HARLEY THE SECRET AGENT

HARLEY THE SECRET AGENT
Kenyataan Pahit


__ADS_3

" Benarkah apa yang dibicarakan oleh nona itu tuan?" Tanya Rosie, ketika pemuda itu kembaliĀ  kekamarnya sehabis mengantarkan dua teman wanitanya tadi. Rupanya gadis itu diam-diam mendengarkan pembicaraan diantara mereka mengenai ayahnya.


" Yang mana?" Tanya Harley, tak acuh dan pura-pura tidak tahu.


" Bahwa kamu telah membunuh ayahku " Jawabnya lirih, meski baru sebentar saja dia bisa mengenal sang ayah tetapi dirinya cukup tahu jika ayahnya itu bukanlah orang yang baik. Terbukti dari luka lebam disekujur tubuhnya.


Harley menghela nafasnya berat, dia tidak akan berusaha untuk menutupi kenyataan pahit itu dari Rosie. Toh tidak ada untungnya juga pikirnya.


" Ya, aku telah membunuh ayahmu " Ucap Harley, lalu menjatuhkan dirinya di sofa dan bersiap untuk kembali melanjutkan tidurnya.


Rosie terdiam dan menatap nanar mahluk dingin dihadapannya, bagaimana mungkin pria itu mengakuinya begitu saja? Seakan perbuatan itu merupakan hal yang mudah baginya. Ingin rasanya Rosie bertanya lebih lanjut alasan mengapa pria dingin itu membunuh sang ayah yang telah tega memaksanya untuk melakukan hal tak senonoh untuk kawan-kawannya tetapi rasanya percuma, toh pria itu sudah mati pikir Rosie.


" Tidurlah " Pinta Harley tanpa melihat ke arah Rosie.


Pagi harinya.


" Damn!.." Umpat Harley, saat dia mendapati Rosie tak ada diranjangnya, kemana gadis itu pikirnya.


" Dia bahkan melepaskan jarum infusnya sendiri " Gumam Harley, saat dirinya melihat alat medis itu tergeletak diatas ranjangnya. Dia pun bergegas keluar dari kamar itu untuk mencari keberadaan Rosie, setelah yakin bahwa gadis itu tidak ada didalam kamar mandi. Bahkan Max pun tidak ada ditempatnya.


" Semoga saja dia belum pergi terlalu jauh " Batin Harley.


Rumah yang ditempatinya saat ini berada jauh dari pemukiman terdekat, butuh waktu tiga puluh menit untuk bisa sampai disana itu pun dengan menggunakan kendaraan. Dan sayangnya jalan menuju rumah Harley itu jarang sekali dilalui oleh kendaraan lain.


" Paloma...?" Gumam Harley saat dirinya tiba-tiba mencium wangi makanan dari arah dapur. Pria dingin itupun memutuskan untuk melangkahkan kakinya kesana, dan berharap jika wanita tua itu telah kembali kepadanya.


" Paloma...Apakah itu..." Ucapan Harley seketika terhenti saat netranya menatap seorang gadis tengah asik berkutat dengan alat dapur disana, dia bahkan bersenandung riang menyanyikan sebuah lagu yang belum pernah didengarnya selama ini.


" Owh...Selamat pagi tuan " Sapa Rosie ramah, sambil menuangkan hasil masakannya keatas piring lalu menaruhnya diatas meja makan.


" Aku harap kamu menyukai masakkan ku " Lanjutnya, lalu menuntun Harley yang masih berdiri diambang pintu menuju kursi kosong yang telah dia siapkan untuknya.

__ADS_1


Harley tetap terdiam dan sesekali menatap dingin gadis itu, ingin rasanya dia meluapkan kekesalannya kepada Rosie atas apa yang menimpa Paloma sejak kemarin. Tetapi entah mengapa hal itu tidak juga bisa dia lakukan. Harley lebih memilih untuk memasang jarak diantara mereka, bagaimana pun Rosie hanyalah orang asing baginya.


" Makanlah.." Ucap Rosie seraya menyodorkan satu piring berisi sandwich tuna panggang dengan keju dan sayuran didalamnya, juga segelas air susu hangat kepada Harley.


" Aku tidak tahu apa kamu akan menyukainya, tapi ini makanan yang hampir setiap pagi dibuatkan oleh mommy untukku " Cicit Rosie.


Harley sama sekali tidak memperdulikan ucapan gadis belia yang ada dihadapannya saat ini, dia hanya ingin mengisi perutnya yang memang sudah sangat lapar lalu menyudahi acara sarapan pagi ini dan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Paloma. Rasanya tak tahan jika tidak mencurahkan isi hatinya kepada wanita itu barang sehari saja.


" Terimakasih " Ucap Harley, setelah dia melahap habis sandwich buatan Rosie yang ternyata rasanya mirip dengan sandwich buatan Paloma, Hanya saja wanita tua itu selalu menyajikan makanan itu dengan jus jeruk atau jus sayur dan buah, bukan dengan susu hangat.


Harley beranjak dari duduknya menuju kamar untuk membersihkan dirinya, dia akan menjenguk Paloma pagi ini seperti yang selalu dilakukannya setiap hari. Sementara Max terlihat menikmati makanan yang diberikan oleh Rosie kepadanya tanpa memperdulikan kehadiran sang majikan yang berjalan melewatinya.


" Hmmm..Apa kamu menyukainya Max? " Batin Harley. Biasanya anjingnya ini langsung menyalak jika ada orang asing yang berani melakukan aktivitas tanpa seijin majikannya.


Rosie yang mendapatkan perlakuan dingin dari pria yang telah menolongnya ini mengaku pasrah kepada dirinya sendiri, dia sadar jika dirinya tidak bisa berharap lebih dari pria yang mungkin bermasalah dengan mendiang ayahnya. Makanya pria yang masih disebut tuan olehnya ini sampai tega membunuh sang ayah yang belum lama ini dikenalnya.


" Tuan, bolehkan saya ikut? Saya takut jika harus sendirian disini " Ucap Rosie, saat dirinya melihat Harley yang berjalan menuju pintu garasi yang dia tempati semalam.


Setibanya di rumah sakit, Harley bergegas menuju kamar rawat inap dimana Paloma masih setia memejamkan matanya.


" Bagaimana kondisinya dok?" Tanya Harley, ketika dia melihat seorang dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi wanita yang sudah sangat dirindukannya itu saat dirinya memasuki kamar.


" Kondisinya masih sama tuan..Kami berharap yang terbaik untuk nyonya " Jawab sang dokter, lalu meninggalkan Harley didalam ruangan itu.


" Hallo nenek tua, apa kamu baik-baik saja didalam sana?" Tanya Harley, sambil mengganti bunga layu yang ada didalam vas bunga yang dia letakkan diatas nakas.


" Apa kamu tahu nenek tua...Saat ini dirumah ada seorang gadis yang rasa masakannya hampir sama denganmu, tapi kamu jangan khawatir oke, masakanmu tentunya lebih lezat dibandingkan dengan gadis itu " Cicit Harley, lalu duduk dan meraih tangannya.


" Aku merindukanmu Paloma, apa kamu tega membiarkan aku kelaparan setiap hari? Max juga merindukamu tau...Bangunlah nenek tua " Isak Harley, seperti biasa pria dingin ini akan selalu menangis bila sedang menjenguk Paloma. Satu-satunya wanita dimana dia selalu bebas dan nyaman menjadi dirinya sendiri saat sedang bersama dengannya.


Sementara dikediaman Harley.

__ADS_1


" Max.. Apa dia tuan mu itu membenciku?" Tanya Rosie, sambil mengelus bulu-bulu halus Max. Saat ini mereka tengah menikmati tanyangan film drama di televisi sambil menikmati satu mangkuk besar popcorn.


Ruffh! Ruffh!


" Sepertinya kamu benar Max, ini semua karena ayahku...Dia memang jahat" Ucap Rosie, seperti paham dengan jawaban dari Max.


" Apa kamu tahu Max, dia telah menculikku dari mommyku saat aku sedang bersekolah sebulan yang lalu dan memintaku untuk menari erotis dihadapan teman-temannya, tentu saja aku menolaknya...Dan dia langsung menyekap dan menyiksaku " Cicit Rosie, Max yang mendengarkan cerita Rosie langsung telihat lesu.


" Aku merindukan mommy ku Max, aku ingin pulang..." Isaknya. Max beranjak dari posisinya lalu mendekatkan tubuhnya kepada Rosie untuk memberikan rasa nyaman kepada gadis itu.


" Dimana mommymu sekarang? " Tanya Harley. Sebenarnya dia mendengarkan percakapan antara gadis itu dan Max sejak lima menit yang lalu, sengaja dia menutup pintu perlahan tadi dan diam-diam mendekati mereka agar dirinya bisa mendengarkan percakapan keduanya.


" Tuan, sejak kapan kamu berdiri disana?' Tanya Rosie terkejut, apalagi melihat posisi Harley yang berdiri sambil bersandar ke dinding dan melipat kedua tangannya didada, dan menatapnya tajam.


" Aku tanya sekali lagi, dimana mommy mu sekarang?! Aku akan menghubunginya agar dia menjemputmu kemari " Ujar Harley, sambil berjalan mendekati Rosie dan Max lalu memberikan ponselnya kepada gadis itu agar Rosie bisa langsung menghubungi mommy nya itu.


Rosie pun mengetik beberapa nomor disana, lalu menekan tombol icon panggilan dan menunggu seseorang diseberang sana untuk menerima panggilan itu darinya.


" Mommy..."


.


.


.


To be continue


Hai kakak-kakak tercinta, terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini. Jangan lupa dukung novel othor yang lainnya yah...


Happy reading

__ADS_1


__ADS_2