
Reiner baru saja pulang dari Jogja, tapi dia harus ikut ke Bandung mengantarkan Angeli. Aaron membawa mobilnya sendiri, disusul oleh Angeli yang juga membawa mobil sendiri. Sementara Reiner ikut dengan Steven karena dia masih lelah setelah mengikuti acara perpisahan SMA.
Sepanjang perjalanan yang mereka lalui terasa sangat melelahkan, panas, macet, terus saja mereka menikmatinya, karena Aaron sama sekali tidak mengajak istirahat dulu selain mengisi bensin.
Sesampainya di Bandung mereka disambut oleh keluarga Pak Satya, karena keluarga Pak Satya adalah penjaga vila ini.
Angeli yang terlalu kelelahan langsung berbaring diatas sofa yang terletak di teras depan, sementara Reiner langsung berbaring di teras.
Melihat kelakuan adik-adiknya Steven membiarkannya saja bahkan dia pun ikut berbaring di teras.
Melihat suasana seperti itu Aaron hanya terdiam, dan menyuruh keluarga Pak Satya membawa barang-barang yang ada di bagasi mobil mereka.
Aaron kaget saat membuka bagasi mobil Angeli, penuh dengan koper. Bahkan jok mobil belakang pun penuh dengan koper, padahal Aaron sudah melarang dia agar jangan terlalu banyak membawa barang.
Aaron menempatkan Angeli di kamar lantai dua, karena vila ini hanya dua lantai. Aaron sengaja menempatkan Angeli di kamar sebelah kiri yang bersebrangan dengan gereja, tujuannya agar Angeli lebih tekun beribadah.
Setelah semua beres Aaron membangunkan Steven dan Reiner, Angeli yang masih tidur disofa dibiarkan saja karena kalau Angeli dibangunkan akan berakibat fatal pada syaraf otaknya.
Saat Angeli terbangun ia tidak melihat siapa-siapa dia langsung menuju ruang makan, ternyata semua sudah berkumpul di ruang makan. Angeli pun duduk untuk makan.
__ADS_1
"Angel, kamu mandi dulu dong." Perintah Aaron.
"Nanti saja!" Sahut Angeli.
"Setidaknya cuci muka dulu!" Perintah Aaron lagi.
"Males." Sambil menyuapkan mie instan yang dibuat spesial untuk Angeli, karena Angeli anti nasi.
Melihat kelakuan Angeli, Steven hanya tersenyum. Karena Steven sudah tahu kalau malas mencuci muka saat bangun tidur siang adalah kebiasaan terburuk dia.
Setelah makan Aaron mengajak adik-adiknya ke halaman belakang.
"Kak! Kita akan tinggal disini?" tanya Angeli.
"Angel, kamu kuliah jurusan seni! Ekskul yang harus kamu ikuti pecinta alam, kamu harus berpenampilan sederhana. Setiap hari kamu kuliah naik angkot!" Tantangan pertama Aaron.
"Maksud kakak apa?" Angeli kaget.
"Bukankah kamu sudah setuju dengan semua tantangan yang kakak berikan?" tegas Aaron.
__ADS_1
"Tapi kak apa kata dunia kalau kita tinggal di kampung!" Reiner yang juga kaget baru mengetahui rencana Aaron.
"Dunia tidak akan berkata apa-apa!" sahut Aaron.
"Kak, apa kakak akan mengubah Angeli jadi anak culun? Kalau begitu Angeli ganti nama panggilan aja sekalian jadi Eli atau Lina, sesuai namanya." sambil tertawa.
"Iya. Kakak setuju, selain itu Angeli karena warna rambut kamu hitam agak kemerah-merahan warnai saja jadi hitam, kalau kamu menyerah dengan tantangan ini kamu harus bertahan minimal satu semester!" Aaron menyambung perkataan Reiner.
"Sudah cukup!" Steven marah sambil memukul meja, "Kak! dari awal aku tidak setuju, semua ide konyol kakak sangat bertentangan dengan pribadi Angeli!"
*Aku akan membawa Angeli kembali ke Jakarka, aku akan mengubah pola hidupnya dengan caraku sendiri!" kekesalan Steven semakin memuncak, wajahnya memerah membuat Angeli dan Reiner terdiam ketakutan.
"Kalau Angel memaksakan sesuatu dia dalam bahaya ka! Itu bisa mengganggu syaraf otaknya dan juga bisa mengganggu kondisi jiwanya!" Steven tidak henti berbicara.
"Steev! Kamu tenang dulu! Angeli sudah setuju dengan tantanganku!" mencoba menghentikan pembicaraan Steven.
"Angel! Angel tahu apa, dia terima tantangan kakak karena iming-iming dari kakak saja!" kemarahan Steven memuncak.
"Cukup!" Angeli berteriak sambil memegang kepalanya dan mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Menayadari kondisi Angeli memburuk Steven mendekati Angeli, "Maafkan kakak sayang, kakak terlalu khawatir padamu." Steven menenangkan Angeli.
BERSAMBUNG...