
"Aaaarrrhhhhh!!!"
Pekikan Harley berhasil menembus dinding pemisah ruangan hingga keluar pintu masuk ruangan bersalin tersebut, ketika Ellena yang tanpa sengaja menarik bulu di dada nya saat istri kecilnya itu mengejan untuk terakhir kalinya atas arahan dari dokter Christy.
"Selamat tuan Harley, bayi laki-laki anda lahir dengan sehat" Ucap wanita itu dengan kedua tangan memegangi kaki bayi kecilnya itu, hingga posisi kepala nya saat ini berada dibawah tubuhnya.
"Hei! Hati-hati! Itu bayiku tahu!"
Christy menyerahkan bayi tersebut kepada seorang suster yang tentunya berjenis kelamin perempuan, agar dia segera membersihkannya lalu meletakkan nya di dada ibunya.
Melihat peluh yang membasahi sekujur tubuh Ellena, serta perjuangan selama dirinya hamil hingga melahirkan saat ini membuat pria dingin itu tak kuasa lagi menahan tangis haru nya. Harley memeluk dan menciumi istri kecilnya dengan penuh kasih sayang.
"Terimakasih sayang.... Terimakasih..."
Hilang sudah rasa perih disekitar tubuhnya akibat cakaran kuku jari Ellena, bagi Harley itu tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan pengorbanan Ellena ketika melahirkan buah hatinya ke dunia.
"Permisi tuan Harley, kami harus melakukan satu lagi prosedur terakhir kepada istri anda" Seorang suster wanita, rekan dari suster wanita yang mengambil bayi mereka tadi menghampiri Harley.
"Apalagi yang akan kamu lakukan terhadap istri ku?!" Harley menatap Christy yang saat ini tengah mempersiapkan sebuah benda mirip dengan jarum untuk menjahit hanya saja bentuknya melengkung diantara kedua kaki Ellena.
"Aku akan merapihkan kembali sarang burung mu tuan Harley" Jawabnya asal, sejak tadi dia sudah menahan kesal akibat perbuatan tiga mahluk aneh yang sudah memulangkan semua tim medis berjenis kelamin laki-laki dari rumah sakit nya, jadi dia pikir kenapa tidak membuat Harley panik sekali lagi sebagai balasannya.
"Apa! Hentikan! Kau akan membuat nya kesakitan dengan benda itu!" Harley tidak bisa membayangkan akan ada benang yang akan merusak benda paling indah dalam hidupnya, sungguh pemandangan yang buruk nantinya pikirnya.
Dengan santai Christy memulai prosedur terakhir dalam persalinan Ellena tanpa mengindahkan semua perkataan suami pasien nya itu, dia akan berterimakasih kepadanya nanti jika sudah tahu khasiatnya.
"Hentikan! Aku bilang hentikan!" Harley semakin panik karena Ellena mulai meringis menahan sakit pada bagian sensitifnya.
"Satu lagi...daaaan selesai" Christy mengacungkan tangannya yang masih memegang jarum melengkung tersebut, lalu menggunting ujung benang di dekat areal pribadi Ellena dan menaruh semua alat yang dipakainya kedalam sebuah wadah steril.
Senyuman puas menghiasi wajah cantik dokter tersebut karena telah berhasil membuat Harley panik dan tak hentinya berteriak, hingga menjadi hiburan tersendiri baginya serta seluruh rekannya yang ada didalam ruangan tersebut.
"Elle sayang ..Apa kamu baik-baik saja? Apa masih terasa sakit?" Sepanjang jalan menuju kamar rawat inap tak hentinya Harley mencecar Ellena dengan pertanyaan yang sama kepada istri kecilnya itu, hal ini membuat Charlie dan Emir saling menatap mata.
__ADS_1
Bukankah bayi mereka sudah lahir? Kenapa bocah ini masih mempertanyakan hal itu kepada Ellena? Kira-kira itu yang menjadi pertanyaan dalam pikiran Charlie dan Emir saat ini.
"Aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir" Jawab Ellena, dan itu merupakan jawaban yang sama yang terlontar dari mulutnya setiap kali Harley menanyakan hal yang sama kepada nya.
Emir memutuskan untuk mencari tahu lewat dokter Christy, apa yang menyebabkan keponakan nya itu menanyakan hal yang sama terus menerus kepada istrinya.
"Dia telah menyaksikan proses perbaikan pada sarang burung milik nya" Jawab Christy asal, sambil menatap bagian bawah tubuhnya sendiri.
Emir terdiam seketika, apalagi saat dokter cantik itu memperagakan bagaimana kepala bayi yang keluar dari sebuah lubang yang sangat kecil dan kemungkinan kerusakan yang akan terjadi disana. Dan dengan sengaja Christy pun memperagakan bagaimana cara dia memperbaiki sarang burung yang telah terkoyak.
Tanpa berkata sepatah katapun Emir memutar tubuhnya, lalu berjalan meninggalkan Dokter gila itu dan masuk kembali ke ruangan rawat inap dimana Ellena serta bayinya berada saat ini dengan wajah yang pucat pasi.
"Kau baik-baik saja?" Charlie mengerutkan keningnya saat keponakan nya itu mendudukkan dirinya secara perlahan di atas sofa, dan hanya mengangguk kepadanya.
"Kau seperti sudah melihat hantu Emir, lihat wajahmu!" Lanjut Charlie ketus, lalu kembali pada cucunya.
"Arthur Lewis Davidson" Ucapnya sambil tersenyum dikala dirinya memindahkan bayi mungil tersebut kedalam pangkuannya. Pria tua tampan itu merasa dirinya telah mengulang kembali kebahagiaan nya dulu dikala menyambut kelahiran putra semata wayangnya Harley, bahkan lebih.
"Sayang...Katakan padaku jika kau merasa sakit disana" Ucapnya lirih, sambil mengelus tangan Ellena.
"Tolong panggilkan suster sayang, aku mau pipis" Pinta Ellena, istri kecilnya itu meringis menahan sakit ketika dia mengubah posisi nya.
"Apa?!! Pipis?!! Bisa kamu tahan saja sayang? Bagaimana kalau basah? Bukannya akan terasa lebih sakit?!" Dan panik pun kembali menyerang, bukan hanya Harley tetapi Emir!
"Apa?! Pipis katamu?!!" Emir menekan tombol hijau yang ada didekatnya hingga berkali-kali, dia masih ingat dengan peragaan dokter Christy tadi dan sudah mulai mengira jika Ellena pasti akan sangat tersiksa.
Saat tubuh Emir terluka akibat sayatan senjata tajam atau tertembus peluru, dia akan rela untuk tidak tersentuh air selama beberapa hari karena dia tahu lukanya akan terasa sangat perih ketika bersentuhan dengan air. Dan menurut nya itu merupakan luka yang sangat kecil dibandingkan dengan luka yang diderita oleh Ellena saat ini.
"Ada apa dengan kedua bocah sialan ini?" Gumam Charlie, dia masih menggendong cucu kesayangannya sambil duduk di sofa tunggal didekat ranjang Ellena.
Charlie menatap kedua mahluk berbeda kutub itu secara bergantian, keduanya tidak juga diam dan berjalan mondar-mandir sambil menunggu kedatangan suster dengan was-was.
"Apa salahnya dengan buang air kecil? Bukannya itu normal?" Kembali Charlie bergumam, kali ini berhasil tertangkap oleh Harley dan Emir.
__ADS_1
"Diam!" Ucap keduanya serempak.
"Oke...Aku diam" Balas Charlie, lalu kembali kepada cucu kesayangannya.
"Kenapa lama sekali!!" Harley menatap pintu masuk kamarnya, benda itu masih berdiri tak bergeming ditempat nya.
Ceklek
"Pemi....."
"Cepat bantu dia!!" Lagi-lagi Harley dan Emir mengucapkan nya secara bersamaan.
Tanpa ingin berkata lagi sang suster pun membantu Ellena untuk menuntaskan hajatnya, dia pun menuntun Ellena turun dari ranjangnya dengan sangat hati-hati menuju kamar mandi dan menunggu nya hingga selesai sambil memberikan arahan agar proses pengeluaran cairan tersebut tidak menemui kendala yang serius.
"Terimakasih suster"
"Bagaimana sekarang sayang? Apa masih sakit? Apa ada yang terlepas?"
Seketika bola mata Charlie terbelalak sempurna saat melihat sang anak yang seperti sedang mencari sesuatu di bagian bawah tubuh menantu kecilnya, sepeninggal sang suster. Untuk saja posisi duduknya saat ini berada di samping Ellena, sementara Emir tengah sibuk mencari sesuatu untuk menutupi pandangan nya.
Pletak!!
.
.
.
To be continued
Hai kakak-kakak terimakasih telah meninggalkan jejak kalian disini yah
Happy reading 🤗😘
__ADS_1