Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Kedatangan Cris Alexander


__ADS_3

Steven yang menyadari Angeli tidak ada, langsung mencarinya melalui GPS.


Setelah lokasi terdeteksi, Steven mengajak Reiner dan Boni menuju tempat Angeli.


"Kamu kenapa disini?" tanya Steven menghampiri Angeli.


Angeli membuka mata, "Kak Steven. Kakiku sakit, aku gak kuat turun."


"Ya udah sini kakak gendong!" Steven menggendong Angeli menuruni gunung.


Sesekali Steven berhenti karena jalan rumit. Terkadang Reiner menggantikan Steven untuk menggendong Angeli.


Sesampainya di tenda, tidak ada sepatah katapun yang dikeluarkan oleh Angeli.


Melihat keadaan Angeli seperti itu, Steven langsung meminta izin agar Angeli bisa pulang.


Setelah proses permintaan izin, akhirnya Steven dan Angeli kembali ke rumah.


"Itu mobil siapa?" tanya Angeli saat memasuki rumah.


"Kak Steven! Putar balik! Itu mobil kak Cris kan?" Angeli yang baru menyadari kalau itu mobil Cris.


"Udah gak sempet Gel." ucap Steven yang melihat Cris di depan mobilnya.


Dengan terpaksa Angeli turun dari mobil, "Seandainya kakiku tidak sakit, aku pasti udah lari." ucap Angeli dalam hati.


Steven mendekati Angeli dan memapahnya mendekati Cris.


"Steven. Angeli kenapa?" tanya Cris sinis.

__ADS_1


"Ketusuk ranting kak." jawab Steven.


"Kakak macam apa kamu ini? Masa ngurusin satu anak aja gak bisa!" perkataan Cris begitu menyakitkan.


Steven tidak menghiraukan Cris, dia langsung membawa Angeli masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di ruang keluarga, Steven menurunkan Angeli dari pangkuannya.


Cris mendekati Angeli, "Sejauh mana hubungan kamu dengan Surya?" tanya Cris tanpa basa basi.


Mendengar pertanyaan Cris, Angeli hanya terdiam seribu bahasa.


"Tidak mau menjawab?" Cris kembali bertanya.


Aaron dan Steven pun tidak berkomentar apapun, karena mereka tahu sifat Cris.


Angeli tidak berkata apa-apa.


"Cris. Tolonglah, kamu jangan terlalu keras pada Angeli!" pinta Aaron.


"Hh!" Cris tidak mempedulikan perkataan Aaron.


"Mau kak Cris apa?" Angeli tidak tahan melihat kelakuan Cris.


"Kamu tidak pantas tinggal disini! Ikut aku atau ikut mama dan papa!" Cris memutuskan hal itu sendiri.


"Putuskan Surya!" tegas Cris.


"Kak, kakak gak bisa seenaknya gitu dong!" Steven membentak Cris.

__ADS_1


"Eh! Anak kecil! Jangan ikut campur!" seketika Steven terdiam mendengar perkataan Cris.


"Oke, aku tidak akan tinggal disini lagi. Aku mau ikut mama dan papa. Tapi dengan syarat!" ucap Angeli.


"Apa?" tanya Cris.


"Syarat pertama, kakak jangan pernah ganggu Surya! syarat kedua, aku akan bawa Cahya! syarat ketiga, izinkan aku bertemu dengan Surya untuk terakhir kalinya!" jelas Angeli.


"Oke! Aku setuju! Aku akan atur keberangkatanmu!" ucap Cris sambil tersenyum sinis.


Cris pun meninggalkan ruang keluarga.


"Angel, apa yang kamu lakukan?" tanya Steven.


"Sudahlah kak, aku tidak apa-apa! Aku minta sama kakak, suruh Cahya pulang sekarang juga." Angeli pergi ke kamarnya.


"Kenapa jadi kayak gini sih!" Steven marah sambil mengacak-acak rambutnya.


"Sudahlah Steev. Nanti kita pikirkan jalan keluarnya!" ucap Aaron menenangkan Steven.


Steven meraih ponselnya dan menyuruh Cahya pulang. Sedangkan Aaron langsung mengurus surat pindah untuk Angeli dan Cahya.


Aaron tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengikuti keinginan Angeli, walaupun sebenarnya Angeli juga terpaksa.


Cris. Walaupun dia anak kedua, tapi dia selalu berlagak seperti penguasa, bahkan pada kakaknya sendiri dia tidak pernah menaruh rasa hormat.


Cris tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, dia memang paling egois diantara tujuh bersaudara.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2