Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Bagaikan Gelas Pecah bag. 2


__ADS_3

Saat di dalam mobil, Angeli hanya terdiam, sesekali dia meneteskan air mata. Surya menghentikan mobilnya.


"Angel, kamu sudah putus sama Doni kan? Kamu mau gak jadi pacar aku?" sambil memberikan mawar merah plastik.


"Surya! Kamu keterlaluan! Disaat aku seperti ini..." Angeli kembali meneteskan air mata.


"Aku tahu aku keterlaluan? Aku hanya tidak mau ada orang yang mendahuluiku lagi." jawab Surya.


Mendengar perkataan Surya, Angeli hanya diam saja.


"Kamu simpan saja dulu bunga ini, aku beri waktu dua minggu, kalau kamu nolak aku, kamu kembalikan bunga ini!" pinta Surya.


Angeli pun menerimanya, "Kenapa kamu memberiku bunga palsu?" tanya Angeli sama sekali tidak semangat.


"Karena bunga ini tidak akan pernah layu, selamanya." Surya menatap Angeli, " Bunga ini akan menjadi saksi cinta kita, selamanya."


"Kenapa disaat seperti ini? Disaat aku... kepalaku sakit sekali." Angeli pun tidak sadarkan diri sambil memegang erat bunga yang diberikan Surya.


Surya yang merasa kaget langsung mengantar Angeli pulang, "Pak Satya, Angeli pingsan." sahut Surya kepada pak Satya yang ada di depan rumah.


"Den, langsung bawa ke kamarnya saja!" pinta Pak Satya.


Tanpa pikir panjang Surya langsung membawa Angeli menuju kamarnya. Sontak semua kakaknya menjadi kaget. Aaron langsung menghubungi Om Boyke.


Setelah sampai di kamar, Surya membaringkan Angeli di atas tempat tidurnya. Dia pun mengambil bunga dari tangan Angeli dan menyipannya di atas meja belajar Angeli.


Perlahan Steven mendekati Surya.


"Kak. Aku mau pulang dulu, nanti aku kesini lagi." sahut Surya pada Steven.


"Aku tunggu." Steven menepuk pundak Surya.


Surya pun pergi meninggalkan Angeli dan Steven, di luar Surya bertemu dengan Om Boyke.

__ADS_1


"Kamu teman Angeli?" tanya Om Boyke.


"Iya om. Om saya pamit dulu." ucap Surya.


"Iya silahkan" Om Boyke masuk ke dalam rumah.


Saat Om Boyke memasuki kamar Angeli, dia melihat Steven mengajak Angeli berkomunikasi.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Om Boyke pada Steven.


"Masih belum merespon Om." jawab Steven.


Om Boyke pun memeriksa kondisi Angeli.


"Kondisinya sangat parah, tubuhnya juga sangat lemah. Hal apa yang membuat dia seperti ini?" tanya Om Boyke sambil memasang infus dan masker oksigen.


"Kak Aaron punya video alasannya." jawab Steven.


"Siapa yang ada di dekatnya saat dia pingsan?" tanya Om Boyke.


"Kalau Angeli masih belum memberi respon, kamu bisa minta bantuan Surya! Om mau menemui Aaron dulu.


Steven menelpon Surya.


Surya : " Hallo kak Steven."


Steven : "Kamu sedang apa?"


Surya : "Aku baru mau mandi, tenang saja aku akan kesana."


Steven : "Kamu langsung aja bawa baju ganti buat besok kuliah! kamu berangkat kuliah dari sini! Jangan lupa minta izin pada orang tuamu."


Surya : "Siap kak."

__ADS_1


Percakapan pun berakhir.


"Bagaimana keadaan Angeli? Kenapa kak Steven menyuruhku begitu? Apa Angeli yang memintanya?" bisik hati Surya.


Setelah semua persiapan beres, Surya langsung pergi menuju rumah Angeli.


Sesampainya di rumah Angeli, Om Boyke menghampiri Surya "Surya, apa benar saat Angeli pingsan dia bersamamu?"


"Iya Om." Surya mengangguk.


"Om mau minta bantuan kamu." ucap Om Boyke.


"Minta tolong apa om?" tanya Surya heran.


"Kondisi Angeli saat ini buruk sekali, syaraf otaknya tidak merespon semua ucapan Steven. Padahal biasanya saat Steven mengajak Angeli berkomunikasi dia tidak separah ini, mungkin karena penghinaan dari Mama Doni membuat dia tidak semangat untuk hidup." jelas Om Boyke.


"Hinaan apa?" Surya heran.


"Aku akan memperlihatkan videonya, dengan syarat kamu tidak usah ikut campur dengan masalah ini! tugas kamu hanya membuat Angeli bahagia dan semangat untuk hidup!" ucap Aaron.


"Baik kak, aku setuju." jawab Surya.


Surya melihat video rekaman milik Aaron, Surya merasa sangat kesal.


"Jangan terpancing emosi!" ucap Aaron.


Setelah melihat video itu, Surya disuruh menemani dan mengajak Angeli berkomunikasi.


"Kak Steven, apa selama ini Angeli sakit?" tanya Surya yang melihat Angeli lemah tak berdaya.


"Kamu sudah datang Surya, kamu duduk disini! kamu sudah tahu kan tugas kamu? Angeli menderita gangguan syaraf." jelas Steven, "Aku tinggal dulu ya, belum mandi, nanti aku kesini lagi."


Surya pun mengangguk.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2