
Ellena bergegas memasuki mobil dimana Tonny sedang menunggu nya.
"Apa suaranya terdengar dengan jelas? Aku menaruhnya di tengkuk nya" Ucap Ellena, lalu menutup pintu mobil dan memasang tali pengaman kursi nya.
"Sangat jelas sayang..." Harley mencium bibir gadisnya itu sekilas.
"Seseorang telah menghubungi nya, dan meminta nya untuk datang ke tempat ini" Jawab Harley sambil menunjuk letak lokasi yang harus Mary datangi di layar GPS nya.
"Lalu...Apa yang dia minta dari Mary?"
"Dia meminta semua surat-surat berharga milik keluarga Alexander, temanmu itu sedang menghubungi pengacara nya saat ini" Harley menajamkan pendengarannya, dia juga meminta Ellena untuk diam sejenak.
"Ya Tuhan! Apa yang akan terjadi nanti? Bisa-bisa Mary hidup di jalanan setelah ini" Ellena menghela nafasnya berat.
"Jangan khawatir sayang, yang dia hubungi bukan pengacara nya...Rumius sudah menangani masalah yang satu ini, Kita harus pergi secepat" Ucap Harley, lalu menunjuk seseorang yang tengah asik mengotak-atik mesin mobilnya dengan gerakan kepalanya.
Ellena memahami maksud isyarat dari prianya itu, orang yang sedang berpura-pura mengotak-atik mesin mobilnya adalah orang suruhan Rumius. Dia yang akan memberi tahu mereka informasi terkini tentang Marilyn.
Harley mengarahkan kemudinya menuju lokasi dimana mereka akan bertemu, dia harus tiba lebih dulu ditempat itu dan bersiap untuk melakukan aksinya.
Tak berselang lama Harley mendapatkan informasi bahwa Marilyn baru saja meninggalkan apartemen nya.
Sementara ditempat lain Rumius baru saja menerima file untuk dia kirim kepada seseorang yang telah menghubungi nya tadi, seorang gadis yang meminta dirinya untuk mengirimkan kopian berkas-berkas berharga milik keluarga nya.
"Kejeniusan nya dia dapatkan dari mendiang ayahnya" Kekeh Rumius saat dirinya melihat hasil karya Viper.
Bocah jenius itu membuat surat-surat yang sangat mirip dengan aslinya, bahkan boleh dibilang asli tapi palsu saking miripnya.
Rumius kembali menerima panggilan telepon dari Marilyn, gadis yang mengira bahwa dirinya adalah pengacara keluarga nya. Rumius telah menyadap telepon seluler milik gadis itu sejak semalam, ketika tim nya sedang mencari informasi lengkap berkenaan dengan keluarga Alexander.
__ADS_1
"Tuan Kim, apa semuanya sudah siap? Aku sedang menunggu kedatangan mereka" Marilyn terdengar sangat gugup ketika menghubungi Kim Bonett sang pengacara.
"Sudah siap nona Mary, beritahu saya jika mereka sudah tiba" Jawab pengacara Kim
"Baik tuan Kim, terimakasih karena telah menjadi pengacara kami selama ini tuan" Isak Mary.
Rumius dapat merasakan ketakutan dan kesedihan mendalam dari gadis ini, Marilyn bahkan tidak menyadari sebesar apa masalah yang sebenarnya telah menunggu dirinya di sana.
"Hallo Mary sayang...Aku tidak mengira ternyata selain pintar keberanian mu boleh juga" Kekeh Jason.
Mary hanya mendengar suara pria itu melalui alat pengeras suara yang ada didalam salah satu ruangan di gedung tua tersebut, gadis itu harus menelusuri lorong gelap dan menaiki tangga tua didalam sana sebelum menemukan ruangan yang dimaksud oleh Jason tadi.
Selama perjalanan pria itu mengirimkan pesan singkat kepadanya, dia memberi tahu Mary kemana dan dimana dia harus berada saat ini.
"Dimana orang tua ku Jason?!" Pekik Mary, dia tahu pria itu pasti sedang melihat bahkan mendengarkan suaranya di suatu tempat.
"Tenanglah, kau akan menemui mereka nanti sayang... Sebentar lagi akan ada seseorang yang datang kepadamu, kau tunggu saja " Kembali Jason terkekeh, dan entah kenapa suara tawa dari pria itu mendadak membuat begitu Mary mual.
"Sepertinya kau tidak dalam kondisi yang bisa mengancam ku Mary, tetapi sebaliknya jika kamu berani menipu ku maka kau akan tahu akibatnya"
"Ha...Ha ..ha... Lihat siapa yang berbicara, kau bilang aku menipu? Sepertinya kau sedang mengatai dirimu sendiri Jason atau siapapun itu nama mu" Mary berjalan mengelilingi ruangan itu, berharap dia bisa mengecoh Jason agar pria itu tidak mengetahui jika sebenarnya dirinya sedang sangat takut saat ini.
"Sepertinya ocehan mu itu sudah saatnya aku bungkam gadis sialan! Kau tahu aku bahkan harus bersabar menghadapi mu dulu" Jason mulai terdengar kesal setelah Mary menggertak nya.
"Oia? Dan apa kau tahu jika aku sudah muak dengan tampang mu yang sok ganteng itu sejak dulu...Kau tidak ada apa-apa nya Jason, bahkan tukang kebun di rumahku lebih tampan darimu!"
Jason tidak membalas perkataan Marilyn, tetapi saat Mary kembali akan menggertak Jason tiba-tiba dua orang pria memasuki ruangan itu. Mereka menaruh sebuah laptop lalu menyalakan nya, dan meminta Mary untuk melakukan transaksi perbankan sekaligus mengirimkan kopian semua berkas berharga milik keluarga nya.
"Semoga kau membusuk di neraka Jason" Gumam Mary saat dia dengan terpaksa mentransfer seluruh isi rekening milik keluarga nya ke nomor rekening milik seseorang yang belum pernah dia ketahui.
__ADS_1
Mary tersenyum kecut saat menyadari bahwa Jason yang sombong itu ternyata hanya suruhan belaka, jika memang dia adalah dalang dari aksi pemerasan sekaligus penculikan itu lalu kenapa Mary harus mentransfer uang tersebut ke nomor rekening orang lain pikir gadis itu.
Setelah selesai dengan urusan nya dengan Marilyn dan yakin bahwa semua transaksi telah benar-benar berhasil, kedua pria tadi meninggalkan Mary dan mengunci pintu ruangan itu dari dalam. Ini membuat Marilyn panik bukan main, apa lagi yang akan dilakukan oleh pria brengsek itu pikirnya.
Mary berteriak memanggil dan mengutuk Jason atas perbuatannya, dia bahkan terus memaki pria itu hingga lampu didalam ruangan itu tiba-tiba mati dan seseorang mendobrak pintu lalu membekap mulutnya hingga dirinya tidak sadarkan diri.
"Bawa dia secepatnya sebelum mereka menyadari situasi yang sebenarnya!" Titah Rumius sebelum Harley tiba di lokasi dan menempati posisi nya.
Pria dingin itu harus menunggu hingga kedua pria tadi meninggalkan ruangan dimana Marilyn berada saat itu, dia juga meminta kepada Ellena untuk menekan sebuah tombol untuk mematikan daya listrik di gedung tersebut sebelum akhirnya Harley membawa Marilyn keluar dari ruangan itu.
"Kau membuat nya pingsan?!" Ellena terkejut saat Harley membawa tubuh Mary yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Aku tidak bisa mengambil resiko temanmu ini berteriak-teriak sepanjang jalan sayang, resikonya terlalu besar" Jawab Harley, lalu secepat mungkin meninggalkan tempat itu.
"Lalu, akan kita bawa kemana dia?" Ellena memandangi sahabat nya lewat kaca cermin.
"Ke rumah kita saja Elle, aku akan menempatkan beberapa penjaga di sana nanti" Harley memperlihatkan jalan lewat kaca spionnya, beruntung para penjahat itu belum juga menyadari aksinya.
Harley dengan terpaksa harus mengawasi keduanya dari kejauhan, resiko untuk Marilyn mengenalinya lebih besar jika dirinya tinggal bersama dengan mereka dirumahnya.
.
.
.
To be continued
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah 😊🤗🤗😘
__ADS_1
Happy reading 🤗🤗🤗🤗