
Steven pun melanjutkan ceritanya "Sejak saat itu Angeli takut air, dia tidak pernah berani untuk berenang, bahkan sampai saat inipun mandi saja menggunakan air hangat."
"Angeli sengaja sekolahnya satu kelas dengan Reiner, karena itu keinginan Angeli, Reiner pun bisa melaporkan apapun yang terjadi pada Angeli."
"Awalnya Angeli bersikap baik di sekolah, tapi karena sering dibuly dia berubah total, dia suka membuly orang."
"Saat usianya tujuh tahun Angeli kembali mengalami kecelakaan, saat itu ulang tahun Angeli diadakan malam hari. Saat papa menyalakan lilin tiba-tiba mati lampu Angeli yang takut gelap berlari sambil berteriak, keadaan menjadi kacau."
"Entah siapa yang tidak sengaja menjatuhkan lilin yang sudah menyala itu. Kebakaran pun terjadi Angeli tertimpa besi tenda yang terbakar."
"Sejak saat itu Angeli takut api, bahkan Angeli tidak mau tinggal di rumah itu lagi, kami pun pindah ke Jakarta."
"Kelakuan Angeli semakin menjadi, ia semakin keras kepala, kelakuannya sangat brutal, dia sering berantem di sekolah, ia tidak segan-segan menghajar orang-orang yang membuat dia kesal, bahkan ia juga sering menonjok kaca kelas."
"Saat dia mengamuk ia tidak melihat siapa lawannya, kalau ada guru yang mencoba melerai pertengkarannya guru itu menjadi korbannya juga. Kebiasaan buruk paling berbahaya yang sering tidak terkontrol adalah membawa pisau ke sekolah."
"Mungkin bu Citra sudah memahami pembicaraan saya sejauh ini, menurut saya informasinya cukup." Steven menghentikan pembicaraan walaupun masih banyak hal yang disembunyikan.
__ADS_1
"Itu sudah cukup!" tegas Citra.
"Satu hal yang harus Ibu sampaikan kepada dosen-dosen di kampus, tolong jangan membangunkan Angeli ketika tertidur saat pembelajaran berlangsung, katakan saja Angeli mengalami gangguan syaraf otak." Pinta Steven.
"Baiklah saya mengerti, kalau begitu saya pamit dulu." Citra pun pamit dan meninggalkan kediaman keluarga Alexander.
"Kak. Apa Angeli separah itu?" tanya Reiner yang tidak begitu mengingat masa lalu Angeli.
"Lebih parah dari itu." ucap Steven sedih.
"Tuan muda, kami pamit ke belakang dulu" Ucap Pak Satya.
"Rei. Ayo kita siap-siap, nanti sore kita pulang ke Jakarta!" perintah Steven.
"Baik kak." Reiner masih merasa bingung.
Reiner membayangkan masa lalu yang dilalui bersama Angeli sangatlah indah, tapi hanya karena Reiner kalah dalam ptestasi belajar dia sering bertengkar dengan Angeli bahkan jauh dari kesan saudara.
__ADS_1
Dalam hati kecil Reiner ia sangat menyesal sudah merasa iri dengan apa yang dipunyai Angeli, Reiner pun membuka hand phonenya dan memandang foto Angeli.
"Angel. Maafkan aku. Aku berjanji akan memperbaiki hubungan kita, aku akan mencoba menciptakan suasana seperti dulu." Reiner pun tersenyum sambil meletakan hand phonenya di atas meja.
Reiner menghampiri Steven dan bertanya "Kak, apa itu alasan Angeli tidak mau merayakan ulang tahun lagi?"
"Ya. sepertinya begitu, traumanya tidak bisa disembukhan.
"Benar-benar tidak bisa kak?" Reiner masih penasaran.
"Entahlah. Seiring berjalannya waktu dia akan memberikan jawabannya.
"Maksud kakak apa?" tanya Reiner.
"Hidupnya kan harus sesuai keinginannya, kita tidak bisa memaksa." jawab Steven aga bingung.
"Angel, pokoknya aku akan mengembalikan kisah masa lalu kita bagaimana pun caranya, aku ingin seperti dulu, saat dimana kita berbagi kasih sayang."
__ADS_1
"Maafkan aku Angel, aku tidak tahu kalau dibalik semua ini kamu menangung penderitaan yang begitu berat." sesal Reiner di dalam hatinya.
BERSAMBUNG...