Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Skype Alex's


__ADS_3

"Woy skype!" teriak Reiner melalui voice call WhatsAppnya yang dikirim ke grup Seven Alex's.


Ternyata kakak-kakaknya merespon dengan cepat. Dalam hitungan detik mereka sudah aktif.


"Ada apa sih? Brisik banget." ucap Ray.


"Lagi stres." uacap Aaron.


Sementara Steven dan Leon diam saja.


"Mana Kak Cris?" tanya Reiner. "Mestinya dia yang harus aktif." sambungnya lagi.


"Gak usah ditungguin! Ntar juga nyusul, naik beca!" ucap Leon bercanda.


"Ada masalah apa sih sebenaranya? Kalau skype layak gini, pasti ada masalah. Kalau gak ada masalah pasti ada hadiah." ucap Ray.


"Eh, bukannya Kak Aaron, Steev sama Ray satu atap ya? skypenya satu aja! Biar hemat." tambah Ray.


"Holang kaya mah bebas." ucap Reiner.


"Termasuk ngehotspot dari Kakak kesayangan juga bebas. Gitu?" Steven angkat bicara.


"Eheh, buka kartu." ucap Reiner.


"Cepetan, mau bahas apaan sih?" Ray tidak sabar.


"Bentar, tunggu Cris dulu." ucap Aaron.

__ADS_1


Aaron terus meminta Cris untuk mengaktifkan skypenya. Akhirnya Cris pun aktif.


"Ada apa?" tanya Cris dingin. Suasana pun menjadi hening.


"Aku dibuat pusing sama kelakuan Angel. Tadi siang, Cahya dipulangkan ke Indonesia. Terus aku ngurus-ngurus dia supaya bisa masuk kuliah lagi di sini. Bikin malu aja!" ucap Aaron kesal.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Angel? Sehingga dia mengambil keputusan sangat gegabah seperti itu?" tanya Leon.


"Ini semua gara-gara Kak Cris." ucap Reiner.


"Eh, anak kecil. Gak usah nyolot deh!" Cris terlihat kesal.


"Kalau bukan gara-gara Kak Cris. Angel gak bakalan kayak gitu." Steven marah.


"Eh, aku cuma melakukan hal terbaik buat Angel!" Cris juga terlihat marah.


"Diam!" ucap Cris dan Steven bersamaan.


"Cie, cie, tim yang kompak." Reiner bercanda.


"Reiner. Kalau kamu bercanda terus, Kakak off." ucap Cris


"Oke." Reiner pun langsung diam.


"Cris, kakak sangat menyayangkan keputusan kamu seperti itu. Seharusnya, kamu membiarkan Angel menjalin hubungan dengan Surya. Selama mereka tahu batas, apa salahnya sih?" ucap Aaron.


Mendengar perkataan Aaron, Cris hanya diam saja.

__ADS_1


"Memangnya, Surya itu siapa?" tanya Ray yang tidak tahu apa-apa.


"Pacar Angeli, yang terpaksa harus diputuskan atas permintaan Kak Cris." jelas Reiner.


"Wah, Angel punya pacar? Keren. Aku aja kalah. Gimana orangnya? Cakep gak?" tanya Ray sambil menampakkan wajah narsisnya.


"Oh, jadi ceritanya Angeli patah hati gitu?" sambung Leon.


"Gimana keadaan Angeli sekarang?" tanya Steven yang terlihat sangat khawatir.


"Sejak datang kesini, dia ngurung diri di kamar. Kelihatannya dia stres banget. Soalnya, yang terdengar dari kamar dia hanya suara piano. Kayaknya dia main piano dengan cara kasar. Nada yang dikeluarkan gak beraturan banget." jelas Leon.


"Ini udah beberapa hari lho Kak. Apa dia baik-baik saja?" tanya Steven.


"Tenang saja, dia masih hidup. Kulkas di kamarnya sudah diisi penuh dengan makanan dan minuman. Jadi, jangankan mengurung diri selama satu minggu. Satu bulan pun kayaknya gak bakalan mati." ucap Leon.


"Mati, mati! Gak baik tahu ngomong kayak gitu. Seharusnya, untuk manusia itu meninggal." ucap Cris.


Semua terdiam mendengar perkataan Cris.


1 menit kemudian.


"Krik-krik. Gak mau lanjut? Kalau gak lanjut aku off." ucap Cris.


"Lanjut!" ucap Aaron, Ray, Leon, Steven dan Reiner bersamaan.


"Ada apa nih? Kayaknya rame banget." Tiba-tiba Angeli muncul.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2