Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Semangat dari Leon Alexander


__ADS_3

"Selamat Pagi." tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar mengagetkan Steven dan Angeli. Angeli pun seketika melepaskan pelukannya.


"Kak Leon?" Angeli ketakutan.


Leon Alexander merupakan kakak keempat Angeli.


"Hey gadis cantik, ini sudah siang. Satnya bangun yu. Tidak baik sudah siang begini masih di atas tempat tidur." sambil mendekati Angeli dan mencubit kedua pipinya.


"Aku lagi sakit kakak." dengan nada manja, sambil kembali berbaring.


"Ayolah. Hanya dengan berbaring seperti ini kamu tidak akan sembuh! Besok kakak akan ikut ke Prancis. Jadi hari ini kamu harus temani kakak jalan-jalan!" Leon memaksa.


"Kakak, Aku masih lemes." bantah Angeli sambil menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Owh, kamu mau kakak cubit ya?" Leon membuka selimut yang menyelimuti Angeli.


"Jangan Kak, aku akan temani kakak, asal kakak jangan macam-macam." Angeli terlihat sedikit ketakutan.


"Oke, sekarang kamu makan ini dulu. Ini brownies kukus kesukaanmu, kakak membelinya spesial untuk kamu. Aaa..." Leon pun menyuapi Angeli.


Bukan hanya Angeli yang disuapi oleh Leon, tapi Steven pun dipaksa dia suapi.


Setelah selesai makan Leon meminta Steven melepaskan infusan yang terpasang di tangan kanan Angeli, karena hanya Steven yang dipercaya oleh Om Boyke.

__ADS_1


Angeli pegi menuju kamarnya untuk siap-siap. Saat Angeli membuka pintu kamar, kamarnya sudah rapi dan bersih. Kaca jendelanya pun sudah diganti.


Dia hanya mampu menghela nafas mengingat apa yang dia lakukan semalam. Hal itu sudah ratusan kali ia perbuat, tapi itu semua dia lakukan di bawah sadarnya.


Setelah siap-siap Angeli keluar dari kamarnya, di depan kamarnya Leon sudah menunggu.


"Kamu, cantik sekali. Ayo, kita pergi!" tanpa basa-basi Leon merangkul Angeli.


"Kak Steven gak ikut?" tanya Angeli.


"Pokoknya hari ini adalah hari spesial kita, aku sudah meminta izin pada Steven untuk meminjam kamu sampai sore." sambil tersenyum.


"Ayolah, aku tidak akan menyakitimu." Leon meyakinkan Angeli.


"Baiklah. Tapi sebenarnya kita mau kemana?" Angeli penasaran.


"Kakak nyebelin!" dengan nada kesalnya yang manja.


Mereka pun pergi menuju tempat wisata, Leon mengajak Angeli naik perahu angsa. Awalnya Angeli menolak, karena ia takut air dan tidak bisa berenang.


Leon memaksa Angeli dan memastikan pada Angeli bahwa tidak akan terjadi apa-apa, walaupun Angeli merasa takut, akhirnya ia mengalah mengikuti keinginan Leon.


Stetelah puas menikmati keindahan danau, Leon memberikan ice cream kesukaan Angeli dan mengajaknya ke taman.

__ADS_1


"Angel, kamu dari tadi diam saja. Kenapa?" tanya Leon merasa heran.


"Kak Leon sekarang beda banget ya." ucap Angeli.


"Makin ganteng ya?" sambil mengerutkan alisnya.


"Bukan itu. Setiap kali kakak pulang, kakak pasti menganiaya aku." sambil cemberut.


"Angel. Kamu sekarang sudah besar. Kakak ingin kamu tumbuh dewasa, dan bersikap dewasa. Kakak juga tahu kasus kemarin."


Tiba-tiba Leon menatap Angeli, "Angel, Kakak berharap kamu tetap semangat. Kamu harus yakin kalau kamu akan sembuh. Kakak berharap disisa akhir hidupmu kamu memberikan kebahagiaan untuk mama dan papa."


"Masa lalu jadikan pelajaran berharga dalam hidupmu! Kamu jangan terus terpuruk dalam penyesalan, tapi kamu harus membuktikan bahwa kamu bisa membanggakan mama dan papa."


Mendengar perkataan Leon, Angeli meneteskan air mata. Leon pun mengusap air mata Angeli sambil tersenyum.


"Semangat ya!" sambil mencubit pipi Angeli.


"Iya kak." Angeli pun tersenyum.


Hari mulai sore mereka pun pulang.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Rekomendasi :



__ADS_2