
Harley tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, dia pikir apa yang dia dengar dari pria itu adalah omong kosong belaka, hanya untuk mengulur waktu hingga Viper berhasil menjinakkan bom tersebut dari jarak jauh.
Ternyata apa yang dikatakannya benar! Saat ini dia melihat yang Ellena tengah melepaskan borgol dari tangan pria tua itu.
"Bisa-bisanya dia berpikir kearah sana" Batin Harley, lalu memutuskan untuk pergi dari kamar sang ayah dan mencari kamar yang ditempati oleh Ellena.
Dan secara kebetulan dirinya berpapasan dengan Archie sang kepala pelayan belum lama setelah pria sedingin es itu meninggalkan mereka.
"Dimana kamar nona Ellena?" Harley bertanya setelah pria berpakaian sangat rapi itu menyapanya.
"Ujung lorong sebelah kiri tuan" Jawabnya ramah sambil memberikan petunjuk arah dengan tangannya.
"Mari ikut saya.." Lanjut nya setelah pria paruh baya itu melihat tatapan dingin Harley kepada nya.
Padahal letak kamar Ellena bersebelahan dengan kamar milik Charlie, hanya karena kedua kamar tersebut berukuran besar jadi pintu kamar Ellena terlihat jauh dari posisinya berdiri saat itu. Lagipula apa yang disebut lorong oleh Archie lebih mirip dengan ruangan keluarga bagi Harley.
"Silahkan tuan muda" Archie membungkuk tanda hormat setelah dia membukakan pintu kamar tersebut untuknya.
"Terimakasih" Balas Harley singkat, lalu melangkahkan kakinya memasuki kamar yang sangat luas tersebut.
"Tuan ..Apakah anda ingin pakaian anda dipindahkan ke kamar ini?" Ragu, tetapi Archie harus menanyakan hal itu kepada pria tanpa ekspresi ini. Karena dikamar ini semua barang-barang hanya milik nona kecilnya, sementara kamar tuan mudanya terletak di seberang pintu kamar ini.
"Lakukan saja, aku tidak berniat untuk membiarkan gadis itu seorang diri lagi" Jawabnya sinis, tanpa menoleh ke arah Archie.
Archie merasa tidak enak hati dengan kalimat yang diucapkan oleh anak majikannya yang dingin itu, benar kata Charlie jika sang anak tumbuh dengan karakter yang sangat unik. Tetapi Archie tidak menyangka jika keunikan yang dia maksud adalah sikap dingin dan datarnya ini.
Lagipula salahnya Archie karena mempercayai ucapan Ellena begitu saja sore ini, tanpa memeriksa lebih jauh kebenarannya. Jika saja dirinya tahu bahwa Ellena akan pergi malam ini bersama dengan Dean putranya, mungkin dirinya akan sebisa mungkin melarangnya.
"Aku akan menghukum anak sialan itu" Batin Archie.
"Baik tuan, akan saya pindahkan semua barang-barang anda" Ucapnya, lalu pamit untuk melakukan kembali tugasnya.
__ADS_1
"Barang-barang? Apa maksudnya?" Gumam Harley. Bahkan dirinya baru pertama kali ini menginjakkan kakinya di pulau rahasia milik ayahnya itu, dan apa tadi? Pakaian? Semua pakaian miliknya ada di mansion Rumius. Kenapa tiba-tiba bisa berada disini?
"Kapan aki-aki peot itu mengirimkan pakaian ku kemari?"
Harley memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dengan berendam di air hangat dengan menambahkan wewangian didalamnya, aktivitas nya selama sebulan terakhir ini lumayan membuat tubuhnya terasa penat.
Satu persatu pakaiannya dia tanggalkan dan dia lemparkan kedalam wadah khusus pakaian kotor yang ada disudut walking closet, lalu menyalakan air hangat untuk mengisi bathtub dan membubuhkan minyak aromaterapi disana.
Sementara dirinya menikmati kehangatan didalam kamar mandi, tim pelayan memindahkan semua pakaian milik Harley ke lemari pakaian milik nona muda mereka. Secepat mungkin mereka membereskan semua barang-barang nya disana dan menata kembali ruangan tersebut, lalu meninggalkan kembali ruangan mewah itu.
Ellena baru saja selesai dengan sesi curhat nya dengan Charlie dan keluar dari kamar pria tua tampan itu untuk membiarkan nya beristirahat, gadis itu melihat ada beberapa orang pelayan keluar dari kamarnya.
"Selamat malam nona, selamat beristirahat" Ucap salah satu dari mereka, lalu meninggalkan Ellena dengan sejuta tanya.
"Ini sudah dini hari " Gumam gadis itu sambil melihat jam tangannya. " Apa yang mereka lakukan didalam?" Lanjut nya lalu membuka pintu kamarnya perlahan.
Ellena belum menyadari perubahan kecil dikamar miliknya, gadis itu melangkah kan kakinya menuju walking closet dan menanggalkan seluruh pakaiannya. Ellena memutuskan untuk berendam dengan air hangat yang dibubuhi minyak aromaterapi kesukaan nya sebelum tidur nanti.
Harley yang terkejut dengan kedatangan Ellena tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya, bahkan berjalan dengan mata tertutup harus menahan dirinya. Pria dingin itu ingin tahu sejauh mana dia bisa menyadari kehadirannya disana.
Harley memutuskan untuk membiarkan Ellena dengan tingkah anehnya, dia bahkan harus menarik penutup pembuangan air di bathtub nya perlahan agar air yang dinyalakan oleh Ellena tidak luber dan membasahi lantai.
"Dia tidak juga membuka matanya? Hebat sekali!" Batin Harley, saat gadis kecilnya itu membubuhkan minyak aromaterapi dengan mata yang tetap tertutup rapat lalu masuk kedalam bathtub dimana dirinya berada saat ini.
"Aaahhh....Segarnya..." Ucap Ellena, terdengar manja ditelinga Harley.
Seketika jiwa kejantanannya meronta menatap tubuh polos dan tingkah polos gadis yang sudah dinikahinya itu.
Tidak ada yang tahu kapan dan dimana mereka menikah, saat itu Harley terpaksa mengesahkan hubungan mereka karena khawatir Ellena akan pergi meninggalkan nya. Usia gadis itu yang masih terhitung muda membuat Ellena seringkali menjadi sasaran pria-pria seusianya, dan Harley tidak akan pernah rela jika gadis kecilnya dimiliki oleh orang lain.
Tepatnya setelah mereka kembali bersama sebelum bertemu kembali dengan Marylin Harley membawa gadis itu ke sebuah Capel dan meminta seorang pemuka agama untuk menikahkan keduanya.
__ADS_1
"Aaakkhh....!"
Ellena terkejut saat dirinya merasakan ada jemari tangan yang mengelus wajahnya, seketika dia membuka matanya dan melihat wajah sendu dari prianya.
"Kau akan menerima hukuman mu mulai malam ini" Harley menarik kedua sudut bibirnya dengan tetap menatap lekat gadis dihadapannya.
Harley tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk melahap habis benda kenyal milik Ellena dan memainkan lidahnya menelusuri setiap inchi rongga mulut nya, sebelum gadis itu kembali berteriak.
Malam itu dinding kamar mandi yang luas itu menjadi saksi bisu dari pertempuran hebat antar dua insan, sang pria melampiaskan kecemburuan nya sementara sang wanita menikmati apapun perlakuan yang diberikan prianya dengan suka cita.
"Kau adalah milik ku dan tetap akan menjadi milikku Ellena..." Bisik Harley di sesi terakhir pergulatan panasnya.
Mereka saling membersihkan tubuhnya sebelum keluar dari kamar mandi tersebut dan tidur, Ellena yang sudah tidak punya sisa tenaga meminta Harley untuk menggendongnya ke atas ranjang.
"Kau harus bertanggungjawab Harley" Keluh Ellena, lalu melingkarkan tangannya dileher pria dingin kesayangannya.
"Aku akan dengan senang hati melakukan nya setiap hari" Kekeh Harley, sambil mengangkat tubuh gadis kecilnya ala bridal.
"Tidak! Aku tidak mau!!"
.
.
.
To be continued
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah
Happy reading 😘🤗
__ADS_1