
Waktu berlalu begitu cepat, hari ketiga swaster sudah beres.
Sesampainya di rumah, Angeli disambut raut wajah yang terlihat kesal, "Angel! Kakak mau kamu putuskan Doni sekarang juga!" sahut Aaron.
"Kak, maksud kakak apa? Aku sama Doni baru juga dua hari jadian!" Angeli kesal.
"Kamu tidak mencintai dia kan? Jadi sudah putuskan saja!" Aaron semakin menekan Angeli.
Tanpa pikir panjang lagi Angeli mengambil hand phonenya, "Aku telpon sekarang! Aku akan minta putus sama dia! Kakak puas?" Angeli kesal.
"Jangan ditelpon! Kamu datang ke rumahnya!" Bentak Aaron.
Reiner yang datang bersama Surya merasa kaget.
"Kak. Aku ini perempuan! Masa main ke rumah laki-laki! Mau ditaruh dimana harga diri aku?" Angeli mulai marah.
"Sayang, sekali ini aja. Kakak mohon sama kamu, ya." bujuk Aaron.
"Apa alasan kakak menyuruh aku kayak gini?" Angeli penasaran.
"Kakak sudah menyelidiki tentang dia! Kakak tidak mau kamu terjerumus ke dunia Doni!" jawab Aaron.
Angeli hanya kebingungan melihat Aaron, "kamu berangkat ke sana bersama Rio, Rio akan masuk terlebih dahulu pastikan jarak kamu masuk agak jauh dari Rio!" Angeli mengangguk.
"Kak. Bagaimana kalau Angeli aku antar?" tanya Surya.
"Emh, maumu. Jangan macam-macam! Main saja sama Reiner!" jawab Aaron sambil berlalu meninggalkan mereka.
Angeli pun berangkat bersama Rio.
__ADS_1
"Non, kenapa diam saja?" tanya Rio.
"Kepalaku mulai sakit!" Angeli cemberut, Rio pun tidak berani bertanya lagi.
"Non, rumah Rio yang itu, non berjalan saja melewati riga rumah ini! Saya duluan, ini perintah pak Aaron!" jelas Rio.
"Oke. Tapi, apa Doni ada di rumah?" tanya Angeli ragu.
"Saya sudah pastikan, ada non!" Rio meyakinkan.
Angeli pun turun dari mobil, dengan berat hati Angeli melangkahkan kakinya menuju rumah Doni.
"Rumah ini kan? Lokasi rumah ini? Rumah yang pernah ditempati keluargaku sebelum pindah ke Jakarta, apa papa menjualnya kepada keluarga Doni?" bisik hati Angeli, dia pun menghentikan langkahnya.
Bayangan masa lalunya saat ia merayakan ulang tahunnya yang ketujuh muncul kembali.
Di dalam rumah Doni, Rio sudah menunggu. Rio sudah akrab dengan keluarga Doni, karena selama ini fokus terhadapnya.
"Eh tante lihat deh, ada yang datang." Friska melihat Angeli mulai memasuki gerbang rumah Doni.
"Siapa Fris?" tanya Doni yang sedang mengobrol dengan Rio.
"Selingkuhanmu!" jawab Friska.
"Doni, apa benar kamu selingkuh?" tanya Mama Doni.
"Udahlah tante jangan diperpanjang." Friska memotong pembicaraan.
"Tante tau tidak, dia itu orang yang gak tau malu, dia sudah mempermalukan Doni di depan kelas. Selain itu dia bukan perempuan baik tante, dia itu korban pergaulan bebas tante! mungkin dia datang kesini mau minta di nikahin sama Doni." jelas Friska.
__ADS_1
Rio yang mendengar adik bosnya difitnah seperti itu merasa sangat marah, tapi dia harus profesional menjalankan pekerjaannya.
"Selamat sore." ucap Angeli pada pelayan disana, "Apa benar ini rumah Doni?"
"Langsung suruh masuk saja!" terdengar suara Mama Doni.
Angeli pun masuk, "Selamat sore Tante, apa Doninya ada?" tanya Angeli.
"Eh, perempuan murahan! Kamu mau apa cari anak saya? Dengar ya, anak saya ini masih muda! Belum saatnya untuk menikah! Kalau kamu mau nikah, sana cari saja laki-laki lain yang pernah gaul bebas sama kamu!" Mama Doni marah-marah.
"Maksud tante apa? Saya belum menjelaskan maksud kedatangan saya." Angeli mulai meneteskan air mata.
"Maaa. Mama jangan marah-marah gitu dong! Mama jangan kemakan omongan Friska!" Doni menghampiri mamanya.
"Doni, kamu berani membentak mama?" Mama Doni semakin kesal, "Asal kamu tau saja perempuan murahan, kamu tidak pantas menginjakkan kakimu di rumah ini apalagi menjadi bagian keluarga ini!" kata-kata Mama Doni terus menghujam Angeli.
Tangis Angeli semakin tak tertahan, "Tante. Demi Tuhan yang telah menciptakanku. Semoga Tuhan membalas semua perlakuan tante padaku!"
"Aku bersumpah akan berdo'a semoga tante menyesali perbuatan tante padaku! Semoga kelakuan tante menjadi penghancur hidup tante!" Angeli menangis tiada henti.
"Dan kamu Doni, kamu dan Friska juga akan merasakan akibat perbuatan mamamu! Mulai dari sekarang kita putus!" Angeli berlari meninggalkan rumah Doni, menuju jembatan tempat kecelakaan yang menimpanya saat ia berusia tiga tahun.
Melihat kejadian itu Rio pun langsung pamitan, dia menyusul Angeli. Tapi dia melihat Surya mendekati Angeli, dia pun langsung pulang dan menyerahkan rekaman kepada Aaron.
"Angeli. Kamu tenang ya, ada aku disini. Kita pulang ya." bujuk Surya.
"Hati aku hancur Ya. Harga diri aku udah diinjek-injek, hatiku terasa remuk bagaikan gelas pecah yang tak akan bisa kembali utuh!" Angeli terus menangis.
Surya terus membujuk Angeli dengan lemah lembut, akhirnya Angeli mau pulang bersamanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...