
Tiga tahun kemudian.
Saat ini Ellena sudah menginjak bangku kuliah disebuah universitas ternama di negara W, dia sudah tidak tinggal lagi bersama dengan keluarga Clarkson. Gadis ini bahkan sudah pindah negara karena menerima beasiswa dari universitas dimana dia mengenyam pendidikannya sekarang.
Ellena harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, meski keluarga Clarkson masih tetap memberinya uang bulanan tetapi gadis itu tidak mau terlalu mengandalkan bantuan dari keluarga yang baik hati itu.
Ellena tinggal disebuah apartemen bersama dengan temannya Marlyn, seorang gadis cantik yang pintar dan baik juga polos. Sama seperti dirinya. Mereka sama-sama kuliah di unversitas W dan merekapun mengambil jurusan yang sama yakni fashion designer, bedanya adalah Marilyn berasal dari keluarga kaya raya. Tetapi meski berlatar belakang keluarga kaya tidak membuat gadis tiu sombong dan suka berfoya-foya seperti gadsi kaya pada umumnya, terbukti dari gaya hidupnya yang sederhana. Bahkan mereka menyewa apartemen itu secara patungan.
Sore itu seperti biasa sehabis kuliah Ellena akan pergi ke sebuah butik ternama untuk bekerja, disana dia bekerja sebagai pelayan paruh waktu hingga pukul 8 malam.
Tidak ada keanehan terjadi di butik tersebut dari semenjak Ellena tiba sore itu, semua berjalan seperti biasanya. Hingga tepat pada pukul 7.45 malam disaat dirinya dan teman-temannya tengah bersiap-siap untuk menutup toko, tiba-tiba saja sekelompok orang dengan mengendarai sepeda motor dan mobil menembaki para pejalan kaki juga toko-toko disepanjang jalan itu. Termasuk toko dimana Ellena bekerja saat ini.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Senjata mesin memuntahkan pelurunya kesemua arah hingga menghancurkan apa saja yang menghalanginya, manusia, kendaraan, kaca, dinding, sebutkan saja apapun yang ada disepanjang jalan itu. Hingga menyisakan teriakan, kehancuran dan mayat-mayat yang bergelimpangan.
Ellena berhasil menyelamatkan dirinya dan baru keluar dari persembunyiannya setelah gadis itu mendengar bunyi sirine mobil polisi dan ambulance.
“ Ellena! Ya Tuhan…Dimana kamu sekarang?!” Pekik Marilyn melalui sambungan teleponnya kepada sahabatnya itu.
“Aku masih di butik Mary, aku akan pulang sebentar lagi “ Ujar Ellena.
“Disini banyak polisi dan ambulance Mar…Dan…Mayat” Lanjutnya dengan suara yang mulai bergetar, sama seperti tubuhnya yang bergetar. Ellena sangat ketakutan saat ini, dia berusaha untuk tetap sadar meski kepalanya pusing dan tubuhnya lemas.
“Tunggu disana, aku akan menjemputmu Elle! Ingat jangan kemana-mana!” Pekik Marilyn, lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
Ellena duduk sambil menangis dibelakang meja kasir, dia tidak berani keluar dari tempatnya karena disamping kanan dan kirinya pun saat ini terdapat mayat yang bersimbah darah akibat tembakan sekelompok orang tadi. Entah mayat siapa Ellena tidak tahu, apakah itu temannya atau tamunya.
__ADS_1
“ Maaf nona anda tidak boleh melewati jalan ini” Ucap salah seorang petugas keamanan, saat Marilyn merusaha untuk melewati jalan itu dan menjemput Ellena.
“Pak! Teman saya ada di butik itu! Tolong dia pak!” Ucap Marylin sambil menunjuk ke arah butik yang sekarang tengah dikerumuni banyak anggota polisi dan petugas medis
“Polisi sedang berada disana nona, anda tenang saja nanti mereka akan mengevakuasi semua korban ke rumah sakit W “ Ucap petugas keamanan tersebut.
Marylin mencoba untuk menghubungi ponsel Ellena kembali, baru setelah panggilan ketiga sahabatnya itu merespon panggilan darinya.
“Elle! Kamu dimana?!” Pekik Marilyn, bahkan petugas keamanan tampan itu sampai terkejut mendengar lengkingan suara Marilyn.
“ Oke aku akan segera kesana! Kamu tinggu disana dan jangan kemana-mana oke?!” Lanjutnya, lalu mematikan sambungan teleponnya dan bergegas menuju rumah sakit W.
Jauh di negara yang berbeda, terlihat kesibukan sedang terjadi disebuah fasilitas rahasia sesaat setelah mereka menerima sebuah informasi tentang peristiwa penembakan yang baru saja terjadi dari salah seorang petinggi negara disana.
Sementara Harley yang baru saja tiba dari tugas terakhirnya, terpaksa harus menghubungi Peter untuk memperpanjang masa tinggal Max bersama dengan pemuda itu. Karena pria dingin itu harus kembali kedalam pesawat dan terbang menuju kantor pusat.
“Jet lag har?” Tanya Ferrari sambil memijat keningnya sendiri. Wanita cantik ini melihat teman prianya yang juga sedang memijat keningnya sendiri.
Ferrari menjawab pertanyaan Harley hanya dengan telunjuknya yang dia arahkan ke toilet, pria dingin itu terlihat menggelengkan kepalanya dia yakin Chopper sedang berada disana untuk berjuang menghilangkan rasa mual dan pusingnya.
“M benar-benar gila!” Keluh Chopper saat dirinya baru selesai dengan urusannya di kamar mandi.
Dia dan Ferrari pun mengalami kejadian yang sama dengan Harley, baru saja mereka menapakkan kakinya di bandara, tiba-tiba M menghubunginya dan memerintahkannya untuk kembali ke kantor pusat. Padahal dia dan Ferrari sudah merencanakan untuk liburan bersama.
“Sorry anak-anak…Tapi tugas ini harus aku serahkan kepada kalian” Ucap M, Wanita itu seperti hantu yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.
M menyalakan layar monitor besar, sambil meredupkan lampu di ruangan pribadinya. Seketika ketiganya menegakkan tubuhnya dan memokuskan penglihatannya.
__ADS_1
“Yes anak-anak…Kita akan bertemu lagi dengan gadis itu, saat kejadian dia sedang bekerja di salah satu butik ternama disana “ Ucap M, lalu menekan kembali tombolnya untuk memindahkan gambar yang ada disana.
Wanita yang setia dengan gaya rambut cepaknya itupun mulai memaparkan siapa-siapa saja kemungkinan orang yang bertanggung jawab atas aksi terorisme tersebut, salah satu tugas mereka adalah memindahkan target perlindungan saksi ke tempat baru selain membasmi para penjahat itu hingga ke akarnya tentunya.
“Kalian akan berangkat dalam…satu jam lima menit mulai dari sekarang” Ucap M, sambil melihat jam tangan canggih yang melingkar di pergelangan tangannya.
“ Bersiaplah anak-anak” Lanjutnya.
Sementara dirumah sakit Ellena terlihat masih syok, gadis itu belum bisa dimintai keterangan oleh aparat kepolisian. Mereka juga belum mengetahui identitas Ellena karena saat ditemukan Ellena sedang bersembunyi dibawah meja kasir tanpa membawa identitas apapun kecuali kartu karyawan magang yang tersemat di saku kemejanya.
Marilyn pun belum diperbolehkan untuk menemui sahabat baiknnya itu, dia masih berusaha untuk meminta ijin kepada para perawat disana agar bisa menemuinya.
“ Maaf nona, hanya keluarganya saja yang bisa menemui para korban “ Ucap sang suster untuk kesekian kalinya kepada Marylin.
“Ya Tuhan! Tolong kirimkan malaikat penyelamat untuk sahabat tersayangku Ellena “ Ucap gadis itu seraya menengadahkan tangannya ke udara.
Bagai hujan di padang pasir, tiba-tiba saja Marylin tanpa sengaja mendengar seorang pria yang menurutnya sangat tampan bak dewa dan dua orang wanita cantik bak dewi bertanya tentang sahabatnya itu dan ajaibnya mereka mengaku sebagai keluarganya.
“Tuhan! Aku rela membuatkan pakaian untuk mereka! Suer!” Ucapnya sambil melihat ke langit-langit ruangan dan mengacungkan dua jari tangannya.
.
.
.
To be continue
__ADS_1
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah
Happy reading