
Perlahan Angeli mendekati perempuan itu. "Kamu siapa?" tanya Angeli.
"Aku, aku?" perempuan itu terdiam.
"Sepertinya aku pernah melihat kamu, dimana ya?" Angeli mencoba mengingatnya.
"Aku orang yang selalu bermain diayunanmu." jawab perempuan itu.
"Sejak kamu berangkat, aku merasa kesepian, makanya aku ikut."
"Kamu hantu ya?" tanya Angeli tanpa rasa takut karena dia tidak menyeramkan.
"Aku tidak tahu, sudah sekitar lima tahun aku seperti ini. Saat aku melihatmu pulang setelah dikeroyok waktu di Jakarta aku merasa mengenalmu," jawabnya.
"Maaf. Aku sama sekali tidak mengenalmu!" ucap Angeli sambil berbalik badan hendak meninggalkannya.
"Tunggu!" sambil memegang tangan Angeli.
"Ko, tangannya biasa saja? bukannya hantu tembus pandang ya? Kalau begitu dia makhluk apa?" bisik hati Angeli.
"Kamu bisa melihat makhluk halus kan? Kamu suka merasa takut kan?" tanya perempuan itu.
Angeli pun tersenyum, "kamu tau darimana?" bisik hati Angeli yang malu mengakui kalau dia memang takut.
"Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" tantangnya.
"Apa?" tanya Angeli yang suka tantangan.
"Aku akan buat kamu tidak takut melihat makhluk halus seperti apapun, dengan imbalan kamu harus mencari identitasku!" ucap perempuan itu.
"Oke, siapa nama kamu?" tanya Angeli.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, yang selalu kuinggat hanya kata-kata 'kamu Putri kesayangan mami' mungkin namaku itu." jawabnya seperti orang linglung.
"Aku juga putri kesayangan mami satu-satunya." jawab Angeli.
"Oke, kalau kamu tidak ingat, kamu mau aku panggil apa?" tanya Angeli.
"Apa ya? Ayang aja deh." sambil tersenyum.
"Oke. Oke. Ayang." Angeli setuju, "Berapa lama waktu yang kau berikan untukku mencari identitasmu?" tanya Angeli.
Perempuan itu terdiam sejenak, "Aku tidak peduli berapa lama, sampai kamu mati pun aku tidak peduli, yang penting aku punya teman dan tempat tinggal." Ayang memeluk Angeli.
"Selama ini aku ingin mendekatimu, tapi aku ragu, makanya aku main aja diayunan kamu, kadang aku juga tidur di kamarmu, maaf ya." sambil melepaskan pelukannya.
"Jadi kamu yang suka pegang kaki aku?" tanya Angeli.
"Iya. Maaf ya. Kamu takut?" tanyanya.
"Takut setannya laki-laki." jawab Angeli.
"Aku bukan setan!" ucap Ayang.
"Kalau kamu bukan setan, semua orang pasti bisa melihat kamu!" tegas Angeli.
"Selama lima tahun ini aku berjalan dari makam ke makam, tapi tidak ada petunjuk makamku, jadi aku bukan setan atau hantu." jawab Ayang.
"Tatap mata aku!" perintah Angeli.
"Ogah. Kamu mau ngapain? Hhh." Ayang memalingkan wajahnya.
"Aku punya rahasia, hanya kak Steven yang tahu, dan aku mau kamu juga merahasiakannya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Ayang penasaran.
"Asal kamu janji tidak akan mengatakannya pada siapapun!" pinta Angeli.
"Oke." Ayang setuju.
"Tatap mata aku!" Ayang pun menatap Angeli.
"Kalau kamu berniat mengatakannya pada siapapun, lidah kamu akan kaku!" Angeli tersenyum sinis.
"Gak usah lebay!" Ayang memalingkan wajahnya.
"Dulu aku mengalami kecelakaan, saat itu usiaku tiga tahun." ucapan Angeli terhenti.
"Sambil jalan-jalan yu!" Ayang pun berjalan menuju ke arah gunung. Angeli pun mengikutinya.
"Lanjut ceritanya!" pinta Ayang.
"Saat itu keluargaku merayakan ulang tahunku yang ketiga, namun saat itu temanku yang bernama Friska merebut boneka hadiah ulang tahunku, aku pun mengejar Friska, tapi sialnya aku didorong sampai jatuh ke sungai, untung saja kakek menolongku, tapi sayangnya kakekku meninggal." ucap Angeli yang terus berjalan mengikuti Ayang tanpa mempedulikan rasa sakit dikakinya.
"Kamu bohong!" teriak Ayang.
"Maksud kamu apa?" Angeli heran.
"Tidak mungkin kamu ingat kejadian saat usia tiga tahun!" bantah Ayang.
"Kamu dengerin dulu dong!" pinta Angeli.
"Oke." Ayang setuju.
BERSAMBUNG...
__ADS_1