
Tiba didepan pintu dua penjaga menyambut kedatangan mereka dengan anggukan kepala, dan mempersilahkan ketiganya untuk masuk.
“Apa dia sudah datang Bern?” Tanya Lucius, saat mereka berjalan menelusuri lorong menuju aula klub dansa tersebut. Rosie tidak melepaskan pegangan tangannya dari lengan Lucius sama sekali sejak mereka memasuki gedung itu saking takutnya.
“Sebentar lagi mereka tiba, sebaiknya kita bergegas “Jawab Bern, tanpa melepaskan pandangannya dari Rosie.
“Kasian sekali gadis ini, Lucius memang sudah gila “Batin pria berwajah dingin itu.
Banyak dari para gadis yang menyambut kedatangan mereka di sana, bahkan mencoba untuk mendekati keduanya tetapi Bern selalu berhasil menghalau tangan-tangan jahil itu dari dirinya dan Lucius. Sorotan mata tajam pria dingin itu pula yang berhasil mengenyahkan para wanita yang sudah tidak tahan untuk melontarkan kata-kata rayuannya kepada Lucius dan dirinya.
“Kita akan menunggu disini sebentar sayang, tamu daddy sedang dalam perjalanan menuju kemari “Ucap Lucius, saat mereka telah tiba disebuah ruangan VIP. Sementara Bern kembali keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya agar alunan music yang memekakkan telinga itu tidak sampai mengganggu telinga Rosie.
Rosie mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang didominasi oleh warna merah menyala itu sambal bergidik, bayangan ketika sang ayah menculiknya dan menyuruhnya untuk menari erotis saat itu masih terlihat sangat nyata dipikirannya. Sementara sang daddy tengah asik dengan ponselnya.
Tak lama kemudian Bern kembali kedalam ruangan tersebut bersama dengan dua orang wanita cantik dan seorang pria tampan berwajah dingin dengan sorot mata elangnya. Hampir saja Rosie memanggilnya tuan kepada pria tersebut saat mereka bertegur sapa, karena menurutnya pria itu sangat mirip dengan pemuda yang pernah menolongnya dulu.
Tetapi dia urungkan karena ada sedikit perbedaan dari penampilan pria yang duduk dihadapannya saat ini dengan pria yang pernah menolongnya waktu itu, pria tampan berwajah dingin ini memiliki manik mata berwarna biru serta berambut gondrong juga berkumis dan berjenggot cukup lebat. Sementara pria yang pernah menolongnya waktu itu memiliki manik mata abu-abu gelap, berambut pendek juga hanya terdapat rambut-rambut kasar disekitar rahangnya.
“Apa kamu mengenalnya sayang?” Tanya Lucius penuh selidik, setelah dia melihat perubahan pada wajah Rosie.
“Tidak dad..”Jawab Rosie singkat, dia merasa tubuhnya sedikit lemas dan kepalanya pun mulai pusing.
Rosie tidak mengerti dengan apa yang tengah mereka perbincangkan saat ini, dia hanya merasakan hal aneh ditubuhnya setelah dia meminum air soda pemberian daddy nya. Gadis itu berpikir jika demam yang dia rasakan pagi tadi kembali kambuh. Hingga teriakan sang daddy dan asistennya menggema di seluruh ruangan itu.
“Perjanjiannya tidak seperti itu tuan Draco!” Ucap Lucius kesal, karena Draco hanya membayarnya setengah dari harga yang telah disepakati.
“Tuan Lucius, anda belum memberikan semua yang saya pesan…Saya hanya membayar sesuai dengan barang yang saya terima “Ucap Draco, tidak terpengaruh sama sekali dengan teriakan Lucius dan Bern.
“Saya bilang saya akan mengirimkannya setelah kami keluar dari gedung ini” Ujar Bern, tetap dengan pendiriannya.
“Dengan polisi yang saat ini sedang mencari keberadaan kalian, apa itu masih bisa dilakukan tuan Bern?” Tanya nona Moon dengan gaya sensualnya
__ADS_1
“Maksud nona Moon, apa kalian masih bisa memenuhi pesanan kami? Kami sudah mendengar berita itu tuan-tuan” Sambung nona Sky.
Ucapan dari kedua wanita cantik yang mengapit Draco itu terdengar seperti sebuah hinaan ditelinga Bern, tentu saja pria yang terkenal sadis itu tidak terima dan langsung mengeluarkan senjata apinya lalu mengarahkan moncong senjatanya itu ke arah Draco.
“Serahkan semua uang itu atau akan aku bunuh dia!’ Ancam Bern
Bersamaan dengan itu diluar ruangan tersebut tengah terjadi keributan, saat polisi tiba-tiba saja datang untuk melakukan penggerebekan. Sontak keadaan didalam ruangan itu pun semakin memanas saat Bern dan Lucius menyaksikan keributan itu melalui jendela kaca besar disana.
“Kau telah menipu kami Lucius!” Teriak Draco, tidak terima dengan ancaman Bern.
“Kau yang telah menipu kami brengsek!” Ucap Bern, lalu mengokang senjata apinya bersiap untuk menekan pelatuk dibelakang telunjuknya.
Hal tersebut memicu efek domino dimana semua orang mengeluarkan senjatanya dan mengarahkan senjata itu kehadapan orang-orang yang tengah berdiri dihadapan mereka.
“Dad…Apa yang telah terjadi?” Tanya Rosie lemas, keringat dingin telah membasahi kening dan leher gadis polos tersebut.
Melihat keadaan Rosie, bukannya prihatin Lucius malah terlihat bangga.
Dor!
Dor!
Dor!
Bern melepaskan tembakannya ke arah Draco, hingga membuat tembakan pria dingin itu meleset saat dia melepaskan tembakannya ke arah Lucius. Sementara dirinya dihujani tembakan oleh Moon dan Sky hingga membuat pria itu langsung mati bersimbah darah. Tembakan Bern hampir mengenai jantung Draco, sementara tembakan Draco tepat mengenai ulu hati Lucius hingga membuat pria itu terkapar dan memuntahkan banyak darah.
“Rosie..!” Seru Harley, dia bergegas menghampiri Rosie tanpa memperdulikan rasa sakit di bahunya. Gadis itu tengah menggigil sambil menggigit lengan bajunya.
“Sepertinya dia dalam pengaruh obat perangsang Har, kita harus segera membawanya pergi dari sini” Ucap Ferrari
“Kosongkan jalan!” Titah Chopper kepada seseorang melalui alat komunikasi yang tersemat di telinganya.
__ADS_1
.
.
“Kita harus merendam tubuhnya dengan air es Har!” Ujar Chopper, sambil membuka lemari es sementara Ferrari bergegas menuju kamar mandi untuk mengisi bathtub dengan air dingin.
“Buka pakaiannya” Pinta Chopper setelah Harley menaruhnya di ranjang, sementara dirinya membawa satu kantong plastik es batu ke kamar mandi. Tanpa pikir panjang Harley pun melucuti pakaian Rosie dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja lalu membopong tubuh gadis itu menuju kamar mandi lantas menaruhnya dengan hati-hati kedalam bathtub yang telah diisi air dingin dan es batu.
“Tuan..tolong aku” Gumam Rosie dengan mata yang tertutup rapat dan tubuh yang menggigil.
Harley tersenyum getir mendengar Rosie yang bergumam seraya memanggil namanya. Meski gadis itu menyebut hanya nama tuan, tetapi Harley tahu jika panggilan itu ditujukan kepadanya.
“Maafkan aku Rosie..” Seketika penglihatan Harley memudar.
Chopper menemukan tubuh Harley yang terkapar di samping bathtub dimana Rosie saat itu berada, ketika dirinya memasuki ruangan itu berniat untuk memeriksa keadaan keduanya. Dia berteriak memanggil temannya Ferrari untuk segera menolongnya memindahkan tubuh Harley yang bersimbah darah di sana.
Secepat kilat Ferrari merobek pakaian Harley, dia bersama dengan Chopper bahu membahu mengeluarkan peluru yang bersarang di bahu teman prianya tersebut.
Bekerja sebagai agen rahasia menuntut keduanya untuk bisa menangani hal sesulit apapun, termasuk mengeluarkan peluru dari tubuh seseorang seorang diri. Dan hal seperti ini bukanlah hal yang baru bagi mereka.
.
.
.
To be continued
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah 😊😊😊
Happy reading 🤗 🤗🤗
__ADS_1