
Pulang jalan-jalan, Angeli menemui Mama Kirana dan Papa Antonio.
"Bagaimana menurutmu mengenai Vettel?" tanya Mama Kirana.
"Aku belum tahu Ma." Angeli menghela nafas, "Ma, Pa, apa tahun ini aku boleh berhenti kuliah dulu? Tahun depan aku akan melanjutkan kuliah di Korea."
Tujuan utama Angeli berhenti kuliah dulu karena ia ingin menghindari keramaian untuk berpikir jernih dalam melakukan segala tindakan.
"Lakukan saja apa yang kamu mau nak." Jawaban Mama Kirana membuat hati Angeli lega. Angeli pun pergi ke kamarnya.
****
Keesokan harinya, Angeli dan Reiner mengantarkan Cris dan Vettel ke bandara.
"Vettel, apa aku bisa menjadi normal seperti orang lain?" tanya Angeli sebelum Vettel meninggalkannya.
"Perbanyaklah berdo'a, mintalah kepada Tuhan. Jika Tuhan menghendaki, kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan." jawaban Vettel membuat Angeli merasakan ada setitik cahaya yang menerangi kegelapan.
Cris dan Reiner merasa senang dengan perubahan yang ditampakkan oleh Angeli. Sekarang Angeli terlihat lebih lembut dibandingkan dengan biasanya.
****
"Gel, kamu suka pada Vettel? Bagaimana dengan Surya?" tanya Reiner saat mereka meninggalkan bandara.
"Aku tidak tahu. Aku belum bisa menjelaskan semua yang aku rasakan." sambil menatap cincin tunangannya.
"Aku hanya berharap agar tidak ada kejelekan diantara aku, Vettel dan Surya."
__ADS_1
"Sepertinya kamu sudah bisa berpikir jernih." Reiner tersenyum.
"Aku hanya ingin merasakan ketenangan di akhir hidupku." Angeli tersenyum pahit.
"Semangat ya Gel, kamu juga harus berdo'a agar kamu berumur panjang melebihi vonis yang kamu terima."
"Hmm. Pokoknya, aku mau menyelesaikan urusanku dengan Surya."
"Setelah itu, aku akan pergi ke Korea. Aku mau kuliah disana." jelas Angeli pada Reiner.
"Apa kamu bersikap seperti ini gara-gara Vettel?"
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Apa kamu mencintai Vettel?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Aku merasakan kenyamanaan saat berada di dekatnya."
"Maksud?"
"Gak tahu arah tujuan."
****
1 Minggu kemudian.
Aaron, Reiner, Angeli dan Rio sudah kembali ke Bandung dan menjalani aktivitas masing-masing.
__ADS_1
Mendengar kepulangan mereka, Surya langsung menemui Angeli.
"Hay Angel, apa kabar?" tanya Surya kaku.
"Aku baik-baik saja. Sebaliknya?"
"Selepas kepergianmu, aku merasa ada yang hilang dari hatiku. Tapi, aku senang akhirnya kau kembali." Surya tersenyum, "Kamu mau kan balikan sama aku?" harap Surya.
"Maaf, aku tidak bisa menerima kamu lagi." jawaban Angeli membuat Surya kaget.
"Kenapa?"
"Jalan hidup ini masih panjang, saat ini aku tidak mau punya hubungan dulu. Aku berharap kamu mau berteman saja denganku." Angeli sengaja tidak mengatakan bahwa ia sudah tunangan, ia tidak mau Surya terluka gara-gara mendengar hal itu.
Surya merasa kecewa dengan keputusan Angeli, "Sekarang kamu terlihat beda ya. Semakin pendiam. Apa kamu tertekan?"
Angeli tersenyum mendengar pertanyaan Surya. "Sudahlah, aku memang labil. Jadi, kamu tidak usah khawatir."
Sejak mendengar semua perkataan Vettel, Angeli memang berubah. Dia sudah bisa mengesampingkan egonya, dia juga lebih sering menyendiri untuk berdo'a dan merenung.
"Surya, aku berharap kamu membuka hati kamu untuk orang lain, kita tidak tahu seperti apa masa depan kita."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"
"Kita tidak tahu siapa jodoh kita. Jadi, jalani hidup ini dengan terbuka. Agar kita bisa melihat ketulusan orang-orang yang menyayangi kita dan menerima Takdir Tuhan dengan penuh keikhlasan."
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Rekomendasi :