Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Saat Sang Surya Menampakkan Sinarnya bag. 2


__ADS_3

Sesampainya di kampus, Angeli melihat kesana kemari bukan karena terpesona melihat kampusnya, tapi ia mencari Surya.


"Aku ini kenapa sih? Kok jadi kayak gini? Apa ini yang dinamakan suka? Surya, wajah Indonesia asli, tapi ganteng banget." Angeli terus menggerutu di dalam hatinya.


Tiba-tiba " Bruk." dia menabrak orang.


"Reiner." Angeli terbelalak melihat Reiner di depan matanya.


"Eh. Kalau jalan tuh pakai mata dong!" Reiner kesal, entah kesal asli atau acting.


"Eh. Kamu mahasiswa bodoh ya? Dimana-mana jalan itu pakai kaki! Hewan aja tahu!" Angeli berbalik kesal.


Surya dan dua orang disampingnya kebetulan ada di sana, tertawa mendengar perkataan Angeli.


"Kamu ikut aku!" sambil menarik tangan Angeli.


"Aku bisa jalan sendiri, lepaskan!" Reiner pun langsung melepaskan Angeli, ia baru sadar kalau ia harus pura-pura tidak kenal Angeli.


Reiner membawa Angeli menuju mobilnya, "Lihat perbuatan kamu!" sambil menunjuk ke arah goresan yang dibuat Angeli.

__ADS_1


"Makanya jangan macem-macem sama aku! Hhh." Angeli memalingkan wajahnya.


"Bukannya kamu harus lebih anggun" bisik Reiner, "Maksud aku. Lihat mobil ini baik-baik!" sambung Reiner.


Angeli melihat mobilnya, "Mobil ini, tanpa plat, tapi dengan desain khusus di belakang tertulis Alexander dan di depan tertulis Alexa" ucapnya dalam hati.


"Ini kan mobil..." kata-kata Angeli terputus.


"Mobil kesayangan adikku! kamu harus tanggung jawab!" Reiner sinis.


Angeli merasa kesal, ingin rasanya ia mencaci maki Reiner, tapi ia menahannya karena disana banyak orang, Angeli takut identitasnya diketahui.


"Reiner. Reiner. Reiner." terdengar suara mahasiswa yang ngefans pada Reiner. Ada yang meminta tanda tangan, ada yang meminta foto bersama, pokonya rame banget yang mengerumuni Reiner.


"Kenapa dadaku merasa tertusuk sesuatu? Kenapa ini? Apa aku sakit? Kenapa setiap melihat Surya...?" bisik hati Angeli sambil meloleh Surya, Surya pun tersenyum dan Angeli membalas senyumannya.


Angeli pun meneruskan langkah kakinya, tiba-tiba "bruk."


"Aduh. Sial! Kenapa sih dari tadi aku tabrakan melulu? Ceroboh! dasar ceroboh!" sambil menatap orang yang dia tabrak.

__ADS_1


"Andani?" Angeli kaget dan ketakutan. Sementara dia hanya diam menatap Angeli.


"Alexa? sejak kasus itu. Aku baru melihatnya lagi" bisik hati Andani.


"Keluarga Alexander memang bijak, tidak mengusut kasusku dengan Angeli ke polisi, tapi lebih memilih jalan damai dengan syarat, Aku tidak boleh mendekati Alexa lagi kecuali Alexa yang mau." ia terus menggerutu di dalam hati sambil berlalu meninggalkan Angeli.


"Sebenarnya apa yang ada di pikirannya sih? Kenapa dia tidak memilih kuliah di Korea sesuai keinginannya dulu? Akh dasar anak gila!" Andani masih menggerutu.


"Kenapa ini serasa bernostalgia? Andani, apa kau masih tetap seperti dulu? Dulu? Kejadian itu?" bisik hati Angeli.


"Mohon perhatian semuanya. Untuk seluruh mahasiswa baru diharapkan berkumpul di lapangan olahraga. Terima Kasih." suara salah satu panitia swaster.


"Yah, gagal bernostalgia deh." sambil berlari menuju lapang.


Di lapang tanpa disadari Angeli dia berdiri di samping Surya. Surya menoleh Angeli sambil berkata "Jika aku sang Surya, maka kau adalah cahayaku." sambil tersenyum.


Perasaan Angeli seakan melayang.


"Apa?" bisik hati Angeli, "Kenapa aku merasa bahagia dia berkata seperti itu? Biasanya kan aku jiji dengan orang-orang gombal kayak gitu, biasanya kan aku langsung nonjok orang kaya gitu! Tapi ini?"

__ADS_1


"Hey! Kamu jangan melamun!" Sentak kakak panitia yang tidak diketahui namanya oleh Angeli. Angeli langsung fokus memperhatikan arahan panitia.


BERSAMBUNG...


__ADS_2