Harga Diri Adalah Harga Mati

Harga Diri Adalah Harga Mati
Satu Hari untuk Mengenalmu


__ADS_3

Walaupun Angeli menyuruh Steven mengejar Maylea, tapi hatinya merasa sangat sakit. Karena dia tunangan tanpa disaksikan oleh Steven.


Setelah acara tunangan selesai, Angeli kembali masuk ke kamarnya. Tanpa Angeli sadari, Vettel mengikuti dia ke kamar.


"Kamu sangat tidak sopan ya! Kenapa kamu memasuki kamarku!" bentak Angeli pada Vettel setelah Angeli sadar kalau dia diikuti.


"Aku hanya ingin meminta waktumu, sebentar saja." ucapnya dingin.


"Apa?"


"Jangan harap aku akan mencintaimu. Karena aku tidak suka padamu saat ini!" sambil melemparkan senyuman sinis.


"Hh! Kalau saja Kak Cris tidak menyuruhku menikah denganmu, aku tidak akan mau bertunangan denganmu! Kamu juga jangan harap, aku akan mencintaimu!" balas Angeli.


"Egois! Ternyata benar kata Kak Cris, kalau kamu memang tak punya hati! Kamu berkata seenaknya, tanpa tahu alasan dibalik perkataan lawan bicaramu!" Vettel kembali tersenyum.


Di mata Angeli, senyumannya saat ini terlihat manis dan tulus.


"Angel, lusa aku dan Kak Cris akan kembali ke Korea. Kak Cris memintaku untuk mengajakmu jalan-jalan. Jadi, mau tidak mau, besok kamu harus menemaniku." ucapnya manis.


Angeli tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk.


"Aku minta maaf, karena sudah lancang memasuki kamarmu. Aku berjanji kalau ini pertama dan terakhir kalinya aku memasuki kamarmu sebelum kita menikah." Vettel pun meninggalkan kamar Angeli.


"Entah kenapa, hatiku merasa tenang saat kau berada di dekatku." bisik hati Angeli saat melihat Vettel meninggalkannya.


****

__ADS_1


Keesokan harinya, Angeli pergi bersama Vettel. Sepanjang perjalanan tidak sepatah katapun yang dikeluarkan Angeli. Sesekali Vettel melihat Angeli sambil tersenyum.


"Kita sudah sampai." ucap Vettel.


Vettel membawa Angeli ke sebuah taman yang sangat indah. Vettel mengajak Angeli untuk duduk di hamparan rumput hijau taman itu.


"Katanya kamu cerewet. Tapi kok dari tadi diam terus?" tanya Vettel terlihat heran.


"Apa yang harus aku katakan?" Angeli terlihat putus asa.


Vettel melemparkan senyuman manis pada Angeli, "Kata-kata yang kemarin, bukan tulus dari hatiku. Aku hanya ingin tahu respon kamu saja."


"Maksud kamu?" Angeli heran.


"Aku mendengar, kalau daya ingat kamu itu bagus sekali." Vettel menghela nafas. "Tapi, mungkin aku bukanlah orang yang penting di masa lalu kamu. Jadi kamu tidak mengingatnya."


"Aku ingin kamu mengingatnya sendiri."


Angeli memperhatikan Vettel, namun sayangnya dia tidak bisa mengingatnya.


"Angel, walaupun kamu tidak mengingatku, walaupun kamu tidak mengenalku. Tapi, aku tahu siapa kamu sebenarnya."


"Sejauh mana kamu tahu tentangku?"


"Semua. Aku sudah tahu semua tentangmu."


"Angel. Sebelumnya aku minta maaf, aku tidak bermaksud mengguruimu. Aku hanya ingin berpesan padamu, jadilah orang yang ikhlas!"

__ADS_1


"Keegoan yang selama ini kamu tampakkan, membuat hidup kamu menderita. Kamu sering drop, karena kamu terlalu keras kepala. Mungkin bukan keras kepala, tapi keras hati."


"Angel, alasan kamu mempertahankan hidup kamu karena kamu ingin membahagiakan orang tua kamu. Tapi sebenarnya, kamu hanya menyimpan dendam kepada orang yang sudah mencelakaimu."


"Selama ini, kamu tidak pernah menerima takdirmu. Kamu juga jauh dari Tuhan."


"Kamu anak cerdas, aku tidak usah mengajarkanmu kan. Cerna saja perkataanku yang tadi."


"Entah kenapa aku tak berdaya mendengar semua perkataan Vettel. Aku hanya melihat luka yang begitu dalam yang ditampakkan oleh Vettel." bisik hati Angeli.


"Jangan melamun!" Vettel mengagetkan Angeli.


"Angel, setelah kamu sampai di Indonesia, aku ingin kamu membereskan urusanmu dengan Surya. Aku tidak peduli kamu mau pacaran lagi dengan Surya. Karena, jodoh sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Kita hanya harus iklas dengan takdir Tuhan." tegas Vettel.


"Satu hal lagi yang harus kamu ingat, orang yang benar-benar mencintai kamu, tidak akan pernah berani menyentuhmu disaat ia belum memilikimu sepenuhnya."


Kata-kata itu membuat Angeli terhempas pada bayangan masa lalunya, kalau ia pernah mengatakan hal itu.


"Kamu juga tidak usah menghubungiku, kalau kamu belum mengingat masa lalu kita."


"Vettel. Aku merasa nyaman berada di dekatmu."


"Tidak usah berbicara seperti itu, nanti aku cuma kamu PHPin." sambil mengedipkan mata kanannya.


Angeli dan Vettel menghabiskan waktu kebersamaannya seharian.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2