HARLEY THE SECRET AGENT

HARLEY THE SECRET AGENT
Lokasi Misi : O


__ADS_3

Krak!


Krak!


Krak!


Rosie terbangun dari tidur lelapnya karena terganggu oleh suara-suara aneh dari luar jendela kamarnya, gadis itu pun memberanikan diri untuk beranjak dari ranjangnya dan melangkahkan kakinya menuju jendela dan secepat kilat membukanya.


" Huuffthh...ternyata cuma ranting pohon " Gumamnya, lalu menutup kembali jendela kamar tersebut lalu memutar tubuhnya untuk kembali ke ranjangnya. Tetapi sepasang tangan kekar membekap mulutnya dan menarik tubuhnya lalu menyeretnya keluar dari ruangan itu.


Rosie sempat memberikan perlawanan dan menimbulkan kegaduhan di sepanjang jalan menuju masuk masuk, hingga membuat salah satu vas bunga di atas meja terjatuh sebelum dirinya lemas dan jatuh pingsan akibat obat bius yang telah dibubuhkan di atas kain yang digunakan untuk membekap mulutnya.


PYAR!


Lorie yang terkejut langsung terbangun mendengar suara pecahan kaca yang dia dengar diluar kamarnya, secepat kilat wanita itu beranjak dari ranjangnya dan berlari menuju sumber suara.


" Rosie!" Pekik Lorie, saat dirinya melihat sang putri yang sudah terkulai lemah ditangan seorang pria misterius.


Dor!


Dor!


Dua timah panas berhasil mengenai dada wanita itu dan membuatnya jatuh terkapar.


" Kenapa kamu tidak membunuhnya dari tadi brengsek!" Ujar pria bertopeng yang memegangi tubuh Rubby.


" Sorry bos.." Ucapnya, lalu melihat dadanya sendiri. Seketika darah mengucur dari mulutnya saat sebuah anak panah menghujam hingga menembus dadanya.


Sleb!


" Hei! Siapa di sana!" Pekik pria bertopeng itu sambil mengarahkan moncong senjatanya ke sembarang arah.


" Tunjukan siapa dirimu brengsek! " Lanjutnya, lalu menembakkan senjatanya hingga membuat hancur seisi ruangan.


Sleb!


Satu anak panah berhasil menembus pistol dan tangannya, pria bertopeng itupun melepaskan tubuh Rosie yang sedari tadi dijadikan tameng untuk melindungi tubuhnya.


" AAkkhhh!!! Kurang ajar! " Pekiknya sambil memegangi tangannya.


Mendengar keributan yang terjadi, sisa komplotan yang ada pun memasuki rumah tersebut sambil menodongkan senjatanya ke sembarang arah. Salah satu dari mereka memerintahkan dua temannya untuk membawa tubuh Rosie ke dalam mobil van merah yang telah terparkir di depan rumah.


Dor!


Dor!


Dor!


Salah satu dari tiga orang yang memasuki ruangan tersebut melancarkan tembakannya ke seluruh ruangan, sementara dua orang sisanya menelusuri setiap sudut ruangan yang tersisa.


Sleb!


Sleb!


Sleb!

__ADS_1


Tiga anak panah melesat dan mengenai bagian-bagian tubuh ketiganya, hingga membuat mereka mati seketika.


" Hello boys " Sapa Chopper dan Ferrari sambil menodongkan senjatanya, saat kedua orang yang membawa tubuh Rosie tadi membuka pintu belakang mobil mereka.


Dor!


Dor!


Dua timah panas melumpuhkan mereka seketika, tetapi tidak membuat mereka langsung mati. Kedua gadis itu masih membutuhkan keterangan dari keduanya mengenai lokasi dimana mereka menyekap para gadis dan memproduksi narkoba tuannya juga letak gudang senjatanya.


Chopper dan Ferrari pun menarik tubuh keduanya masuk kedalam mobil, bersamaan dengan keluarnya Harley dari dalam persembunyian lalu meraih tubuh Rosie dan meletakkannya di jok depan mobil.


Harley melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat, sementara kedua gadis tengah asik menginterogasi dua pria tadi dengan gaya khasnya.


Tiba di rumah sakit, Harley membopong tubuh Rosie masuk kedalam ruang gawat darurat dan menaruhnya di ranjang sambil berteriak meminta pertolongan. Secepat kilat tim medis yang tengah berada di sana menolong Rosie, sementara Harley diam-diam keluar dari ruangan itu menuju mobil dan melanjutkan kembali misinya.


" Aku akan kembali lagi nanti Rosie..." Batin Harley.


" Apa kalian sudah mendapatkan informasinya?" Tanya Harley, sambil menginjakkan kakinya di pedal gas dan mengarahkan kemudinya membelah keheningan malam.


" Sudah Har " Jawab Chopper, lalu mencabut kembali pisau-pisau kecilnya dari dada dua pria yang telah mereka sekap tadi.


" Dimana lokasi Lucius dan Bern saat ini ?" Tanya Harley kepada kedua orang teman wanitanya sambil memakai penutup kepalanya. Saat ini mereka telah tiba di gudang penyimpanan senjata sekaligus tempat Lucius dan Bern memproduksi barang haramnya dan menyekap para wanitanya.


" Mereka masih di club house milik Robinson dengan para gadis " Jawab Chopper, dia pun mulai mengenakan penutup di wajahnya.


" Apa kalian sudah siap?" Tanya Harley kepada keduanya, yang dijawab oleh anggukan kepala Ferrari dan Chopper.


Sementara di dalam gudang.


Satu per satu para penjaga bersenjata api mulai di lumpuhkan secara diam-diam, jika Harley beraksi dengan meluncurkan anak-anak panahnya tepat di jantung dan kepala para penjaga itu, maka Ferrari menembaki mereka dari kejauhan dengan senjata laras panjangnya dan Chopper melumpuhkan mereka dengan pisau dan pedangnya. Harley dan Chopper pun meletakkan bom di titik-titik tertentu, untuk menghancurkan gedung itu hingga rata dengan tanah.


" Huh!" Keduanya menghela nafas panjang sambil menyapu darah yang keluar dari sudut bibir mereke masing-masing, bersamaan dengan jatuhnya ke empat penjaga tinggi besar itu.


Keduanya pun mulai mengevakuasi para gadis setelah Chopper berhasil membobol kunci sel besi tempat mereka dikurung bersama, lewat pintu belakang dimana sebuah mobil bus sekolah telah menunggu mereka di sana.


Masuk lagi kedalam dari gedung Harley dan Chopper menembaki para penjaga yang berada di ruangan dimana mereka memproduksi barang haram milik Wolf Gang bertubi-tubi hingga memporak-porandakan barang-barang yang ada di sana sekaligus melumpuhkan para penjaga tersebut.


Tak lama kemudian...


BUM!!!


Ddrrtttt....ddrrrtttt....


Bern meraih ponselnya yang tidak berhenti bergetar, dia tengah asik menemani Lucius bersama dengan para wanita malam yang sedang memaksa tiga orang gadis untuk menari erotis dihadapan mereka.


" APA?!" Pekiknya. Bern langsung menghentikan aksi para wanita yang tengah asik menjamah seluruh bagian tubuh polosnya, dia bahkan menendang tubuh wanita yang tengah asik mengasah golok saktinya.


" Bernard! Jangan gila kamu...!" Bentak Lucius, sambil menarik rambut wanita tadi dan menyuruhnya melakukan hal yang sama terhadap benda pusaka nya.


" Lucius! Seseorang menghancurkan gudang milik kita!" Pekik Bernard saat dirinya sudah mengakhiri panggilan teleponnya.


Dor!


Dor!

__ADS_1


Dor!


Bernard menembakkan senjatanya ke langit-langit ruangan untuk membubarkan para wanita yang terus saja menjamah tubuh Lucius, pria sadis itu pun menebak wanita yang tengah asik mengasah golok sakti milik pria hyper tersebut.


" Kau dan wanita mu itu Lucius!" Keluh Bern, lalu memakai kembali pakaiannya dan bergegas menuju gudang yang kini sudah hampir rata dengan tanah.


" Apa yang akan kita berikan pada Draco besok malam Lucius?? Kita sudah hancur! " Teriak Bern saat mereka sudah berada tak jauh dari lokasi, dan menyaksikan gedung yang hanya tinggal puing-puingnya saja itu dari kejauhan.


Mereka tidak bisa mendekati lokasi gedung mereka itu karena polisi dan awak media sudah berada disana.


" Brengsek! Cari tahu siapa yang telah berani berbuat ini Bern dan habisi dia!" Pekik Lucius, sementara Bern kembali mendapatkan panggilan dari salah satu pengawalnya.


" Sepertinya pelakunya adalah orang yang telah menyelamatkan anak gadismu Lucius " Jawab Bern, sambil melajukan mobilnya, kali ini tujuannya adalah rumah sakit dimana Rosie berada


.


.


" Sayang...Maafkan daddy...Daddy datang secepat mungkin " Ucap Lucius saat dirinya tiba di ruang rawat inap Rosie, lalu memeluk putrinya angkatnya itu.


" Dimana mommy ku dad?" Tanya Rosie sambil menangis di pelukan Lucius. Rosie masih syok dengan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya belum lama ini.


" Maafkan daddy Rosie, mommy mu...." Lucius menghentikan kalimatnya, pria itupun menangis sambil memeluk tubuh sang putri dan mengelus punggungnya.


" Apa kamu melihat siapa yang telah menolong mu Ros? Daddy ingin berterimakasih kepadanya karena telah menyelamatkanmu " Tanya Lucius sambil menatap lekat netra indah milik putri angkatnya itu.


" Aku tidak tahu dad, aku sudah tidak sadar ketika pria itu menolongku...TIba-tiba saja aku ada disini " Rosie kembali menangis.


Belum lama ini dia diculik oleh ayah kandungnya sendiri untuk dijadikan wanita penghibur, dan sekarang ini penculikan itu terulang kembali, Tiba-tiba saja dia merindukan Harley, pria yang telah menolongnya saat itu.


" Oke sayang...Sebaiknya kita pulang sekarang, daddy sudah menyuruh asisten daddy untuk mengurus kepulangan mu " Ucap Lucius lalu mencium kening Rosie, yang seketika membangunkan naluri kejantanannya.


Lucius beranjak dari kursinya untuk mengambil segelas air minum untuk anak gadisnya itu, lalu pamit keluar untuk menemui sang asisten setelah memberikan gelas berisi air mineral itu kepada Rosie.


" Huffhhhh..." Keluh Lucius sambil menyeka keringatnya dengan punggung tangannya.


" Jangan bilang kamu pun akan memakan putri angkat mu itu Lucius " Ucap Bern dingin dan datar, pria sadis ini telah menyaksikan interaksi antara ayah dan putri angkatnya ini dari balik celah pintu.


" Kita akan memberikannya kepada Draco Bern, andai saja pria angkuh itu mau menerima barang bekas, sudah pasti aku akan memakainya terlebih dulu " Kekeh Lucius, sambil menepuk pundak orang kepercayaannya tersebut.


Lucius membawa Rosie pulang setelah mendapatkan surat ijin dari rumah sakit, pria yang sudah dianggap ayah oleh Rosie itu membawa puti angkatnya ke sebuah hotel dengan dalih karena rumahnya masih dalam proses pihak kepolisian.


" Kamu tidur disini, daddy akan tidur di kamar sebelah oke " Pinta Lucius, lalu mengecup kening Rosie sebelum dia meninggalkannya di kamar hotel lalu menguncinya dari luar.


Sementara aksi Lucius dan Bern diam-diam tengah diawasi oleh tiga pasang mata melalui layar CCTV yang telah mereka retas sebelumnya.


" Satu helai saja rambutnya kau sentuh, maka aku akan membunuhmu saat ini juga Lucius " Batin Harley


.


.


.


To be continue

__ADS_1


Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah


Happy reading


__ADS_2