HARLEY THE SECRET AGENT

HARLEY THE SECRET AGENT
Lokasi Misi : W ( Menyelamatkan Ellena )


__ADS_3

“Selamat siang…Kami keluarga Ellena Davidson, apa kami bisa menemui nona Ellena?” Tanya Harley, sesampainya dia di rumah sakit bersama dengan Ferrari dan Chopper.


“Selamat siang, tuan…?”Tanya sang suster, sambil menatap Harley dan kedua teman wanitanya.


Seorang pemuda tampan mengenakan celana jeans abu-abu dan kaos oblong putih model slim fit berlogokan huruf S yang fenomenal yang membuat otot lengannya makin terlihat sempurna, dan dua orang gadis cantik mengenakan pakaian kasual dengan kaca mata hitam bertengger di hidung mancung mereka hingga menambah kadar kecantikan keduanya pikir sang suster.


“ Alvin Davidson, saya kakak nona Ellena “ Jawab Harley


Sang perawat pun mengantarkan Alvin ke ruang rawat sementara dimana Ellena berasa saat ini, setelah Harley menunjukan kartu identitasnya dan menandatangi surat pernyataan diikuti oleh Ferrari dan Chopper.


“Silahkan tuan, saya akan berada di sana jika anda memerlukan saya” Ucap sang suster ramah, lalu meninggalkan ketiganya bersama dengan Ellena.


Harley melihat seorang gadis tengah duduk sambil memeluk lututnya menghadap tembok, bisa dia pastikan jika gadis itu masih dalam keadaan syok akibat peristiwa yang telah terjadi kepada nya.


“Aku bilang aku tidak tahu apa-apa!” Ucap Ellena, tanpa melihat terlebih dulu siapa yang mengunjunginya kali ini. Gadis ini sudah sangat frustasi dengan kunjungan para petugas polisi yang datang silih berganti dan selalu mengajukan pertanyaan yang sama, apa anda melihat kejadian itu?.


“Ellena..” Ucap Harley


Deg


“Suara itu….Apakah ini mimpi?” Batin Ellena. Perlahan dia melepas pelukannya lalu memutar tubuhnya dan pada saat netra nya melihat siapa pemilik suara yang sedang berdiri dihadapannya, tangisannya seketika pecah.


Ellena menutup wajahnya sambil menangis dan menggelengkan kepalanya, dirinya benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat itu. Harley menghampiri gadis itu dan memeluknya erat, serta mencium puncak kepalanya berkali-kali.


“Sssttt…Kamu akan membuat semua orang mendatangi kamar ini, jika tangisanmu sekeras ini Ellena “ Bisik Harley


“Apakah aku sedang bermimpi saat ini?” Tanya Ellena dalam pelukan Harley, dengan kedua tangan masih menutupi wajahnya.


Harley melepaskan tangan Ellena dari wajahnya, gadis yang dulu begitu polos itu kini sudah menjelma menjadi seorang wanita cantik pikir Harley.


“Kami akan mengeluarkan mu dari sini dan memindahkan mu ke tempat yang aman oke…” Ucap Harley sambil menatap lekat bola mata hazel milik gadis itu, seketika Ellena menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“No…Please jangan bawa aku pergi jauh lagi…Aku mohon” Pinta Ellena sambil menangis.


“Elle…Dengarkan aku dulu, kamu tidak akan aman jika masih berada disini…Lambat laun polisi akan mengetahui identitas aslimu” Bisik Harley, pria dingin ini harus berhati-hati saat berbicara di sana. Dia tidak mau apapun yang keluar dari mulutnya sampai terdengar oleh orang lain.


“Kamu mempercayaiku?” Tanyanya, menatap lekat kembali bola mata indah milik Ellena.


Perlahan tangisan Ellena terhenti, gadis itupun mengangguk pelan. Harley pun kembali membisikkan kata-katanya ditelinga Ellena, tentang bagaimana Ellena harus memanggil dirinya dan kedua teman wanita yang berdiri disampingnya dan apa saja yang harus dia katakan kepada polisi dan petugas medis sebelum akhirnya dia bisa keluar dari rumah sakit itu.


Tak berselang lama dua orang petugas polisi dan satu orang petugas medis mendatangi Ellena, mereka minta ijin kepada keluarga gadis itu untuk dapat meminta kesaksian darinya. Kali ini Ellena menyetujuinya dengan didampingi oleh petugas medis tadi, serta Alvin dan  kedua saudarinya yang tetap setia menunggu diluar ruangan.


Ellena menjelaskan secara detail apa saja yang dia alami sebelum akhirnya penembakan brutal itu terjadi, bagaimana dia bisa selamat dari aksi penembakan, dimana dia bersembunyi dan pada akhirnya berada di ruangan ini saat ini.


Polisi terlihat puas dengan semua keterangan yang telah diberikan oleh Ellena, dia pun memberitahu petugas medis untuk mengijinkan gadis itu agar bisa dibawa pulang oleh pihak keluarganya.


“Terimakasih pak “ Ucap Ferrari saat berpapasan dengan dua petugas polisi tadi.


“Sama-sama nyonya” Jawab salah seorang dari keduanya, lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.


“Ya Tuhan..Aku melupakan temanku Marylin” Ucap Ellena.


“Ellena! Syukurlah kamu tidak apa-apa! Aku sangat mengkhawatirkan mu! Mereka tidak mengijinkan ku untuk menemui mu!” Cecar Marylin dengan suara tingginya.


“Terimakasih Marylin, aku tidak apa-apa sekarang” Ucap Ellena tersenyum getir, lalu memeluk satu-satunya orang terdekat nya saat ini.


Ellena tidak tahu apakah dirinya masih bisa bertemu dengan sahabatnya itu setelah Harley menjemputnya hari ini, karena yang dia tahu jika pemuda itu sudah berkata bahwa mereka akan memindahkannya ke sebuah tempat yang aman, itu artinya identitasnya pun akan berubah.


“Apa kamu tidak akan mengenalkan aku pada keluargamu?” Tanya Marylin tersipu. Dia sudah tidak tahan untuk bisa berkenalan dengan sang dewa tampan dan Dewi-Dewi cantik yang tadi dilihatnya. Pikiran gadis bertubuh semok ini pun sudah melanglang buana sejak tadi, dia bahkan sudah membuat design pakaian yang cocok untuk mereka kenakan nanti.


“Aku Jessie dan ini temanku Laura dan ini Alvin…Kami kakak-kakak Ellena” Ucap Ferrari sambil mengulurkan tangannya, yang tentunya langsung disambut antusias oleh Marylin.


“Dengar Mary…”

__ADS_1


BUM!


TIba-tiba saja sebuah ledakan terjadi dari arah depan gedung, hingga memporak-porandakan seisi ruangan itu. Tubuh Harley dan Ellena terpelanting hingga membentur dinding, dan menyebabkan luka lebam di pelipis keduanya, sementara Ferrari dan Chopper terpelanting dan tubuh yang mendarat di lantai serta Marylin terpelanting hingga tubuhnya membentur lemari kaca.


“Ellena!” Seru Harley, telinga pemuda itu berdengung hebat. Dia berusaha untuk tetap sadar saat dirinya memeluk Ellena yang sudah tidak sadarkan diri.


Sementara Chopper dan Ferrari perlahan terbangun dengan dengungan yang sama ditelinga mereka, lalu mencari keberadaan Marylin sambil memegangi kepalanya.


“Marylin!” Seru Chopper, sambil berjalan terseok-seok mencari keberadaan gadis itu.


“Disini!” Pekik Marylin.


Pada saat Chopper dan Ferrari mendekatinya, kondisi gadis itu telah terluka cukup parah akibat pecahan kaca dibeberapa bagian tubuhnya,dan dengan sisa tenaganya kedua wanita itu menyingkirkan puing-puing yang berserakan untuk bisa menggapai Marilyn.


“Ellena..! Ellena!” Seru Alvin seraya menepuk-nepuk pipi gadis itu, berusaha untuk membuat Ellena tersadar. Sesekali pemuda itu mendekatkan telinganya di hidung serta jantung Ellena, mencoba untuk merasakan hembusan nafas dan mendengarkan detak jantungnya.


“Ya Tuhan…Sadarlah Ellena, aku mohon sadarlah” Batin Harley meronta, dia tidak mau peristiwa Paloma sampai terjadi kepada Ellena.


Harley mulai merasa panik karena gadis itu tidak juga sadar dari pingsannya, ledakkan yang terjadi memang cukup besar. Untung saja mereka masih dalam jarak aman dari radius ledakkan, jika saja Marylin tidak berlari menghampiri Ellena, dan mereka malah berjalan mendekati gadis itu sudah pasti saat ini mereka tidak akan selamat dari ledakan bom itu.


Harley menghela nafasnya, ditatapnya wajah cantik gadis itu, lalu…


.


.


.


To be continue


Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini

__ADS_1


Happy reading 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2