
Aaron merasa heran dengan kelakuan Angeli, dia mencoba mengingat hal-hal yang mungkin menyakiti hatinya, tapi dia merasa tidak menyinggung perasaan Angeli.
Perlahan Aaron mendekati Steven, "Steev. Angeli kenapa ya? Pagi ini dia cuek banget sama kakak?"
"Gak tau, nanti aku cari tau." jawab Steven.
"Kalau kamu sudah tau, susul kakak ke kantor ya." perintah Aaron sambil beranjak pergi meninggalkan Steven.
"Oke." Steven pun pergi ke kamar Angeli.
Di dalam kamar Steven mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan alasan perubahan sikapnya pagi ini. Akhirnya Steven mengambil diary milik Angeli yang semalam diberikan oleh Aaron.
Awalnya Steven ragu untuk membuka diary itu, karena takut bersifat rahasia. Dengan penuh pertimbangan akhirnya Steven membuka dan membaca isi diary itu.
Betapa terkejutnya saat Steven membaca "Dear Diary, I Hate Diary!
Kamu tau gak apa alasannya?
Bagiku. Diary adalah sebuah buku penghantar kematian."
"Tahu gak alasannya apa?
__ADS_1
Aku tidak suka. Dulu, sekarang, dan selamanya. Ingin rasanya aku membakarmu!" di setiap lembar diarynya.
Akhirnya Steven memutuskan untuk menemui Angeli sebelum berangkat ke kantor Aaron, Steven menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Tidak lama kemudian Steven melihat Angeli yang berhenti di terminal, perlahan ia pun mendekatinya dan menyimak abrolan Angeli.
"Nanti kamu jemput aku disini! jangan masuk wilayah kampus!" perintah Angeli sambil turun dari mobil.
Steven menarik tangan Angeli, dan membawanya masuk ke dalam mobil Steven.
"Kakak, lepaskan aku!" bentak Angeli yang merasa kaget.
"Maksud kakak apa?" tanya Angeli.
"Angel. Sayang, kamu katakan pada kakak apa maksud semua ini? Kenapa kamu menulis hal yang sama disetiap lembar diary kamu?" dengan lemah lembut Steven mengatakan semua itu.
Angeli hanya diam tidak mengatakan apa-apa. "Sayang, Kamu pecaya kan pada kakak? Kalau kamu percaya dan sayang pada kakak, kamu ceritakan semuanya." rayu Steven.
"Kakak tau sendiri kan kalau aku tidak pernah punya teman perempuan selain Andani dan Permata, aku hanya bergaul dengan kakak-kakakku dan teman laki-laki" sambil menundukan kepala.
"Saat aku masuk SMP, aku duduk di dekat seorang anak perempuan karena saat itu Reiner tidak mau satu bangku lagi denganku." Angeli menghela nafas.
__ADS_1
"Saat itu dia mengulurkan tangan, 'namaku Permata' ucapnya dengan lemah lembut. Permata seorang anak yang pendiam, banyak teman-teman yang menghinanya karena ia cacat."
"Aku selalu membelanya karena aku merasa aku menyayanginya. Hari berganti hari aku semakin mengenalnya, sampai-sampai aku tahu hal yang paling ia sukai adalah menuliskan curhatannya di dalam diary."
"Aku tidak tahu dan tidak begitu mempedulikan isi diarynya karena memang itu rahasianya, aku hanya menganggap itu sebagi hiburannya dikala sepi."
"Kakak tau tidak? perlahan akupun ketularan menulis di diary tanpa sepengetahuan siapapun."
"Sampai akhirnya dia meninggal karena dia mempunyai penyakit meningitis. Atas permintaan mamanya aku membaca diary miliknya, yang aku baca hanyalah kehidupannya yang pahit dan keinginannya."
"Dari semua yang kubaca masih banyak keinginannya yang belum tercapai." Angeli meneteskan air mata.
"Aku mengingat kata yang kalimat terakhir yang ia tulis, 'teima kasih Alexa, kau sudah hadir dihidupku dan memberi aku kebahagiaan' Sejak saat itu aku tidak suka diary, aku pun membakar diaryku." Angeli menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Sudah siang kak, aku takut terlambat." sambil membuka pintu mobil.
"satu hal yang kupinta kak, biarkan aku hidup di jalanku, sesuai keinginanku tanpa mencatatnya!" menutup pintu mobil dan berlalu pergi meninggalkan Steven.
Steven pun pergi menemui Aaron di kantor. Atas persetujuan Aaron, Steven membakar diary Angeli.
BERSAMBUNG...
__ADS_1