Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Apa yang kamu sembunyikan? bag. 2


__ADS_3

Melihat Angeli terdiam seribu bahasa, Surya pun ikut terdiam. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka.


"Ini pesanannya." sahut pegawai yang mengantarkan bakso, "minumannya mau apa Neng?" tanya pegawai itu.


Angeli menatap Surya, "Terserah kamu saja." ucap Surya.


"Jus jeruk saja mba." ucap Angeli pada pegawai itu.


Surya menatap Angeli, tapi Angeli masih saja diam.


"Dimakan dong!" pinta Surya.


"Masih panas." ucap Angeli.


"Sini aku tiupin." sambil meniup wajah Angeli.


"Ikh bandel!" sambil mendorong Surya.


Surya tersenyum sambil mencampur saus, kecap dan sambal ke dalam bakso itu. Angeli pun memasukkan sambal dan kecap yang lumayan banyak kedalam baksonya.


"Kamu tidak suka saus?" tanya Surya.


"Kadang." jawab Angeli.


"Kamu tidak suka bihun?" tanya Surya lagi.


"Kalau makan jangan sambil bicara! Kalau mau ngobrol nanti saja!" ucap Angeli.


"Oke." Surya pun menuruti kata-kata Angeli.


Sesekali Surya melirik Angeli yang kelihatan diam terus tidak separti biasanya. "Angeli setidaknya kamu bicarakan apa yang kamu sembunyikan dari aku?" bisik hati Surya.


Lamunannya pun tersadarkan karena ada seorang anak kecil pengemis mendekati Angeli. Angeli hanya menatap anak itu, Angeli mengacuhkan anak itu.


"Aku tidak percaya anak ini dari kalangan miskin, masa rambutnya aja pakai pewarna, kan kalau ngemis kayak gini pasti buat makan aja." bisik hati Angeli sambil menikmati makanannya.


Surya langsung memberikan uang sepuluh ribu kepada anak itu, anak itu pun pergi begitu saja. Angeli tidak berkomentar apa-apa, dia hanya melirik Surya.


"Surya, kamu baik banget." ucap Angeli dalam hati.


"Kasihan banget ya anak itu, sudah ditelantarkan kedua orang tuanya, tinggalnya pun di dalam angkot rongsok dekat pembuangan sampah itu." terdengar suara orang yang duduknya tidak jauh dari Angeli dan Surya.


"Ya Tuhan. Maafkan aku yang memandang orang dengan sebelah mata ini." bisik hati Angeli sambil membuka kaca matanya.

__ADS_1


"Kamu cantik banget kalau tidak memakai kaca mata." sambil meletakan sendok dan garpunya.


"Surya, habiskan makanannya!" perintah Angeli.


"Udah kenyang." jawab Surya.


Surya melihat semua makanan dan minuman Angeli habis.


"Kenapa liatin aku kayak gitu? heran ya kalau aku banyak makan." Angeli tersenyum.


Surya hanya diam sambil tersenyum mendengar kata-kata Angeli.


"Kita pulang yu!" ajak Surya.


"Habiskan dulu makananya! baru kita pulang!" jawab Angeli.


"Suapin." pinta Surya dengan nada manja.


"Emang kamu gak punya tangan apa!" Angeli cemberut.


"Sekali aja." pinta Surya.


"Aku pulang duluan saja kalau kamu seperti ini terus!" ancam Angeli.


Setelah menghabiskan makanannya, Surya membayarnya dan langsung pulang bersama Angeli.


Sepanjang perjalanan tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari mereka, "Angel." Surya mencoba memulai percakapan.


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?" tanya Surya.


"Maksud kamu apa?" tanya Angeli.


"Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan!" jawab Surya.


"Owh, tentu saja banyak yang aku sembunyikan dari kamu, memangnya kenapa?" tanya Angeli.


"Katakan saja! Rahasiamu aman di tanganku!" Surya berkata penuh percaya diri.


"Masa?" tanya Angeli.


"Iya." Surya memastikan.


"Bohong." Angeli cemberut.

__ADS_1


"Untuk apa selama ini aku belajar jujur, kalau akhirnya aku jadi pembohong!" jelas Surya.


"Kamu akan mengetahui semua yang aku sembunyikan, seiring berjalannya waktu!" ucap Angeli.


Surya menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Angeli.


"Angel." Surya memegang tangan Angeli.


"Lepasin!" Angeli meneteskan air mata dan pergi meninggalkan Surya.


"Angel!" perkataan Surya tidak dihiraukan.


"Maafkan aku Surya, kamu tidak seharusnya melakukan hal itu padaku!" bisik hati Angeli.


Angeli menyeka air mata dan menghentikan langkahnya di depan rumah.


"Baru pulang?" tanya Aaron.


"Iya kak." jawab Angeli.


"Maksud kamu apa, menyuruh Rio untuk tidak bertindak apa-apa pada Andani! Rio itu bekerja untuk kakak. Kamu tidak bisa menyuruh dia seenak hati kamu!" ucap Aaron.


"Iya kak, aku tahu aku salah! Tapi aku minta satu kesempatan saja untukku dekat dengan Andani lagi! Aku mohon." pinta Angeli.


"Kamu tidak takut, kejadian yang sama menimpa kamu lagi?" tanya Aaron memastikan.


"Aku yang akan menanggung resikonya! Sekali pun aku mati, aku tidak peduli!" jelas Angeli.


"Oke, kalau itu maumu! Tapi kalau sampai dia menyakiti kamu, jangan salahkan kakak kalau kakak tidak mengampuninya lagi!" tegas Aaron.


"Iya kak." Angeli meyakinkan, "Kak, apa boleh aku minta bantuan kakak?" tanya Angeli.


"Apa?" tanya Aaron.


"Aku mau Rio menyelidiki tentang Friska." jawab Angeli.


"Friska?" tanya Aaron.


"Iya, teman sekelas aku!" jelas Angeli.


"Oke." Aaron setuju.


"Terima kasih kak" Angeli pun berlalu pergi meninggalkan Aaron.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2