Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Kisah Masa Lalu Angeli bag. 1


__ADS_3

Hari sudah pagi, mentari mulai menampakkan sinarnya. Aaron melihat Steven berbaring di atas sofa ruang keluarga, Aaron pun membangunkannya.


"Steev. Kenapa kamu tidur disini?" tanya Aaron.


"Angeli tidur di kamarku" jelas Steven yang masih berbaring.


"Dia kenapa lagi? Perasaan sudah dua tahun dia berani tidur sendiri." Aaron heran.


"Semalam dia bicara sejak pulang malam waktu dikeroyok itu dia merasa ada yang mengikuti, makanya dia takut tidur sendiri." Jelas Steven.


"Terus apa rencanamu supaya dia tidak takut tidur sendiri lagi?" Aaron kembali bertanya.


"Entahlah. Mungkin aku akan memakai cara yang dulu kugunakan" Steven kebingungan.


"Apa akan mempan menggunakan cara lama?" Aaron tidak yakin.


"Aku akan memikirkan cara baru nanti kalau aku benar-benar akan tinggal disini." Steven beranjak dari sofa.


"Aku mandi dulu ya." sambil berlalu meninggalkan Aaron.


Aaron berjalan keluar, dan duduk di sofa teras depan.


"Selamat pagi kak." seorang wanita mendekati Aaron.

__ADS_1


"Citra. Apa kabar? Pagi sekali kamu datang kesini?" tanya Aaron.


"Baik kak. Kakak kan menyuruh aku datang pagi." Jawab Citra.


"Tapi kan tidak perlu terlalu pagi seperti ini" Aaron tersenyum.


"Silahkan duduk!" Aaron mempersilahkan.


"Terima kasih" Citra pun duduk.


"Tunggu sebentar ya." Aaron pun masuk.


Tidak lama kemudian Bu Anti, pak Satya dan Awan membawa begitu banyak makanan dan minuman, Aaron pun datang bersama adik-adiknya.


Awalnya Citra menolak tapi karena bujukan tuan rumah akhirnya mereka sarapan bersama.


Sesudah sarapan Aaron harus berangkat menemui desain utamanya. Aaron sengaja mengajak Angeli agar Angeli tidak mengetahui pembicaraan mereka.


Setelah Aaron dan Angeli berangkat Steven mengumpulkan keluarga Pak Satya agar keluarga Pak Satya pun tahu kisah masa lalu Angeli.


"Bu Citra mohon maaf sebelumnya apa boleh saya meminta kepada ibu agar ibu merahasiakan apapun yang saya katakan pada ibu?" tanya Steven


"Baik, saya akan merahasiakan apapun yang bersifat rahasia" jawab Citra.

__ADS_1


"Saya tidak tahu harus mulai darimana, sebenarnya saya juga keberatan mengatakan hal ini." Steven agak ragu.


"Tenang saja rahasia Angeli pasti aman ditangan saya." Citra meyakinkan.


Steven terdiam sejenak, suasana menjadi hening dan menegangkan. Steven pun mulai menjelaskan kisah Angeli.


"Angeli anak yang sangat manja, mungkin semua memakluminya karena dia anak perempuan satu-satunya di keluarga kami, emua keinginannya selalu dikabulkan."


"Saat usia dia menginjak tiga tahun tepat saat hari ulang tahunnya Angeli mengalami kecelakaan, saat itu dia mendapatkan hadiah boneka yang sangat diinginkannya dia merasa sangat bahagia." Sesekali Steven terdiam.


"Namun sayang, salah satu teman Angeli yang hadir saat itu menginginkan boneka itu, dia merebut boneka yang berada di tangan Angeli secara paksa, ibunya pun tidak mampu menghentikannya."


"Anak itu berlari sampai ke jembatan, Angeli mengejarnya, kami pun mengikutinya. Tapi sayang pertengkaran tidak berhenti disitu."


"Angeli di dorong ke arah sungai, dengan cepat tanggap kakek menangkap Angeli."


"Tapi sayangnya kakek terpeleset, kakek dan Angeli jatuh ke sungai, mereka terbentur. Kakek tidak bisa diselamatkan karena kepalanya pecah, sedangkan Angeli... " Steven merasa sesak saat membicarakannya.


"Angeli sama, dia juga mendapatkan benturan di kepalanya, hanya saja dia masih bisa diselamatkan. Sejak itu dia mempunyai kelainan di syaraf otaknya, saat itu mama dan papa datawari untuk mengoperasi Angeli tapi kemungkinan hidupnya kecil."


"Akhirnya mama dan papa memutuskan untuk tidak mengoprasi Angeli. Dokter menyarankan jika ingin Angeli berumur panjang, semua keinginan Angeli harus dipenuhi, tidak boleh ada hal yang bertentangan dengan apa yang ada dipikirannya, kalau bertentangan itu akan mengganggu kejiwaannya. Dengan kata lain Angeli memiliki kriteria gangguan jiwa".


Semua yang mendengarkan penjelasan Steven terdiam.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2