pikiran kamu kosong!" Angeli menangis.


"Ya sudah, jangan menangis! Kita pasti bisa cari cara lain." sambil mengusap air mata Angeli yang mengalir deras dipipinya.


"Angeli. Jangan menangis terus, hanya gara-gara ini!" Ayang menenangkan Angeli.


"Bukan gara-gara aku tidak bisa melihat itu, tapi saat aku menatap matamu, aku merasa sangat sedih, sangat-sangat sedih." Ayang memeluk Angeli.


"Mungkin itu perasaan kamu yang sebenarnya!" ucap Angeli.


"Aku juga merasakan kalau kamu menunggu sesuatu, menurut perkiraanku sekarang kamu sedang mencarinya." jelas Angeli.


"Tapi apa?" Angeli merasa lemas.


"Sudah! Jangan dipikirkan lagi! Ayo terus berjalan!" pinta Ayang.


"Angeli. Pelajaran pertama yang harus kamu ingat, kalau kamu melihat makhluk halus kamu jangan melakukan kontak mata!" ucap Ayang.


"Kenapa?" karena makhuk itu akan menganggap kamu menantangnya, bisa saja dia mengikutimu!" jelas Ayang.


"Oke." Angeli setuju.


"Jadi merinding begini." bisik hati Angeli.


Sepanjang perjalanan Angeli tidak menghiraukan apa yang dia lihat, dia berpegang erat pada tangan Ayang. Ayang pun tidak berkata apa-apa.

__ADS_1


"Akhirnya tiba di puncak." ucap Ayang.


"Kepalaku pusing, aku mual, kakiku sakit, aku cape!" ucap Angeli sambil memegang lututnya.


Saat Angeli kembali menegakkan badannya, tiba-tiba "Aaaaa!" teriak Angeli, sambil mundur. Untung saja Ayang meraih tangannya, sehingga Angeli tidak terjauh ke jurang.


"Kamu melihat apa?" tanya Ayang.


"Manusia besar, eh bukan, seperti harimau, tapi bukan juga, apa gorila ya? atau... " kata-kata Angeli terputus.


"Stttt, diam! Tenang!" perintah Ayang.


Angeli melihat sekeliling, makhluk itu sudah tidak ada.


Angeli pun duduk di atas batu, "Aku lemes." Angeli mengeluh.


"Istirahat saja dulu, sampai matahari terbit, kita akan melihat keindahannya dari sini" ucap Ayang.


"Aku haus." rintihan Angeli.


"Maaf ya." ucap Ayang merangkul Angeli dan duduk disampingnya.


Angeli menyandarkan tubuhnya pada Ayang, "Kenapa aku merasakan kenyamanan dan kehangatan saat didekat Ayang? apa mungkin aku ada hubungan dengannya? Akh, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya." gumam Angeli dalam hati.


Waktu terus bergulir, matahari pun terbit. Angeli menikmati keindahan matahari terbit hingga akhirnya ia terlelap di atas batu besar di puncak gunung itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2