Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Go to Campus


__ADS_3

Aaron dan Steven sudah pulang dari Jakarta.


Tanpa sepengetahuan Angeli. Om Boyke, Aaron dan Steven berkumpul.


"Aaron, belakangan ini Angeli terlihat baik-baik saja, tapi pada kenyataannya dia semakin drop!" Om Boyke menjelaskan kondisi Angeli.


"Maksud Om apa?" Aaron heran.


"Om minta kamu tarik tantangan yang kamu berikan pada Angeli! Itu akan membuat kondisi Angeli semakin parah!" tegas Om Boyke.


"Belakangan ini Angeli sering pingsan, itu menandakan ia terlalu memaksakan sesuatu yang tidak ia sukai!" tambahnya.


"Aku sudah berulang kali mengatakan hal itu ide buruk! Tapi kakak tetap nekad!" Steven angkat bicara.


"Maafkan aku." sesal Aaron.


"Menurut aku, kalau kakak menarik perjanjiannya itu akan membuat kondisi Angeli semakin parah." pendapat Steven.


"Pendapat Steven benar sekali!" sahut Om Boyke.


"Terus. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aaron.


"Untuk saat ini, lakukan saja rencana kakak! Aku akan membuat Angeli membatalkan perjanjiannya dengan caraku sendiri." tegas Steven.


Aaron mengangguk tanda setuju.


Aaron pun pergi menuju kamar Angeli.


"Tok. tok. tok." Aaron mengetuk pintu kamar Angeli.


Angeli keluar dari kamar dalam keadaan sudah siap.


"Baju putih, rok hitam, jas hitam, dasi hitam, sepatu pantofel hitam hak tinggi sepuluh sentimeter, sabuk hitam, kaos kaki putih. Cantik kan?" Angeli mengedipkan mata kanannya.


"Cantik." Aaron terlihat bingung.

__ADS_1


"Kakak kenapa?" tanya Angeli.


"Kamu tidak bisa memakai yang haknya tujuh atau lima sentimeter?" tanya Aaron.


"Tidak kak, itu mudah pegal." Angeli menampakkan wajah cemberut manjanya.


"Ya sudah kalau kamu memang nyamannya seperti itu! ayo kita sarapan dulu." Aaron sambil pergi.


"Sebentar kak, aku ambil tas dulu," Angeli masuk ke kamar lagi.


"Tas hitam, buku, alat tulis, hand phone, dan senjata." sambil memasukkan semua barang-barangnya.


Angeli menuju cermin, "Model rambut ikat dua di bawah, pakai kacamata." sambil memperhatikan penampilannya di cermin.


"Segini kelihatan culun gak ya? Aku tetap cantik." sambil memuji diri sendiri menuju ruang makan.


Angeli menghampiri Aaron dan duduk tepat di depannya.


"Setelah diperhatikan, kamu tidak bisa bisa dandan seperti orang kampung" Aaron membuka pembicaraan.


"Lima ratus ribu per hari? Kak uang jajan aku waktu SMA aja diatas itu!" Angeli kesal.


"Dua ratus ribu!" sambil mengambil uang tiga ratus ribu yang ada di meja.


"Kak! Ini..." Angeli semakin kesal.


"Protes lagi, kakak kurangi lagi!" kata-kata Aaron membuat Angeli terdiam sambil mengambil uang dua ratus ribu di meja makan.


Aaron mengajak keluarga Pak Satya untuk sarapan bersama, setelah selesai sarapan, Bu Anti menyerahkan bekal Angeli. Karena selama swaster mahasiswa baru diwajibkan membawa nasi.


"Maaf non, ayam bakar yang non pesan tidak ada, rumah makannya belum buka, jadi bibi menggantinya dengan ayam goreng." Bu Anti memberikan bekalnya.


"Terima kasih bu." Angeli memasukan bekalnya kedalam tas.


"Angel, hari ini kamu berangkat di temani Awan, pulang juga kamu ditemani Awan, supaya kamu jalan!" perintah Aaron.

__ADS_1


"Oke." Angeli beranjak dari tempat duduknya.


"Aku berangkat dulu kak." Angeli mencium pipi Aaron dan berangkat.


"Angel, tanda pengenal kamu!" Aaron menghampiri Angeli.


Tanda pengenal semua mahasiswa baru di kampus ini adalah kain putih dengan panjang dua puluh centimeter dan lebar lima centimeter.


Dikain itu tertulis nama panggilan masing-masing mahasiswa berwarna hitam, dan harus diikatkan di tangan kanan.


"Jangan sampai lupa! Pakai selama swaster berlangsung!" Aaron memakaikan tanda pengenal Angeli, setelah itu Angeli pun berangkat bersama Awan.


Saat keluar dari gerbang Angeli hand phone Angeli berdering, setelah dibuka ternyata pesan dari Steven.


Steven :


"Cieee. Mahasiswa baru.


Angel sayang. Jika kamu melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan kapal pesiar kamu tidak akan sanggup menjalani semua ini!"


Angeli :


"Maksud kakak apa?"


Steven :


"Berfikirlah yang jernih!"


Angeli :


"Nanti aku fikirkan!"


Angeli kembali menyimpan hand phonenya ke dalam tas, sementara Steven melihat Angeli dari balik kaca kamarnya.


Angeli sudah tidak terlihat dari kaca, Steven masih memegang hand phonenya dengan perasaan gelisah.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2