
Perlahan Steven mendekati Aaron yang terlihat mundar-mandir memikirkan bagaimana cara agar Angeli berubah.
Jika Mama Kirana atau Papa Antonio meminta Angeli untuk berubah sikap pasti itu akan berbahaya bagi keluarga Alexander, karena Angeli dipandang anak pembawa keberuntungan. Hanya saja ia harus dibiarkan sesuai keinginannya, mengalir seperti air walaupun menghanyutkan semua yang ia lalui.
"Kakak sedang apa?" tanya Steven mengagetkan Aaron.
"Bagaimanapun juga aku harus melakukan sesuatu agar Angeli berubah, dia bukan anak kecil lagi yang bisa berubah jika dinasehati setiap hari." Tanpa basa-basi Aaron mengatakan hal itu.
"Apa rencana kakak?" Steven penasaran.
"Perjalanan hidup yang akan membuat dia berubah. Aku akan membawa Angeli ke Bandung, kehidupan di sana akan memberi dia pelajaran berharga. Kau harus ikut!" Tegas Aaron.
Steven terdiam merenung memikirkan Angeli, mengingat tidak ada yang bisa menangani Angeli selain dia. Tapi dia juga tidak mau meninggalkan kuliah S2nya apalagi dia akan segera menyusun tesis.
Pikirannya pun kacau, bagaimanapun juga dia harus mengambil keputusan dan menyusun rencana agar keduanya tidak terbengkalai.
"Apa rencana kakak di sana?" tanya Steven penasaran.
Aaron pun menjelaskan rencananya.
"Kak, apa itu tidak berbahaya untuk kondisi syaraf otaknya?" tanya Steven yang meragukan rencana Aaron.
"Tidak! Selama ada kamu, semua akan baik-baik saja." Tegas Aaron meyakinkan.
Mendengar perkataan Aaron Steven hanya terdiam.
"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Aaron membuat Steven kesal.
__ADS_1
"Ka, kakak tidak pernah tahu bagaimana mengjadapi Angeli, kalau dia melakukan hal-hal seperti itu, kemungkinan besar jiwanya juga akan terganggu ka. Bagaimana kalau semangat hidupnya menurun? Itu sangat berbahaya!" Steven benar-benar kesal.
"Aku akan membicarakan rencana ini nanti malam pada mama dan papa. Kalau mereka setuju, mau tidak mau kau juga harus setuju!" Aaron beranjak meninggalkan Steven.
"Kak Steven." tiba-tiba Angeli datang menghampiri Steven.
"Angel, kamu sudah baikan?" Steven menoleh Angeli yang berada di belakangnya, "Kamu mau kemana sudah cantik seperti itu?" Steven bingung.
"Lho. kakak lupa kita kan disuruh jemput papa di bandara." Angeli mengingatkan.
"Oh iya, kakak lupa." sambil menepuk jidatnya.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" Angeli dan Steven pun berangkat menuju halaman.
Di halaman Pak Satya sudah menunggu di dekat mobil yang akan dikenakan untuk menjemput Papa Antonio. Pak Satya merupakan supir pribadi keluarga Alexander.
"Pak, biar kami saja yang menjemput papa, bapak silahkan istirahat saja!" ucap Steven kepada Pak Satya.
"Angel. Kamu saja yang membawa mobil! pikiranku sedang kacau, aku takut terjadi apa-apa." Steven terlihat kusut.
"Baiklah." ucap Angeli.
Tanpa basa-basi lagi mereka menuju bandara.
Di sepanjang perjalanan Steven tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Kelakuan Steven seperti itu membuat Angeli bingung, Angeli merapatkan mobilnya ke tepi jalan dan berhenti.
"Kakak kenapa? Kakak sakit?" Angeli membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Cuma banyak pikiran aja. Terus saja jalan!" perintah Steven.
"Oke." Angeli melanjutkan perjalanan, dia pun tidak berani berbicara lagi.
Sepanjang perjalanan Steven menutup matanya memikirkan rencana kakaknya Aaron.
Melihat kakaknya seperti itu, Angeli kembali menghentikan mobilnya. Angeli langsung menangis, seakan-akan ia merasakan kesedihan yang dialami Steven.
Steven tersentak kaget dan langsung memeluk Angeli. "Angel, kakak tidak apa-apa! Kamu jangan nangis ya!" Ayo lanjutkan perjalanan!" sambil mengusap air mata Angeli dan memberikan sedikit senyuman agar Angeli kembali tenang.
Sesampainya di bandara Angeli memeluk papa Antonio sambil menangis "Papa, maaf ya membuat papa menunggu lama." Tangisnya pun semakin menjadi.
Papa Antonio merasa ada yang aneh dari putrinya, biasanya dia tidak pernah seperti ini. Walaupun ditinggal jauh, walaupun ditinggal lama, Angeli tidak pernah seperti ini.
"Sayang, sudah, kamu kenapa? Ayo kita pulang!" Angeli pun melepaskan pelukannya.
Steven pun memeluk papanya. "Pa, aku kangen papa, ayo pa!" Steven melepaskan pelukanya dan memasukan koper papanya ke dalam bagasi.
Angeli membukakan pintu belakang mobil untuk papanya, dan dia pun duduk di samping papanya. Sementara Steven membawa mobilnya.
Di dalam mobil Angeli memeluk papanya lagi, sambil mengatakan "Pa, maafkan aku di masa lalu ya." hanya itu yang mampu ia ucapkan. Air matanya pun kembali terurai.
"Sayang sudah jangan menangis! Papa memaafkan semua kesalahanmu." Melihat hal seperti itu Steven merasa bahagia.
Setibanya di rumah, kedatangan Papa Antonio disambut hangat oleh Mama Kirana dan anak-anaknya, walaupun tidak lengkap tetapi mereka sangat bahagia.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Rekomendasi :