
Harley harus menahan amarahnya demi kelancaran misi serta demi keselamatan Rosie, sebagai seorang agent rahasia professional dia tidak boleh mencampuradukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.
Cukup sekali dia mencampurkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan, yakni ketika dirinya membalas dendam atas peristiwa yang menimpa dirinya dan Paloma belum lama ini. Jika saja M tidak memberikan kesempatan kedua kepadanya, mungkin saat ini dia sudah menjadi incaran sesama anggota agen karena dianggap sebagai orang yang bisa membahayakan misi dan sudah pasti akan menjadi target operasi.
Harley harus menunggu hingga besok malam agar dia bisa menyelamatkan Rosie sekaligus menyelesaikan misinya.
Keesokan paginya di Hotel O.
Rosie terlihat gelisah didalam kamar, sesekali gadis itu melihat jam yang tergantung di dinding dan berjalan mondar mandi didalam kamar. Tadi dia berniat akan menemui Lucius untuk mengajaknya sarapan pagi, tetapi ternyata pintu kamarnya terkunci dari luar.
Rosie sudah memberi tahu pihak hotel untuk dimintai pertolongan, tetapi sang pelayan hotel tidak bisa membantunya. Ini karena Lucius sudah berpesan kepada mereka bahwa tidak ada seorangpun yang boleh membuka pintu itu tanpa seijin dirinya.
“ Apa yang terjadi? Kenapa daddy mengurungku disini?” Batin Rosie
Rencananya Rosie akan meminta kepada Lucius agar dirinya bisa menemui mendiang ibunya kamar mayat departemen forensic kepolisian setempat hari ini, gadis itu masih sangat terpukul dengan peristiwa kematian mommy tercintanya.
Rosie mengetahui kabar bagaimana sang mommy terbunuh malam itu dari media, dua peluru bersarang di pelipis dan dadanya. Dia juga mengetahui ada banyak mayat dari para penjahat ditemukan bersama dengan mayat Lorie ketika polisi sampai disana malam itu.
“ Siapa yang telah membunuh mommy ku? Dan kenapa mereka berusaha menculik ku? Apakah ayahku belum mati waktu itu? Tapi aku mendengar pembicaraan mereka saat itu, bahwa ayahku sudah mati ditangan pemuda misterius itu “ Batin Rosie, gadis itupun merebahkan tubuhnya kembali.
Rasa lapar telah dia rasakan sejak tadi, tetapi hingga saat ini pun Lucius belum memperlihatkan batang hidungnya disana. Tak terasa gadis itupun kembali tertidur.
“Rosie…Rosie sayang bangunlah “ Ucap Lucius, sambil mengelus kepala putri angkatnya yang masih asik bermain di alam mimpinya.
Perlahan Rosie membuka matanya, dan mendapati Lucius sudah berada didekatnya bersama dengan seorang pria yang terlihat menakutkan baginya. Pria tinggi besar dengan sorot mata tajam mengarah padanya.
__ADS_1
“Bersiaplah, kita akan makan siang bersama diluar “Lanjutnya.
Rosie terduduk sambil memijat keningnya yang terasa berdenyut, pagi tadi dia tertidur dalam keadaan perut yang kosong.
“Dad…Bolehkan aku melihat ibuku?” Tanya Rosie.
“Kita akan melihatnya malam ini, forensic masih memeriksa tubuh ibumu “ Kilah Lucius. Pria bermuka dua ini rupanya sudah menduga jika putri angkatnya akan meminta hal itu kepadanya, diapun sudah menyiapkan jawaban yang pas untuk Rosie.
Rosie memutuskan untuk tidak mandi dan hanya mencuci mukanya saja, karena dia merasa jika tubuhnya sedikit menggigil, dan mandi bukanlah pilihan terbaik pikirnya. Toh nanti pun daddy nya akan membawanya kembali ke hotel ini, dan saat itulah dirinya baru akan mandi.
“Aku sudah siap dad“Ucap Rosie saat dirinya berjalan menghampiri sang daddy.
“Oke sayang, sebaiknya kita juga membeli pakaian untukmu nanti…Bagaimana menurutmu?” Tanya Lucius sambal mengulas senyuman manis untuk putrinya itu.
Sebenarnya dia akan mempersiapkan Rosie untuk tampil secantik mungkin saat bertemu dengan Draco malam nanti, untuk itulah dia akan membawa Rosie ke sebuah butik dan salon lantas akan mendandaninya disana.
Rosie benar-benar merasa jika Lucius sangat memanjakannya siang itu. Dia membawa dirinya makan siang bersama disebuah restoran mewah, lalu diapun membawa Rosie ke sebuah butik mahal dan membelikan beberapa gaun yang sangat disukai oleh Rosie. Tidak hanya itu Lucius juga membawa dirinya ke sebuah salon, agar Rosie bisa mempercantik diri.
Rosie hanya mengira bahwa semua itu adalah bentuk rasa bersalah Lucius kepadanya, karena selama ini dia selalu sibuk bekerja dan jarang sekali menemani dirinya dan mendiang ibunya. Juga rasa bersalah karena telah menguncinya semalaman hingga siang ini.
Satu hal yang membuat Rosie tidak nyaman, adalah kehadiran seorang pria diantara mereka. Pria yang disebut-sebut sebagai asisten pribadi sang ayah itu selalu saja menatapnya tajam, seakan Rosie adalah mangsa yang siap untuk dia terkam.
Selesai dengan semua keseruan hari itu, tiba saatnya Lucius membawa Rosie untuk melihat mendiang ibunya yang tak lain adalah mendiang istrinya sendiri Lorie. Rosie tak kuasa menahan air matanya saat seorang petugas mengeluarkan mayat sang ibu dari lemari pendingin, gadis itu bisa melihat bekas peluru di kening dan dadanya, juga bekas sayatan di dada hingga perutnya.
“Mommy…Maafkan aku “Ucapnya lirih.
__ADS_1
“Waktu kita sudah habis Rosie, kita harus segera pergi “ Ucap Lucius, setelah dirinya melihat jam tangan mewah yang melingkar dipergelangan tangannya.
“Tapi aku masih merindukan mommy ku dad..”Isak nya.
“Sama sayang daddypun sama…Tetapi waktu kita sudah habis”Bujuk Lucius, lalu merangkul bahu Rosie dan menuntunnya keluar dari ruangan dingin itu.
Rosie kembali menangis saat asisten sang daddy membawa mobil yang mereka tumpangi keluar dari pelataran parkir gedung itu, dia masih ingin berlama-lama disana untuk mencurahkan isi hatinya kepada sang mommy. Dia berjanji akan kembali untuk melihat mommynya itu besok, karena menurut petugas kepolisian mayat sang mommy masih harus berada disana hingga tiga hari kedepan.
“Dad…Kita akan kemana? Ini bukan jalan menuju hotel “ Ucap Rosie, saat gadis itu melihat ke samping jendela mobilnya.
“Maaf sayang daddy harus menemui seseorang terlebih dulu, hanya sebentar saja sebelum kita kembali ke hotel nanti “Jawab Lucius, lalu mencium kening putri angkatnya itu.
Rosie terkejut saat mobil yang ditumpanginya berhenti disebuah klub malam, diapun meminta kepada sang daddy untuk menunggu ayah angkatnya itu didalam mobil saja. Karena dirinya masih trauma dengan kejadian penculikan waktu itu, dimana sang ayah membawanya ke sebuah klub malam dan menyuruhnya untuk menari erotis didepan teman-temannya.
“Jangan takut sayang…Daddy akan selalu menjagamu” Ucap Lucius, seraya mengulurkan tangannya.
Merasa yakin dengan ucapan Lucius, karena selama ini pun Rosie mengenal pria ini sebagai seorang ayah yang baik dan selalu menjaganya maka Rosie pun akhirnya mau mengikuti permintaan sang daddy untuk masuk bersama dengannya ke dalam gedung tersebut. Meski jujur saja jauh di lubuk hatinya Rosie merasakan takut yang teramat sangat.
“Mommy…Andaikan mommy ada disini bersama denganku..” Batin Rosie
.
.
To be continue
__ADS_1
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah 😊
Happy reading 🤗🤗🤗