Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Penyesalan


__ADS_3

Angeli duduk di atas sofa yang terletak di samping pintu. Steven menghampiri Mama Kirana yang sedang duduk di atas tempat tidurnya membelakangi pintu.


Steven duduk di samping Mama Kirana, Mama Kirana pun langsung memeluknya sambil mengeluarkan air mata.


Menyadari kesedihan Mama Kirana yang begitu mendalam, Steven mencoba menenangakannya, ia menyesal kenapa semalam tidak menemani Mama Kirana, karena Papa Antonio sedang di luar negeri.


"Ma, semalam Kak Aaron tidak berhasi memberi penjelasan pada Angeli." Steven membuka pembicaraan.


"Mama memang salah, mama tidak memberi penjelasan pada Angeli." sambil mengusap air mata yang tiada henti membasahi pipinya.


"Ma, tolong beri penjelasan padaku, apa yang Mama sembunyikan? Dulu aku masih sangat kecil jadi tidak mampu mengingat apa yang terjadi ma." pinta Steven pada Mama Kirana.


Mama Kirana langsung memberikan penjelasan pada Steven "Saat mama mengandung anak ketujuh mama dan papa berharap memiliki anak perempuan, karena kami sudah memiliki banyak anak laki-laki."


"Saat itu mama dan papa berjanji jika anak kami perempuan kami akan mengabulkan semua permintaannya. Kami juga berjanji apapun yang dia lakukan kami tidak akan melarangnya. Kami hanya ingin dia bahagia dengan caranya sendiri."


"Saat usia kandungan mama menginjak tujuh bulan mama merasakan kesakitan yang luar biasa. Malam itu hujan sangat deras, petir tiada henti menyambar, papa dengan terpaksa memohon kepada bidan agar bersedia ke rumah untuk memeriksa mama. Tapi, bidan itu tidak bisa menangani mama, mama harus dioperasi sesar malam itu juga. Karena kalau tidak kemungkinan besar kami tidak akan selamat, kami pun langsung menuju Rumah Sakit."


"Ketika bayi mama lahir dengan selamat, mama dan papa sangat bahagia karena bayi yang lahir adalah bayi perempuan, kami memberi nama Angelina Alexandria yang artinya malaikat pembela umat manusia." Mama Kirana sedikit tersenyum.


"Saat Angeli masih kecil mama pernah membentaknya, tapi seketika itu juga Angeli demam parah dan bisnis papa bangkrut. Kami berpikir mungkin karena kami sudah mengingkari janji."

__ADS_1


"Sejak itu mama tidak berani mengusik apapun yang dilakukan Angeli. Walaupun kelakuan Angeli seperti itu, tapi Angeli adalah anak pembawa keberuntungan, mama sangat menyayangi Angeli." Air matanya pun kembali terurai.


"Mama tau mama salah, mambiarkan dia hidup sesuai dengan keinginannya, mama pun merasa berdosa karena tidak pernah menasehati dia. Tapi, mau bagaimana lagi? mama harus membiarkannya."


Angeli yang mendengarkan penjelasan Mama Kirana langsung berlari memeluk mamanya.


"Ma, maafkan aku." Hanya itu yang bisa terucap dari bibir Angeli, karena dia kesulitan bicara saat ia menangis.


Angeli terus menangis dipangkuan mama Kirana tanpa mengucapkan sepatah kata pun, di dalam hati yang terdalam ia menyesali semua perbuatan buruknya terhadap kedua orang tuanya.


Karena terlalu lama menangis ia pun tak sadarkan diri. Steven langsung membawa Angeli ke kamarnya dan membaringkannya, mama Kirana pun mengikuti Steven. Mama Kirana menyelimuti Angeli dan mengompresnya dengan air hangat.


Sesekali Mama Kirana mencium kening purti kesayangannya dengan harapan tidak ada sesuatu yang buruk menimpa syaraf otaknya.


"Steven." Mama Kirana membuka pembicaraan.


"Iya ma." Steven kaget.


"Tolong hubungi om Boyke, mama takut terjadi sesuatu pada Angeli." Perintah Mama Kirana.


"Baik ma." Steven bergegas mengambil Hand Phone untuk menghubungi om Boyke. Om Boyke merupakan adik dari Papa Antonio, ia juga merupakan dokter pribadi Angeli.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Steven menghampiri Mama Kirana "Ma, om tidak bisa datang, dia sedang sibuk. Kata om biarkan saja Angeli istirahat dulu. Kalau dalam jangka tujuh jam dia tidak bangun, aku disuruh menghubungi om lagi."


"Baiklah, semoga Angeli tidak apa-apa." Terlihat kecemasan Mama Kirana.


"Ma, Mama istirahat saja, biar aku yang menemani Angeli." pinta Steven.


"Baiklah. Tolong jaga Angeli dengan baik ya." Mama Kirana pun menecup kening Angeli dan meninggalkannya di kamar bersama Steven.


"Tenang saja ma, tanpa mama pinta pun aku akan selalu menjaganya." Steven pun mendekati Angeli.


Satu jam sudah berlalu, Angeli masih belum terbangun juga. Steven pun terlelap di atas sofa dekat jendela kamar Angeli.


"Mama. Mama." teriak Angeli dan terbangun dari tidurnya. Angeli pun terus menangis tiada henti menyesali perbuatannya.


Mendengar isak tangis Angeli, Steven pun terbangun dan menghampiri Angeli. "Sudahlah Sayang jangan menangis terus, menangis tidak akan menyelesaikan masalah."


"Aku ingin sendiri!" Angeli membentak Steven.


"Oke, kalau itu maumu!" Steven pun berlalu meninggalkan Angeli.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Rekomendasi :



__ADS_2