Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Punishment


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Papa Antonio dan Mama Kirana melepas rindu di kamarnya


"Ma, Papa merasa ada yang aneh dari Angeli, apa yang terjadi dengannya?" tanya Papa Antonio yang merasa heran.


"Angeli sudah tahu rahasia yang kita sembunyikan." Mama Kirana tersenyum.


"Tok. tok. tok." terdengr pintu kamar ada yang mengetuk.


"Masuk" ucap Mama Kirana.


Angeli pun masuk ke dalam kamar, "Ma, Pa, apa boleh malam ini aku tidur di sini?"


"Tentu Sayang. Sini kamu dekat mama." pinta Mama Kirana. Angeli pun berbaring di samping mama Kirana.


"Tok. tok. tok." pintu kamar terdengar lagi.


"Masuk." perintah Mama Kirana.


Reiner masuk ke kamar, "Ma, Pa, aku minta izin mau berangkat sekarang. Aku mau menginap di rumah teman yang rumahnya dekat dengan sekolah, supaya tenang. Kak Aaron yang akan mengantarku."


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Papa Antonio.


"Perpisahan SMA pa. Kami akan ke Jogja selama satu minggu" jelas Reiner.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Angeli?" tanya Papa Antonio


"Lebih baik mengorbankan yang satu dari pada membiarkan yang seribu." Begitu kata pak guru." Reiner sambil tersenyum.


"Maksud kamu apa?" tanya Papa Antonio.


"Semua teman di sekolah protes, tidak mau Angeli ikut, kalau Angel ikut acara akan dibatalkan." tegas Reiner.


"Kata Bu Siska, guru yang dulu pernah diajak ribut oleh Angel, anggap saja ini hukuman karena Angel sudah terlalu banyak kasus selama sekolah." Reiner sedikit mengejek.


"Begitu ya?" Papa Antonio tersenyum. "Rei, dua hari lagi papa dan mama akan pergi ke Prancis, ada urusan bisnis. Mungkin saat kami berangkat kamu belum pulang, papa minta kamu baik-baik ya. Ikuti perintah kakak-kakakmu, dan sayangi adikmu ini ya" jelas Papa Antonio.


"Iya pa." Reiner pun pamitan dan berangkat. Sementara Angeli langsung menangis dan berlari ke kamarnya meninggalkan mama dan papanya.


"Ini salahku. Aku tahu ini salahku. Aku selalu menyia-nyiakan waktu kebersamaan yang tersedia untukku dimasa lalu. Kenapa? Kenapa?" Angeli pun tidak sadarkan diri.


Menyadari Angeli mengamuk Steven langsung menuju kamar Angeli, Steven selalu tahu saat Angeli mengamuk karena kamar Steven paling dekat dengan kamar Angeli.


"Angel!" Sambil meraih pintu kamar Angeli.


"Sial pintunya dikunci!" Steven mengetuk pintu kamar Angeli, "Angel, buka pintunya...!" tetap tidak ada jawaban.


Steven bergegas menuju kamar mamanya. "Tok.tok.tok."

__ADS_1


"Masuk!" terdengar suara Mama Kirana dari dalam. Tetapi Steven tidak masuk kamar, dia hanya mengatakan "Ma! Pa! Angeli ngamuk lagi!"


Mendengar perkataan Steven, Mama Kirana dan Papa Antonio langsung keluar dari kamar, dan menuju kamar Angeli.


Mama Kirana membawa kunci cadangan dan membuka pintu kamar Angeli.


Kamar Angeli sangat berantakan, pecahan kaca berserakan dimana-mana begitu pun dengan buku, boneka, bantal, guling dan selimut.


Angeli tergeletak di lantai badannya sangat panas, tanpa pikir panjang Steven langsung membawa Angeli ke kamarnya, karena kamar Angeli terlalu berantakan.


Papa Antonio langsung menghubungi Om Boyke, Mama Kirana langsung menyuruh ART untuk membereskan kamar Angeli.


Tidak lama kemudian Om Boyke sampai di rumah dan langsung memeriksa kondisi Angeli.


"Angeli sangat drop, sepertinya syaraf otaknya terlalu lelah sehingga dia kehilangan semangat hidupnya! Kalau dibiarkan terus seperti ini kemungkinan besar Angeli tidak akan bisa pulih." Tegas Om Boyke.


"Terus ajak dia komunikasi! beri dia semangat sampai semangat hidupnya bisa bangkit kembali. Jika dalam waktu tiga hari dia tidak sadar aku akan memeriksanya lagi." Om Boyke kembali menegaskan.


"Aku akan pulang dulu untuk membawa infusan. Jangan lupa ajak Angeli komunikasi, dan perlu diingat saat mengajak berkomunikasi jangan ada yang menampakan kesedihan, karena itu akan memperburuk kondisi Angeli." Om Boyke pun pergi meninggalkan kami.


BERSAMBUNG...


Rekomendasi :

__ADS_1



__ADS_2