Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Tanda Tanya


__ADS_3

Hari Kamis, hari keempat swaster. Dimana seluruh mahasiswa wajib menyaksikan demonstrasi program ekstrakurikuler kampus. Seluruh mahasiswa harus mengenakan kaos olah raga sekolah asal.


Waktu menunjukkan pukul 10.00, Angeli baru terbangun dari tidurnya. Dia melihat sebuah kotak berwarna marun dibalut pita pink terletak di sampingnya.


Tanpa pikir panjang, Angeli langsung membuka kotak itu. Saat Angeli membukanya ia kebingungan karena isinya hanya tiga lembar kertas kusam bekas remasan.


Perlahan ia membuka kertas yang pertama ia ambil dan membaca isinya.


JERIT HATI


Mendungnya hari tak semendung hatiku


Derasnya hujan tak sederas tangisan batinku


Teriakan petir tak sekeras jeritan jiwaku


Gemuruh awan tak serisau hatiku


Lambaian pohon menari-nari


Kilat menyambar seakan melambaikan tangan


Mengajak aku menghampirinya


Memberi harapan yang kian sirna


Wahai diri...


Kemanakah kau akan pergi...?


Melangkahkan kaki tiada pasti


Mencari cinta yang selalu dinanti


Sampai tiba saatnya menghampiri


"Ini kan? puisi yang aku buat saat kelas 2 SMP? Dulu aku membuangnya. Siapa yang menyimpannya? " bisik hati Angeli.


Angeli membalik kertas itu, di belakangnya terdapat tulisan "Puisi ini sengaja aku simpan, karena aku merasa puisi ini adalah kisah hidupku. Puisi ini juga membuatku ingin dekat denganmu."


Angeli menyimpannya dan mengambil kertas kedua.


TANDA TANYA...?


Liku kehidupan


Kadang membuatku tak bertahan


Jatuh bangun aku dikesendirian

__ADS_1


Menghela nafas yang kian menyesakkan


Betapa lelah aku berjalan dalam putaran kehidupan


Beribu rintangan berjuta tantangan


Hingga menimbulkan pertanyaan


Yang entah kapan kutemukan jawabannya


Haruskah aku berhenti di sini...?


Membiarkan pertanyaan tanpa jawaban!


Ataukah aku harus berlari...?


Mencari-cari jawaban untuk pertanyaan itu?


Entah apa yang harus aku lakukan


Entah sampai kapan aku mampu bertahan


Menahan pahit manisnya kesendirian


Ditengah kegelapan terbelenggu kebimbangan


Akankah aku bisa menghadapi kenyataan...?


Mungkin... Aku harus bisa merelakan


Hidupku... Sebuah TANDA TANYA


"Ini juga puisi yang aku buat saat kelas 2 SMP yang aku buang juga?" Angeli membalik kertasnya dan membaca tulisannya, "Puisi ini menarik hatiku untuk memilikimu."


Angeli langsung membuka kertas ketiga dan membacanya.


HADIRLAH CAHAYA


Tersesat aku dalam kegelapan


Melewati lorong-lorong kesunyian


Mencari setitik cahaya harapan


Yang entah kapan kutemukan


Kegelapan semakin menghampiri


Ingin rasanya kujauhi

__ADS_1


Namun ku tak bisa ingkari


Semua yang t'lah terjadi


Merintih aku kesakitan


Tiada siapa yang mengobati


Menangis aku kesepian


Tiada siapa yang menemani


Kemana aku harus pergi...?


Meninggalkan gelap ini


Kemana harus kucari...?


Setitik cahaya yang selalu kunanti


Harapku...


Hadirlah cahaya...


Hingga kegelapan segera berlalu


Meninggalkan kesendirianku


"Puisi ini membawaku masuk ke dalam hidupmu dan ingin menjadi cahayamu."


"Sebenarnya siapa yang memungut semua puisi yang aku buang ini?" bisik hati Angeli.


"Buka HP. Siapa tau dia mengirim pesan." Angeli langsung nembuka hand phonenya.


(membuka pesam WhatsApp)


+62××××


"Aku harap kamu sudah menerima dan nembaca kotak yang kutitipkan pada kak Aaron."


+62××××


"Aku tahu Kak Aaron sudah meminta izin untukkmu, kamu tidak bisa masuk kuliah. Tapi, Aku berharap kamu bisa menyaksikan demonstrasi ekskul karate. Jam 13.00. Terima kasih."


Angeli menyimpan hand phonenya.


"Sepertinya aku tau siapa kamu." bisik hati Angeli, pesan yang lain menumpuk di WhatsApp dibiarkan saja. Angeli langsung mandi dan siap-siap.


Angeli mengenakan kaos olah raga SMAnya, dimasukkan kedalam rok rempel hitamnya, karena dia tidak suka memakai celana pasangan kaos itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2