Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Aku tidak bisa Hidup Tanpamu


__ADS_3

Entah berapa lama Angeli tertidur, saat dia bangun dia sudah berada di kamarnya memakai infusan.


Samar-samar ia melihat orang yang berada di sekelilingnya.


"Angel, kamu sudah bangun?" Om Boyke sambil tersenyum.


"Om. Apakah aku benar-benar sakit jiwa?" Angeli terlihat seperti orang linglung.


"Tidak sayang. Kata siapa kamu gila?" Om Boyke menenangkan Angeli.


Angeli hanya terdiam mendengarkan kata-kata Om Boyke, "Om Boyke memang selalu menutupi kondisiku, dia membicarakan semuanya hanya kepada Steven." Pikirnya dalam hati.


"Kenapa aku merasa sangat lemah? kenapa seluruh tubuhku terasa lumpuh? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa mengingat apa yang terjadi denganku?" pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam benak Angeli.


"Angel, makan dulu ya!" perintah Aaron.


"Sebenarnya aku kenapa kak?" tanya Angeli.


Aaron terdiam mendengar pertanyaan Angeli, "Aku memang kakak yang payah, aku sama sekali tidak bisa menanganimu." pikirnya dalam hati.


"Kak?" Angeli heran melihat kakaknya yang hanya terdiam.


"Angel. Apa yang kamu pikirkan, sangat mempengaruhi tubuhmu. Apa kamu kehilangan semangat untuk hidup?" tanya Om Boyke. "Sebutkan saja apa yang kamu inginkan!"


"Jadi itu yang membuat aku lemah." Bisik hati Angeli.


"Angel, Kenapa kamu diam saja?" tanya Aaron.


"Kepalaku sakit, rasanya sangat panas, aku ingin sendirian!" Angeli meneteskan air mata.


"Tapi Angel... kata-kata Aaron terhenti, "Aku ingin sendiri!" teriak Angeli.

__ADS_1


Om Boyke mengisyaratkan agar mereka segera keluar.


"Baik sayang. Tapi kamu makan ya." Aaron berdiri dan menyimpan piring makanan di dekatnya, Aaron pun keluar bersama omnya.


"Aku tidak boleh lemah!" Bisik hati Angeli "Aku harus kuat, aku harus bisa membahagiakan orang-orang yang menyayangiku disisa hidupku."


Angeli melahap semua makanan yang sudah disiapkan dan meminum air yang tersedia disana.


Perlahan Angeli melepaskan infusan yang ada di tangannya sambil meneteskan air mata.


"Aku tidak mau memakai ini lagi, banyak sekali bintik-bintik bekas infusan ini, rasanya sakit sekali. Aku harus kuat, agar aku tidak diinfus lagi."


Angeli turun dari tempat tidur, seluruh tubuhnya menggigil, tapi dia tetap memaksakan kakinya untuk melangkah.


Dia meraih kunci dan mengunci pintu kamarnya, setelah itu ia menuju kamar mandi menyiapkan air hangat, dan mandi.


Sementara Om Boyke dan Aaron masih memikirkan cara untuk mendekati Angeli. Reiner yang dari tadi hanya memainkan hand phone ikut bicara.


"Dia hanya menginginkan Steven!" sahut Om Boyke.


"Kak Steven aku tidak bisa hidup tanpamu!, itu kata-kata yang selalu ia ucapkan disaat ia tidak sadar." Tegas Om Boyke.


"Ya sudah kalau begitu telpon saja kak Steven!" Sahut Reiner.


"Steven masih ada urusan dengan dosen-dosennya, dia mau meminta keringanan agar dia tidak mengorbankan kuliahnya demi Angel." Tegas Aaron.


Reiner terdiam mendengar perkataan Aaron, "Andai saja dulu aku tidak memusuhinya, dia pasti sangat dekat denganku, bahkan mungkin bisa lebih dekat dari kak Steven." bisik hatinya.


"Rei. Jangan melamun!" sahut Aaron.


"Aaron, Reiner, Om pergi dulu, kalau terjadi apa-apa pada Angeli hubungi saja Om!" Kata Om Boyke.

__ADS_1


"Iya om, hati-hati di jalan" kata Aaron dan Reiner.


Perlahan Angeli berjalan keluar, walau tubuhnya masih gemetar dan kepalanya masih terasa sakit, dia tetapemaksakan diri.


"Angel. Kamu mau kemana sayang?" tanya Aaron.


"Aku mau main ayunan!" sahut Angeli.


"Aku temani kamu ya!" sahut Reiner.


Angeli mengangguk, Reiner pun langsung memapah Angeli menuju halaman belakang.


"Angel, maafkan aku ya." sambil mengayunkan ayunan yang diduduki Angeli.


"Untuk apa?" tanya Angeli.


"Untuk semua kesalahanku padamu." Jawab Reiner.


"Rei, Bukannya kamu pergi ke Jakarta? " Angeli baru ingat.


"Aku tidak jadi pergi!" jelas Reiner.


"Kenapa?" tanya Angeli heran.


"Karena aku ingin mencuri kesempatan untuk dekat denganmu! Mumpung Kak Steven tidak ada." Sambil berjalan ke depan Angeli.


Reiner mengulurkan tangannya sambil berkata "Angel. Maukah kau menjadikanku Steven ke dua dalam hatimu?"


Angeli menerima uluran tangan Reiner sambil berdiri dia pun tersenyum. " Aku tidak bisa hidup tanpamu. Steven! "


Mendengar kata-kata Angeli, Reiner langsung tertawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2